Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Alena dan Andrio (Sekuel Dendam Anak Tiri)

Alena dan Andrio (Sekuel Dendam Anak Tiri)

Alena sempat meyakini bahwa membangun kehidupan rumah tangga bersama Andrio akan selalu dipenuhi kebahagiaan tanpa celah. Namun, realita pernikahan mereka ternyata jauh lebih rumit dan penuh rintangan dari yang ia duga. Meski berbagai konflik dan lika-liku tajam terus menguji kekuatan cinta mereka, Alena tetap bertekad mempertahankan sang suami. Inilah perjalanan romantis penuh haru yang membuktikan bahwa Andrio akan selalu menjadi milik Alena selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Raut wajah Alena langsung berubah. Sejak tadi pun dia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Wanita itu memang selalu mendesaknya untuk segera mempunyai anak. Alena tahu maksud ibu tirinya itu baik, tapi dia tidak nyaman tiap kali ditanya demikian. 

"Aku dan Mas Andrio hanya berusaha dan menjalani, Mi. Selebihnya Allah yang menentukan," jawab Alena apa adanya. 

"Enggak." Rista menggeleng. "Kalian belum berusaha maksimal. Mami tahu kamu tuh pasti terlalu sibuk kerja, makanya jadi kecapekan dan sulit hamil. Karena masing-masing kalian sibuk, mungkin kalian juga ...." Rista menjeda kalimatnya. Agak sungkan mengatakannya. "... Jarang melakukan hubungan suami istri," lanjutnya kemudian dengan intonasi agak pelan.

Alena mengernyit mendengar asumsi maminya yang menurutnya sok tahu. Haruskah dia mengatakan kalau dirinya dan Andrio bahkan melakukan itu hampir tiap malam, meskipun mereka sibuk?

"Kamu tahu apa maksud Mami, Alena? Kalau kamu sungguh-sungguh mau punya anak, kamu harus berhenti kerja. Istirahat di rumah, biar Andrio aja yang kerja."

"Nggak semudah itu, Mi. Lagian aku yakin penyebab aku belum hamil bukan karena aku kecapekan dan sibuk kerja. Ini hanya masalah waktu."

Ya, dia dan Andrio juga sering membahas masalah ini. Dan Andrio sendiri tidak mempermasalahkan kapan mereka punya anak. Bagi Andrio ini hanya masalah waktu.

"Kamu harus dengerin Mami, Alena. Kamu harus berhenti kerja supaya bisa cepat hamil. Kamu istirahat sebentar aja beberapa bulan sampai kamu bisa hamil."

Sungguh, Alena seringkali merasa dongkol tiap kali Rista berbicara seperti itu. Rista terkesan mengatur dan memaksa menuruti kemauannya, padahal dirinya sudah bersuami.

Alena menghela napas. "Tapi perusahaan gimana, Mi?"

"Kamu buat surat pengunduran diri bisa 'kan?"

Alena mengernyit. Kadang dia merasa aneh dengan sikap Rista. Rista sampai menyuruhnya untuk resign agar dia bisa punya anak? Dia tak tahu apakah ibu tirinya itu benar-benar peduli padanya atau ada maksud lain?

"Mengundurkan diri, Mi? Nggak semudah itulah, Mi. Menjadi pemimpin itu juga cita-cita aku. Hasil dari usaha aku dari dulu. Nggak mungkin aku sia-siain gitu aja. Mami nggak lupa 'kan bagaimana susahnya hidup aku dulu?"

Rista terdiam. Sebelum melanjutkan bicaranya. "Kalau kita menginginkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu yang lain, Alena. Kamu ngerti 'kan maksud Mami?"

"Iya, Mi, tapi--"

"Masalah kamu ini masalah berat, Alena. Kamu sulit punya anak. Kamu harus segera pikirkan jalan keluarnya. Bukannya hanya pasrah. Apa kamu nggak kasihan sama Andrio? Bisa-bisa nanti dia ngelirik perempuan lain, lho, atau malah menikahi perempuan lain." Mata Rista melebar menatap Alena.

Alena sedikit syok mendengarnya. "Mami jangan nakutin aku, deh. Aku percaya Mas Andrio setia sama aku. Nggak mungkin dia begitu."

"Iya, makanya jangan sampai Andrio begitu, kamu harus cepat-cepat punya anak. Nggak kasihan kamu sama dia yang udah baik sama kamu selama ini. Sesetia-setianya Andrio, dia juga laki-laki."

Alena terdiam. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Maminya ada benarnya juga. Selama ini Andrio selalu baik padanya. Tak pernah menuntut apa-apa meskipun dirinya belum bisa memberi keturunan. Dan jujur, sebenarnya dia juga kasihan pada suaminya. Tapi masalahnya dia merasa penyebab dia belum hamil bukan karena kecapekan. Melainkan karena dia memang tidak bisa punya anak.

"Gimana, Alena? Yang Mami bilang bener 'kan?" Pertanyaan Rista membuyarkan lamunan Alena.

"Hmm iya, Mami bener, makasih Mami udah peduli sama aku, tapi aku perlu rundingkan ini sama suamiku dulu." Alena menjawab demikian dengan harapan topik tersebut tidak berlanjut.

Rista tersenyum. "Nah, gitu, dong."

"Sekali lagi makasih, ya, Mi karena udah peduli sama aku."

"Sama-sama, Sayang. Kamu 'kan juga udah Mami anggap anak sendiri."

Alena tersenyum tipis. Tentu dia tak lupa bagaimana dulu mereka saling membenci. Namun, sekarang semua sudah berubah. Waktu yang telah mengubahnya.

Kini wanita itu menjadi pengganti mendiang ibunya, Leyla. Tak pernah terbesit dalam pikiran Alena kalau akhirnya mereka berdua bisa menjalin hubungan baik layaknya anak dan ibu kandung. Meski kasih sayang dan kebaikan Rista tak akan bisa menggantikan kasih sayang dan kebaikan ibu kandungnya. 

"Mami nggak bisa lama-lama." Lagi, suara Rista membuyarkan lamunan Alena hingga Alena kembali menatapnya. "Kalau gitu Mami pulang dulu, ya, Alena."

Alena bernapas lega. "Hmm iya, Mi. Titip salam buat Papi dan Alyssa."

Rista mengangguk dan tersenyum. "Nanti Mami sampaikan. Titip salam juga buat suamimu."

"Assalamu'alaikum ...,"

Percakapan keduanya sontak terhenti demi mendengar suara yang mengucapkan salam itu. Keduanya pun menoleh ke arah pintu yang terbuka, di mana telah berdiri sosok lelaki yang amat familier.

"Wa'alaikumussalam, Mas Andrio," sahut Alena, langsung berdiri menghampiri suaminya. Rista yang memang mau pulang pun ikut berdiri dan berjalan ke arah pintu.

"Oh, ada Mami?" ucap Andrio memandangi Rista.

"Iya, Mami datang ngantarin makanan tuh buat kalian." Rista menunjuk rantang makanan yang terletak di meja dengan dagunya.

"Wah ... Nggak usah repot-repot, Mi." Andrio tertawa sungkan. Lalu menyalami tangan ibu mertuanya itu.

"Nggak repot, kok,"

Andrio mengangguk. "Makasih, ya, Mi."

"Iya, Mami pulang dulu, ya." Rista lalu menepuk pundak menantunya.

"Hati-hati, Mi," balasnya.

Alena dan Andrio mengiringi Rista sampai ke teras. Melihat wanita itu masuk mobil sebelum akhirnya mobil tersebut meninggalkan rumah mereka. Alena berdadah ria sebelum akhirnya dia dan suami masuk ke rumahnya yang besar.

"Selain ngantarin makanan, Mami ngomong apa aja sama kamu?" Andrio bertanya demikian seolah tahu ada hal penting yang ibu mertuanya itu bicarakan dengan istrinya.

Alena mengambil rantang di atas meja itu sambil menjawab. "Nggak ngomongin apa-apa, kok." Wanita itu memutuskan untuk tidak berterus terang dulu pada suaminya bahwa maminya mendesaknya untuk segera punya anak dan menyuruhnya berhenti kerja. Dia takut suaminya tidak setuju dan ujung-ujungnya mereka ribut. Pasalnya kejadian seperti ini sudah seringkali terjadi. Setiap mereka membahas masalah anak, ujung-ujungnya pasti bersitegang.

"Kita makan masakan Mami, yuk." Alena mengalihkan topik pembicaraan. "Kamu mandi dulu, dong, ganti baju, habis itu kita makan, ya." Mereka berjalan menuju ruang makan.

Alena meletakkan rantang itu di meja makan.

"Iya, aku mandi dulu," jawab Andrio yang langsung menuju kamar mandi.

***

Selesai mandi dan ganti baju rumahan--dengan kaos tipis dan celana kain--Andrio melihat sajian di atas meja yang sudah Alena tata rapi dalam wadah masing-masing. Di sana ada lumayan banyak jenis makanan. Ada mie spaghetti, ada sayur oseng-oseng, ikan nila bakar dan cumi asam manis.

"Makan, Mas." Alena tiba-tiba muncul sambil meletakkan teko air dan susunan gelas kaca di meja. "Mau makan yang mana? Aku ambilin, ya?"

Andrio duduk di kursi. "Aku mau semuanya, kecuali spaghetti."

"Oke." Alena mulai mengambil piring dan memasukkan nasi serta jenis-jenis makanan itu ke dalam piring untuk suaminya.

"Soalnya nggak enak campur mie," lanjut Andrio tanpa ditanya.

Alena diam saja sambil menyodorkan piring berisi makanan itu di hadapan Andrio. Lalu menyiapkan segelas air putih.

Mereka pun menyantap makanan itu bersama-sama, sesekali Alena memuji masakan Rista, sedangkan Andrio malah mengingat masakan Alena sendiri.

"Kamu emang jarang masak, tapi sekali masak, masakkannya enak banget, restoran aja kalah," tanggap Andrio di sela makannya.

"Kalau muji tuh yang realistis." Alena menatap suaminya tajam sambil makan.

"Di mana letak ketidakrealistisannya?" Andrio memasang tampang bingung.

"Itu tadi bilang masakan aku ngalahin masakkan restoran, lebay kamu,"

"Seenggaknya itu menurut aku. Menurut aku, masakan istriku lebih enak daripada masakan siapa pun." Andrio berucap sambil mengunyah. Dia menyantap makanan itu dengan lahap saking laparnya.

Alena hanya mengulum senyum. Dia tahu suaminya itu selalu berusaha membuatnya senang dengan hal-hal sederhana. Alena pintar masak juga karena diajar oleh Mbah Nani. Hingga tiba-tiba perkataan maminya tadi kembali terngiang dan mengganggu pikirannya.

Alena memperhatikan wajah suaminya yang sibuk makan. "Mas," panggilnya kemudian.

"Iya?"

"Maafin aku, ya."

Lagi-lagi Andrio memasang tampang bingung. "Kenapa malah minta maaf?"

"Maaf aku belum bisa jadi istri yang sempurna buat kamu."

Andrio tersenyum tipis di sela makannya. "Kamu lebih dari sempurna buat aku."

Alena diam mendengarnya. Entahlah, kali ini ucapan suaminya itu benar atau sekadar menyenangkan perasannya.

Bagaimana tidak? Sampai detik ini dirinya belum bisa memberikan keturunan. Dia juga jarang memasak untuk suaminya karena sibuk membuat suaminya jadi sering jajan di luar. Bagaimana mungkin dia bisa jadi sosok istri yang lebih dari sempurna?

"Kamu kenapa?" tanya Andrio kemudian melihat Alena hanya diam. 

Alena menggeleng dan tersenyum. "Makasih, ya, Mas?"

Andrio hanya balas tersenyum.

"Aku bersyukur hari ini," ucap Alena lagi. "Kita bisa ketemu dan menghabiskan waktu lebih banyak kayak gini."

Bisa bertemu dan punya banyak waktu di rumah dengan suami adalah nikmat langka dan harus disyukuri bagi Alena mengingat mereka yang jarang bertemu. Kadang Alena dan Andrio merasa mereka tidak seberuntung pasangan lain. Di balik banyaknya harta yang mereka miliki, ada waktu yang mereka korbankan. Hidup memang tidak ada yang sempurna.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Days
9.4
Saat pengkhianatan suami terungkap, April tidak memilih jalan cerai seperti wanita pada umumnya. Ia justru bertekad memperjuangkan keutuhan rumah tangganya yang retak. Sebuah tantangan besar ia tetapkan bagi dirinya sendiri: menaklukkan kembali hati sang suami dalam kurun waktu 180 hari. Di tengah luka hati, April harus berjuang melawan waktu demi mengembalikan cinta yang hilang. Mampukah ia memenangkan kembali suaminya sebelum batas waktu itu berakhir?
Sampul Novel Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
7.9
Adit, mahasiswa yang kerap dirundung, memilih mengakhiri hidupnya. Namun, jiwa Hito Aswatama justru merasuk ke raga Adit setelah sebuah kecelakaan maut menimpanya. Menggunakan identitas baru, Hito menyelidiki dalang pembunuhannya sambil memperebutkan takhta ahli waris Aswatama melawan paman dan sepupunya. Konflik ini perlahan mengungkap rahasia gelap keluarga besar terkait kematian orang tua Hito. Mampukah ia bertahan di tengah intrik perebutan kekuasaan tersebut?
Sampul Novel Bercinta Dengan Sang Presdir
9.0
Impian Alice Harper untuk menikah dengan Dean Walcott sirna akibat pengkhianatan adik tirinya. Dipermalukan di altar, Alice lari ke Birmingham untuk memulai lembaran baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Dastan Lancaster, mantan kekasih yang dulu menghilang misterius. Pesona sang presdir membangkitkan cinta lama yang belum padam. Saat Dastan melamarnya secara tiba-tiba di depan publik, akankah Alice menemukan kebahagiaan sejati yang sempat hilang dari hidupnya?
Sampul Novel Dilarang Hamil Oleh Mertua
9.0
Kehidupan pernikahan Claudia dan Rayhan penuh cobaan karena ketidaksetujuan Ibu Eva. Sang mertua yang menginginkan menantu pilihan sendiri ini tega melarang Claudia hamil hanya karena status sosialnya yang rendah. Saat Claudia benar-benar mengandung, Eva justru mendesaknya untuk menggugurkan janin tersebut. Di tengah tekanan batin dan kebencian mertua, mampukah pasangan ini menjaga keutuhan rumah tangga serta melindungi calon buah hati mereka?
Sampul Novel One Night To Forever
9.2
Bagi Raymond, malam panas di Bali tak lebih dari sekadar hiburan singkat. Namun bagi Sherly, momen itu mengubah segalanya saat ia hamil tanpa tahu siapa ayah bayinya. Diusir keluarga dan berjuang sendirian, Sherly bangkit demi masa depan sang anak. Tiga tahun berlalu, ia berhasil masuk ke perusahaan besar untuk membuktikan kemandiriannya. Tak disangka, CEO tempatnya bekerja adalah Raymond. Akankah Sherly menuntut pertanggungjawaban darinya?
Sampul Novel Rintangan Cinta Abadi
8.1
Di kota metropolis, Aria yang kaya raya terusik oleh kembalinya Luna, kekasih masa kecil yang sempat hilang. Rahasia kelam Luna memicu pengkhianatan besar, sementara sahabat Aria, Rian, terjebak antara kesetiaan dan cintanya pada Luna. Kehadiran Maya memicu cinta segitiga rumit, sedangkan Evan muncul membawa rahasia masa lalu yang mengguncang semua pihak. Nina hadir membawa harapan, namun intrik keenam karakter ini membuktikan bahwa jalan menuju cinta sejati penuh rintangan.