
Alice and The Blue Sea
Bab 3
"Maksudnya? Oh maksudmu ekor ini? Ini ekor asli," ujar Archer santai yang dihadiahi kekehan canggung oleh Alice.
"A- apa?" tanya gadis itu memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Tidak tidak, ia pasti salah dengar. Pria tampan dengan bentuk tubuh sempurna di hadapannya ini, yang beberapa menit lalu menyelamatkan hidupnya itu, pasti adalah manusia biasa seperti dirinya. Bukan Jerman, seperti yang ia bayangkan. Gila saja kalau makhluk mitologi seperti itu benar-benar ada. Ah, pria tampan ini pasti sedang shuting, begitu pikir gadis cantik itu. Alice tertawa canggung. Dia kemudian melihat sekeliling. Namun sejauh mata memandang memang tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua, tidak ada kamera atau kru yang bertugas menyorot setiap adegan. Gadis itu mulai berkeringat dingin ia menelan ludahnya gugup.
"Kau pasti bercanda," ujar Alice dengan nada pelan diiringi tawa kecil.
Archer menghela napas. Dia kemudian menggoyangkan ekornya.
"Nah, biar ku jelaskan. Namaku Archer dan aku memang seorang Merman. Ini adalah ekor asli bukan kostum atau apa pun sebutannya. Aku adalah Merman. Seorang Merman yang nyata. Tapi tenang saja, aku bukan makhluk yang berbahaya. Kau aman. Apakah kau punya pertanyaan lain?"
3. Tinggal Bersama
"Apa kau benar-benar mermaid? Ya Tuhan! Aku tidak percaya ini!" Alice menatap seorang pria dengan tubuh berotot yang alih-alih memiliki ekor daripada kaki di depannya.
"Ya. Kau bisa menyentuhnya jika tidak percaya," kata Archer, mermaid yang menyelamatkan Alice ketika gelombang laut mencoba menyeretnya beberapa menit yang lalu.
Alice bergerak mendekati Archer perlaha. Mengangkat tangannya, ia lalu meletakkan tangan mungil itu perlahan ke arah ekor Archer. Alice terkejut setelah menyentuhnya. Dia segera mundur dengan satu tangan menutupi mulutnya dan tangan lainnya menunjuk ke arah Archer.
"Kau nyata!" teriak gadis itu. Sumpah demi apapun! Ia tak pernah menyangka seumur hidupnya, ia akan bertemu dengan makhluk mitologi yang sejak dulu menjadi impiannya. Ia tak bisa mendeskripsikan betapa campur aduknya perasaannya saat ini. Satu sisi ia merasa takut karena makhluk yang ada di depannya ini terasa asing bagi penglihatannya. Namun di sisi lain ia merasa senang karena sebelum mati, ia bisa melihat sesuatu yang bahkan tidak akan pernah dipercaya oleh orang lain.
"Aku sudah bilang kan ...."
Alice perlahan kembali bergerak mendekati Archer dengan ekspresi tidak percaya di matanya.
"Yah. Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mermaid. Sekarang, bisakah kau membantuku?"
Alice mengangguk cepat. Tentu saja ia akan membantu makhluk yang telah menyelamatkan hidupnya itu sebisanya. Ia bukanlah orang yang tak tahu balas budi.
"O-oh, ya, tentu saja. Ada yang bisa ku bantu?" tanya Alice kemudian.
"Aku ingin tinggal beberapa minggu di dunia manusia. Tidak ada yang spesial aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya hidup dengan kalian. Tapi aku tidak mengenal siapapun, jadi boleh aku tinggal di tempatmu? Aku tidak akan melakukan apapun aku bersumpah, lagi pula aku juga bukan makhluk berbahaya."
Alice tampak berpikir, matanya menatap lekat ke arah Archer. Melihat pria itu dari ujung kepala hingga ujung ekor- ya Tuhan! Ekor Archer menghilang! Beberapa detik lalu sesuatu yang penuh sisik itu masih ada di depan mata Alice tapi sekarang ekornya sudah berganti menjadi sepasang kaki. Alice yang terkejut akan fakta itu langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju mobilnya, apa lagi setelah matanya disuguhi pemandangan tubuh Archer yang hanya ditutupi oleh beberapa helai rumput laut yang Alice jamin akan langsung jatuh saat pria itu berdiri.
Archer menghela nafas panjang saat Alice menghilang dari pandangannya. Ya, dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Apa yang ia harapkan? Gadis yang ia cintai juga akan mencintainya? Itu gila. Bahkan cerita dongeng di dunia mereka tak berakhir seindah itu. Mereka bahkan berasal dari dunia yang berbeda. Mungkin Archer memang harus mendengar perkataan Kai. Tidak ada untungnya juga baginya untuk tinggal di daratan.
Baru saja pria tampan dengan tubuh sempurna itu berniat kembali ke laut, sebuah selimut lembut yang lumayan lebar dengan motif awan terlempar ke arahnya. Archer tentu terkejut, ia spontan berbalik, berusaha mencari dari mana kain itu berasal. Senyum seketika hadir di wajah tampannya saat melihat Alice yang dengan polosnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jadi ini alasan gadis itu pergi meninggalkannya? Lucu sekali. Padahal ia sudah berpikiran buruk soal gadis cantik itu.
"Kau sudah menutup tubuhmu? Aku tidak bisa membawamu ke rumahku dengan keadaan seperti itu. Orang-orang akan berpikiran buruk tentangku," ucap Alice dengan tangan yang masih menutup matanya.
Archer tertawa. Ia kemudian berdiri dan menutup tubuhnya dengan selimut lebar yang tadi Alice berikan.
"Ku pikir kau akan pergi dan meninggalkanku. Ternyata hanya mengambil ini untuk menutup tubuhku?"
Alice menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya memerah malu.
"T- tentu saja aku tidak keberatan kau tinggal di rumahku, kau juga sudah menolongku jadi aku harus balas budi. Aku hanya terkejut saat ekormu menghilang dan ... dan kau dalam keadaan telanjang! untung saja aku selalu membawa selimut dalam mobilku," jelas Alice. Gadis itu tentu tak ingin dianggap gila karena membawa pria telanjang ke rumahnya.
Archer tersenyum dan mengangguk pelan. Ia kemudian berjalan mendekati Alice. Alice yang melihat Archer mendekatinya seketika berjalan mundur dengan tangan menyilang di dadanya.
"M- mau apa kau?"
Archer tertawa keras melihat reaksi itu. Sepertinya mulai hari ini hidupnya akan lebih menyenangkan.
"Ikut denganmu tentu saja. Ayo, dimana rumahmu?"
"Ehm, o-okay." Alice melangkah cepat mendahului Archer, menutupi wajahnya yang memerah malu karna telah berpikir yang tidak-tidak pada Archer. Sedangkan Archer hanya tertawa dan melangkahkan kakinya menyusul Alice.
Archer masuk ke rumah Alice setelah gadis itu membukakan pintu untuknya. Dia tercengang ketika dia disuguhi hal-hal yang belum pernah dia lihat dalam hidupnya sebelumnya.
"Jangan terlalu norak."
Dilan terkekeh. Ia memutar bola matanya malas. Bukankah wajar jika makhluk laut sepertinya terkagum-kagum saat melihat hal-hal yang belum pernah dilihatnya sebelumnya?
“Kamu tidak bisa melihat orang lain bahagia kan? Ini sesuatu yang baru bagiku, jadi wajar jika aku penasaran, aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama jika aku membawamu ke bagian terdalam dari laut."
Alice tertawa pelan. Meninggalkan Archer untuk melihat barang-barang di rumahnya sementara dia mengambil beberapa pakaian ayahnya yang tertinggal di rumahnya. Alice hidup sendiri sejak lulus SMA, tapi terkadang ayahnya menginap di rumahnya ketika mereka merindukan satu sama lain, begitu pula Alice yang terkadang tinggal di rumah ayahnya. Itu sebabnya dia setuju ketika Archer meminta untuk tinggal di rumahnya. Karena Alice memiliki ruangan yang jarang digunakan.
"Pakai ini. Jika kamu ingin hidup seperti manusia maka kamu harus memakai sesuatu untuk menutupi tubuhmu seperti yang dilakukan manusia lainnya. Orang telanjang akan dianggap sebagai orang gila."
Archer mendengus kesal ketika Alice melemparkan sepasang pakaian, mengalihkan perhatiannya yang sibuk melihat hal-hal yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
"Tunggu apa lagi? Biar kutunjukkan kamarmu!"
Alice menarik tangan Archer ke kamar yang dulu digunakan ayahnya untuk tidur.
Anda Mungkin Juga Suka





