Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Alpha Eden

Alpha Eden

Megan terjebak dalam misi mengungkap misteri kematian kakaknya, Helena, sepuluh tahun silam. Berbekal sebuah buku catatan, ia menuju Jazmore namun justru terlempar ke masa lalu, tepatnya tahun 1945. Di tengah hutan belantara, Megan bertemu Alpha Eden, penguasa werewolf yang kuat. Kini, ia harus menghadapi sihir dan kutukan sembari menerima takdir sebagai pasangan sang Alpha. Berhasilkah Megan membongkar rahasia Helena dan kembali ke tahun 2010 dengan selamat?
Bab
Bagikan

Bab 3

Perlahan bola mata Megan bergerak meski masih terpejam. Sebuah suara lonceng bergema membuatnya tersentak hingga membuka spontan matanya. Namun mata itu segera terbelalak begitu melihat dua pasang mata lainnya tengah menatapnya saat ini.

Selain itu, Megan bisa merasakan seluruh tubuhnya yang basah. Ia perlahan mencoba bangkit dari posisinya yang saat ini tengah berbaring. Begitu berdiri tegak, ia mengedarkan matanya ke sekeliling tempat itu.

Masih sama, ada sumur di mana Megan berdiri di atasnya. Namun anehnya, penampakan sumur tersebut jauh dari sebelumnya yang penuh dengan lumut, kusam bahkan beberapa bagian telah retak.

Kali ini Megan melihat sumur itu seolah terawat dan ketika berjalan mendekatinya, airnya tidak membeku. Ia melongo tidak percaya, terlebih lagi ada bangunan kecil di samping sumur itu. Padahal seingatnya hanya ada pepohonan yang daunnya telah berguguran.

"Siapa kalian?" tanya Megan pelan.

Perhatian Megan teralihkan ke dua orang yang tadi dilihatnya ketika masih berbaring. Kedua orang berbeda jenis kelamin itu menatap heran dan curiga kepada Megan. Namun satu hal yang ditangkap wanita itu adalah cara berpakaian dari kedua orang tersebut.

Megan melihat sang wanita memakai gaun yang menampilkan siluet bentuk tubuh jam pasir yang ditutupi jaket, lalu dipadupadankan dengan sepatu hak rendah, lengkap dengan kaus kaki dan sarung tangan yang dipakainya. Sedangkan sang pria yang usianya sudah paruh baya yang memakai jas kulit panjang dan memakai topi.

"Siapa kau Nona?" tanya pria tersebut kepada Megan.

Megan bisa menangkap bahasa Norsk yang digunakan pria itu. "Apakah ini Dasford?" tanyanya dengan jari telunjuk menghadap ke bawah. Ia mencoba mengingat di mana terakhir kali dirinya berada. Pasalnya apa yang dilihatnya beberapa jam yang lalu kini sangat berbeda di matanya saat ini. Setidaknya langit telah gelap, tidak seperti dalam ingatannya bahwa matahari masih bersinar, meski langit cukup mendung karena salju yang turun. Dan ia baru menyadari bahwa tidak ada salju di tempatnya berdiri.

"Ya, ini Dasford dan apa yang kau lakukan di hutan Jazmore?" Kali ini sang wanita yang bertanya sambil menatap lekat Megan terutama cara Megan berpakaian yang cukup asing di matanya.

"Aku berjalan-jalan dari hotel setelah perjalanan dari Inggris," balas Megan dalam bahasa Norsk juga.

Mata wanita dan pria itu menjadi terbelalak. "Britania Raya?"

Megan mengangguk pelan. "Ya, tapi kenapa tidak ada salju?"

Kedua orang tersebut kembali terkejut. Namun kemudian tertawa pelan.

"Bagaimana mungkin ada salju? Sekarang masih maret, bunga-bunga masih bermekaran," balas wanita itu.

Kali ini Megan yang terperanjat mendengarnya. "Apa? Bukankah seharusnya desember?"

Sang wanita dan pria saling menatap satu sama lain, sebelum memandang Megan. Mereka tidak bisa memungkiri keanehan terhadap diri Megan.

Megan memejamkan matanya sekilas, lalu menarik napas dan menampar wajahnya sekali. Ia yang kembali membuka matanya, kemudian masih melihat kedua orang tersebut.

"Sial, ini bukan mimpi?" gumamnya dengan bahasa Inggris.

"Apakah dia sakit?"

"Atau mungkin gila?"

Megan mendengkus pelan mendengar pernyataan kedua orang itu. "Baiklah, jika ini desember, sekarang tahun berapa?" Ia telah memikirkan beberapa teori aneh dan gila di kepalanya. Terutama melihat cara penataan rambut wanita di depannya yang mengembang dan ditutupi oleh topi. Sedikit mengingatkannya akan Audrey Hepburn.

"Apa Nona lupa ingatan?" tanya pria memandang gugup dan cemas kepada Megan.

"Harap pertanyaanku dulu," pinta Megan dengan tatapan memelas.

"Tentu saja tahun 1945."

Megan membuka sedikit mulutnya mendengar sesuatu yang sangat tidak masuk akal baginya. "Apa? 1945?" Ia mengingat dengan jelas bahwa sebentar lagi akan memasuki tahun 2011. Namun sekarang dirinya malah mundur 65 Tahun ke belakang.

Namun sebelum ketiganya kembali mengobrol, tiba-tiba terdengar suara sirene yang keras. Wajah wanita dan pria itu tampak terkejut sekaligus takut dan langsung menarik tangan Megan.

Megan yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya ikut berlari, karena kemudian sadar jika dirinya memang berada pada tahun 1945, artinya Perang Dunia II masih terjadi. Setidaknya ia masih mengingat kisah yang sering Thomas ceritakan padanya berulang kali. Maklum saja ayahnya yang seorang tentara suka menceritakan kisah peperangan masa lampau.

Kaki Megan terasa keram setelah berlari cukup lama. Ia kini masuk ke sebuah rumah terbuat dari bata berlantai dua, di mana penerangan masih menggunakan petromaks dan seluruh furniture masih dibuat dari kayu.

"Baiklah, namaku Megan," ujar Megan mengulurkan tangannya pertama kali.

Sang wanita menyambut ramah uluran tangan tersebut. "Aku Ann, ini Ayahku Rudo."

Rudo kemudian menjabat tangan Megan sambil tersenyum.

"Suara apa tadi itu?" tanya Megan kembali mengingat suara sirene tadi.

"Sepertinya mereka melihat pesawat milik Bangsa Jerman," jawab Rudo yang lebih tahu.

Megan menjentikkan jarinya. "Hah benar, Jerman masih belum kalah."

"Apa? Jerman akan kalah?" ujar Rudo dengan mata terbelalak.

"Kalian bilang sekarang maret bukan?" Megan kini memijat pelipisnya, mencoba mengingat sejarah yang Thomas selalu ceritakan padanya.

Ann dan Rudo mengangguk dengan cepat sambil menatap Megan menanti sebuah jawaban.

"Mei nanti Jerman akan menyerah tanpa syarat," balas Megan mengingat di mana pasukan Jerman akan menyatakan menyerah kepada sekutu.

Ann dan Rudo tampak ragu akan ucapan Megan. Namun raut wajah keduanya malah membuat Megan tertawa pelan.

"Kalian pasti tidak percaya kan? Lihat saja nanti, kau akan mendengar beritanya lewat internet, televisi--oh tahun 1945 hal seperti itu belum ada. Ah, radio. Kalian akan mendengar pasukan sekutu menyerbu Kota Berlin dan Jerman akan menyerah."

Meskipun Ann dan Rudo sulit mempercayai ucapan Megan. Keduanya menampakkan mata penuh harapan agar peperangan segera berakhir.

Hal berbeda justru dirasakan oleh Megan. Ia yang terlalu larut dalam ingatan kisah sejarahnya malah kini menjadi pusing dengan situasinya.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Ann kini mempertanyakan kredibilitas ucapan Megan.

Megan tersenyum tipis. "Jika aku katakan bahwa diriku berasal dari masa depan, apakah kalian akan percaya?"

Ann dan Rudo seketika menggelengkan kepala membuat Megan terkekeh kecil.

"Faktanya beberapa jam yang lalu aku masih berada di tahun 2010 dan sekarang … tahun 1945?" Megan masih sulit mempercayai tentang bagaimana dirinya terlempar pada masa lampau. Lebih parahnya lagi adalah ketika Perang Dunia ll sedang memuncak. "Oh ya, bagaimana kalian menemukanku? Aku berada di bagian cukup dalam di hutan Jazmore?"

Ann tampak ragu akan menjawab. Membuat Megan kini beralih menatap Rudo.

"Sebenarnya pantang bagi kami untuk memasuki hutan Jazmore, terlebih ketika bulan purnama. Awalnya aku dan Ann ingin ke rumah kerabat yang baru saja merayakan pernikahannya, namun dalam perjalanan mendengar suara lolongan serigala. Lalu tanpa sadar kami malah berlari masuk ke daerah hutan Jazmore. Tepat berada di dekat sumur tersebut, kami melihatmu bersandar di dinding sumur, lalu berinisiatif mengecek keadaanmu," jelas Rudo dengan runtut.

Megan mengigit bibir bawahnya. "Berarti aku datang ke sini, bukan … aku melewati lorong waktu melalui sumur tersebut," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Ann dan Rudo.

Meskipun Megan masih tidak paham bahkan sangat terkejut akan situasi yang dialaminya, tetapi kini dirinya berada di dalam kamar Ann dan telah berganti pakaian dengan sebuah gaun tidur yang menurutnya sangat klasik.

"Aku merasa seperti berada di film Pride and Prejudice," ucap Megan memperhatikan dirinya dalam sebuah cermin besar yang terdapat pada kamar Ann.

"Kau terlihat sangat cantik," puji Ann dengan wajah polos membuat Megan tertawa.

"Jadi apakah kau benar-benar berasal dari Inggris? Negara Eropa itu?" tanya Anna memegang lengan Megan.

Megan mengangguk pelan. "Ya, aku datang ke Norwegia untuk berlibur dan menyelidiki sesuatu."

"Aku mendengar beberapa hal tentang Inggris, salah satunya tentang kerajaannya."

Megan terkekeh kecil. "Ya, bahkan hingga tahun 2010, Kerajaan Inggris masih ada. Ratu Elizabeth ll yang memegang tahta."

"Baiklah, ayo kita tidur. Aku lelah," ujar Megan mengajak Ann untuk berbaring di atas tempat tidur. Ia sebenarnya bukan benar-benar berniat istirahat, namun dirinya berharap bahwa mungkin saja ia hanya mengalami lucid dream. Bahwa apa yang dialaminya kini adalah kesemuan belaka.

Namun Megan tidak bisa tertidur. Ia mungkin memejamkan matanya, namun pikirannya masih berkelana dan mencari jawaban. Tidak tahan berbaring tanpa bisa tertidur membuatnya kembali terduduk dan melirik Ann yang sudah tertidur pulas di sebelahnya. Ia beruntung bisa bertemu dengan Ann dan Rudo yang hanya tinggal berdua dan berbaik hati menampungnya sementara.

Pandangan Megan lalu tertuju kepada jendela, di mana cahaya rembulan tampak menerobos masuk. Ia berjalan mendekat dan mencoba menatap keluar jendela. Ia berpikir bahwa di luar sana akan terlihat sangat gelap, karena tidak adanya lampu jalan. Namun ternyata dirinya salah, cahaya bulan menelisik ranting pohon yang membuatnya bisa melihat sebuah tempat duduk di bawah sebuah pohon.

Megan pada awalnya ingin mengabaikan itu dan menatap ke arah lain. Namun keningnya berkerut menyadari ada seseorang yang duduk di sana. Ia berpikir bahwa mungkin saja itu adalah Rudo, tetapi dirinya menjadi ragu kala orang tersebut bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekat ke arahnya.

Siluet cahaya bulan yang berada di atas orang tersebut membuat Megan tidak melihat dengan jelas wajah orang tersebut. Namun matanya terbelalak menyadari bahwa orang tersebut adalah seorang pria dan tidak memakai baju.

Megan juga bisa melihat tubuh atletis dari pria tersebut. "Apakah dia tidak kedinginan?" gumamnya lalu tersentak terkejut begitu merasakan sebuah tangan memegang pundaknya dari belakang. Ia berbalik badan dna menemukan bahwa itu adalah Ann.

"Kenapa tidak tidur?" tanya Ann mengucek matanya.

"Tidak, aku hanya menengok ke luar dan melihat seorang …." Ucapan Megan terhenti begitu ia berbalik badan ke depan kembali dan sudah tidak melihat sosok pria itu lagi.

Seketika Megan merasa bulu kuduknya berdiri. Ia dengan berjalan cepat menuju tempat tidur lalu meringkuk di atas. Ann segera menyusulnya dan kembali tidur.

Nyatanya dada Megan berdebar kencang apa yang baru saja dilihatnya dan menghilang sekejap mata. Ia menarik napas dalam, berharap tidak ada hal aneh lain yang akan terjadi padanya. Namun suara lolongan serigala terdengar membuatnya membayangkan hewan buas itu berada di sekitarnya.

♡♡♡

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HEU" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HEU
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Chasing Vampire
9.1
Julian Donyoung, vampir berusia dua abad, mengembara demi membalas dendam atas kematian ibunya sejak perang klan tahun 1822. Meski enggan berurusan dengan manusia, ia justru jatuh hati pada Elena Karenina yang ceroboh. Namun, situasi berubah mencekam saat identitas Elena terungkap sebagai keturunan musuh bebuyutannya, klan Oyster. Akankah cinta mereka bertahan, ataukah dendam masa lalu memicu pertumpahan darah baru di antara kedua kekasih ini?
Sampul Novel Crystal Of Soul : Twins
9.7
Terpisah sejak lahir tanpa alasan jelas, sepasang saudara kembar menghadapi garis takdir yang bertolak belakang. Meski satu berada di dunia manusia dan lainnya di dunia kristal, ikatan batin mereka tetap terjalin kuat melampaui ruang dan waktu. Didorong rasa penasaran akan jati diri, keduanya berusaha mengungkap misteri pemisahan mereka. Akankah kekuatan hubungan unik ini mampu mempertemukan mereka kembali dan menjawab semua rahasia yang tersembunyi?
Sampul Novel Gairah Elián
8.7
Elián adalah Alpha lycanthrope abadi yang hidup terasing di pulau Yunani akibat duka mendalam. Namun, pembunuhan berantai yang menimpa anggotanya memaksa sang pemimpin keluar dari pengasingan menuju Meksiko. Di sana, ia justru menemukan belahan jiwa barunya, seorang manusia biasa yang memiliki krisis kepercayaan diri. Kini, Elián harus berjuang menyelesaikan misteri pembunuhan, meredam insting buasnya, sekaligus memenangkan hati wanita yang menolaknya tersebut.
Sampul Novel ISTRI BERCADARKU MANTAN MAFIA
9.4
Tekanan sang kakek memaksa konglomerat Sayudha Wistara menikahi Diandra Safaluna, wanita bercadar yang penuh misteri. Yudha terus dibuat terperangah oleh kemampuan luar biasa dan prinsip unik sang istri. Pesona Diandra perlahan meruntuhkan niat Yudha untuk bercerai setelah dua tahun tanpa kontak fisik. Namun, ia tidak menyadari identitas asli Diandra. Akankah Yudha tahu bahwa istrinya adalah sosok tangguh yang memimpin kakeknya sendiri di dunia mafia?
Sampul Novel MERMAID AS ALPHA'S DESTINY
9.5
Kaum werewolf terancam punah, dan Billy sebagai calon raja harus menemukan Catalina, reinkarnasi putri duyung Althaia. Meski ditakdirkan bersama di dunia modern, perbedaan alam menjadi rintangan fatal. Billy butuh bersenggama dengan Catalina demi kekuatan, namun itu bisa membunuh Catalina jika ia tak segera kembali ke air. Di tengah ancaman monster dan vampir, mereka harus bersatu demi keselamatan klan tanpa mengorbankan nyawa satu sama lain.
Sampul Novel Omega yang Ditolak: Kesempatan Kedua Bersama Sang Raja
9.2
Tujuh tahun lamanya aku bertahan sebagai pasangan yang ditolak Alpha Kaelan Adhitama demi cintanya pada Livia. Saat aku difitnah mencuri, Kaelan justru menghinaku dan menjebloskanku ke sel perak tanpa ragu. Pengkhianatan itu memutus ikatan kami dan mematikan harapanku. Kini, setelah bebas, seorang Alpha rival menawariku posisi strategis untuk membalas dendam. Aku pun bersiap menghancurkan kerajaan Kaelan demi menebus luka masa laluku.