
Aldrich Delano And His Wound
Bab 2
Pukul 5 sore
Aldrich baru saja selesai mengerjakan seluruh pekerjaannya. Pria tampan itu memutar kursinya menghadap jendela besar yang berada tepat dibelakangnya. Matanya memandang pada senja yang mulai menyapa.
Kilas balik ingatannya berputar pada beberapa tahun lalu. Dulu, saat ia masih duduk dibangku Senior High School, ia dan Ara sangat senang menikmati senja seperti ini dari atas rooftop mansion keluarga Morgan. Tapi selama beberapa tahun belakangan hal tersebut tak bisa lagi dirinya lakukan.
Aldrich memijat pelan pelipisnya. Satu tangannya mengepal erat ketika kejadian itu kembali melintas dipikirannya.
Tangan Aldrich terjulur meraih gagang telpon yang berada disebelah meja kerjanya. "Keruanganku Brendon" setelah selesai kembali meletakkan benda itu ditempatnya.
Tidak lama kemudian Brendon masuk kedalam ruangan membawa setelah jas yang akan Aldrich kenakan, juga seorang lelaki gemulai yang berjalan dibelakangnya. Frida, stylish pribadi Aldrich.
"Tunggu disini, aku akan mandi sebentar" ucap Aldrich.
"Baik, sir" jawab Frida.
Brendon melangkah mengikuti sang atasan menuju kamar pribadi yang berada diujung ruangan. Meletakkan pakaian yang dibawanya keatas kasur. "Kau boleh keluar, Brendon" ucap Aldrich.
"Baik, sir"
10 menit kemudian Aldrich selesai dengan ritual mandinya. Dengan cepat mengenakan pakaian yang tadi sang assistant siapkan.
"Kau boleh masuk Frida" Aldrich berucap dengan suara sedikit keras.
Tidak lama kemudian Frida masuk bersama Brendon. "Bisa kita mulai sekarang, sir?" Tanya pria bertubuh tambun dengan wajah cantik itu.
"Mm"
Dengan keahlian tangannya, Frida menata rambut Aldrich serapih mungkin. Rambutnya yang semula tertata rapih kebelakang, kini menutupi seluruh dahinya. Orang yang tidak mengenalnya, pasti akan mengira bahwa Aldrich adalah seorang idol Korea.
"Bagaimana menurut anda, sir?" Tanya Frida setelah selesai.
Aldrich tersenyum puas. "Bagus, aku suka hasil karyamu. Akan aku kirimkan bonus padamu nanti"
Senyum Frida melebar, matanya berbinar mendengar kata bonus. "Terimakasih, sir"
Aldrich bangkit dari posisi duduknya, mematut sekali lagi dirinya didepan cermin, sebelum akhirnya melangkah keluar.
Didalam mobil. Berkali-kali Aldrich menarik nafas berat masih ada kesempatan baginya untuk tidak menghadiri acara makan malam itu. Entah kenapa, tapi hatinya merasa begitu kacau saat ini.
Pandangannya hanya terpaku pada situasi diluar jendela. Tidak ada binar dalam sorot matanya, pria itu hanya memandang kosong. Pikirannya berkecamuk, haruskah meminta supir untuk memutar balik, atau tetap pada tujuannya untuk menghadiri acara makan malam itu.
Baru saja ia berniat meminta sang supir untuk putar balik, deringan ponselnya menginterupsi. Aldrich mengumpat kasar dalam hati, ia yakin pasti ayahnya yang menelpon. Dengan perasaan kesal, Aldrich meraih ponselnya didalam saku celana. Benarkan dugaannya, ayahnya yang menghubungi.
"Halo, ayah" sapa Aldrich pelan.
"Hai, little boy. Where are you?" Suara berat sang ayah menyapu indera pendengaran Aldrich.
"Dijalan, ayah" jawab Aldrich tenang.
"Dijalan?"
"I'm coming"
"Bagus sekali. Ayah tunggu, ya. Hati-hati" decakan puas sang ayah bisa Aldrich dengar dengan jelas.
"Mm"
Telpon tertutup, Aldrich kembali meletakkan ponselnya didalam saku celana. Menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Untuk kesekian kalinya, hembusan nafas berat ia keluarkan dari mulutnya.
"ARRRRGGGHHH BAJINGAN!!!"
Tepat setengah jam sebelum makan malam dimulai. Mobil Rolls-Royce phantom berwarna hitam milik Aldrich memasuki pekarangan mansion keluarga Morgan.
Pintu penumpang disamping Aldrich dibuka oleh salah satu pengawal. Pria tampan itu keluar dari dalam mobilnya, disambut jajaran pengawal, dan pelayan yang berbaris didepan pintu utama mansion. Khusus hanya untuk menyambut kedatangannya.
Margareth, kepala pelayan keluarga Morgan maju. Kepalanya membungkuk, memberi hormat pada putra bungsu keluarga Caldwey.
"Selamat datang tuan muda" sapa Margareth, dengan senyum keibuan yang tidak pernah lepas dari wajahnya yang tak lagi muda.
"Terimakasih" Aldrich tersenyum pada wanita paruh baya yang dulu pernah menjadi pengasuhnya.
"Mari, semua orang sudah menunggu kedatangan anda"
Margareth menuntun Aldrich menuju ruang makan, dimana semua orang sudah menunggu kedatangannya.
Ditengah lorong yang menghubungkan ruang tamu dan ruang makan, pikiran Aldrich kembali pada masa saat ia masih kecil dulu. Dulu dirinya, Ara, Carina, dan Silena kedua sahabatnya yang lain, senang sekali bermain lari-larian dilorong ini. Sampai membuat beberapa pelayan yang tengah menyiapkan makan siang kesulitan untuk lewat dan menghentikan mereka karena mereka berempat terus berlarian. Tanpa sadar kenangan itu membuat senyum Aldrich mengembang.
Ingatan Aldrich terputus ketika suara Margareth menyadarkannya. "Kita sudah sampai, tuan muda"
"Terimakasih, Margareth" Margareth mengangguk kecil, kemudian pamit undur diri dari sana.
Pintu ruang makan dibuka oleh dua orang pengawal yang berjaga didepan pintu.
Aldrich melangkah masuk, namun belum dua langkah ia kembali berhenti saat matanya menatap pemandang yang sama sekali tidak ia kira akan menjadi sambutan untuknya.
"Aldrich!!" Seruan Danes menggema, mengalihkan atensi semua orang kearah sosok yang sejak tadi mereka nantikan kehadirannya.
Keributan yang sebelumnya terdengar menjadi sunyi seketika. Semua orang menatap kearahnya, termasuk Ara, dan sosok disebelahnya yang menjadi sumber keributan.
Lagi, Aldrich kembali mengumpat dalam hatinya. Tapi kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Ekpresinya yang semula hangat, berubah menjadi dingin dalam sekejap, setelah kedua netra cokelat gelapnya menangkap raut puas sosok bajingan yang menjadi penyebab kacaunya kehidupannya lima tahun lalu.
Semua orang menatap khawatir kearah Aldrich yang hanya diam dengan sorot mata tajam.
"Aldrich, kemari sayang" suara Riyani menginterupsi perhatian pria itu. Aldrich menatap lembut sang ibu yang mendekat kearahnya.
"Bagaimana perjalananmu, sayang?" Tanya Riyani lembut.
Bisa Aldrich rasakan perasaan hangat yang mengalir didadanya setelah menatap wajah ayu ibunya.
"Baik ibu. Aldrich sangat lapar sekarang, bisa kita mulai makan malamnya?" Rengeknya kecil. Tangannya mengusap-usap perutnya yang mulai berbunyi.
Riyani terkekeh kecil. "Tentu, ayo" menarik lengan putra bungsunya untuk duduk.
"Selamat datang, Aldrich" ucap Ravino, selaku kepala keluarga Morgan.
"Terimakasih, paman"
Ravino mengangkat tangannya, mempersilahkan semua orang untuk memulai makan malam.
Tidak ada suara yang keluar selama mereka menyantap hidangan yang disajikan. Satu-satunya suara yang terdengar hanya berasal dari dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Sesekali Aldrich akan meremat sendok dan garpu ditangannya. Ia bahkan tidak bisa menikmati rasa lezat masakan yang ia yakini dibuat oleh sang nyonya besar, Sofia Morgan.
'Sial! Makanan ini jadi hambar' ucap batinnya kesal.
"Kau ingin tambah , sayang?" Riyani menatap sang putra yang gelisah. Wanita paruh baya itu tau bahwa putranya tidak nyaman.
Aldrich menggeleng, "tidak ibu, ini sudah cukup" jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Bibi harap kamu masih suka masakan bibi" sorot rindu Aldrich tunjukan pada wanita paruh baya yang begitu ia sayangi selain sang ibu.
"Masakan bibi selalu menjadi favorite kedua Aldrich" pujinya jujur.
"Kenapa kedua?"
"Karena kalau Aldrich bilang yang pertama, nanti ibu ngambek terus gak mau masakin Aldrich lagi" Aldrich berbisik diakhir kalimat yang bahkan suaranya masih bisa didengar semua orang.
Ringisan kecil meluncur dari bibir tipis pria itu. Ia baru saja mendapat pukulan selamat datang dari sang ibu.
"Isshh, anak ini" gumam Riyani sebal.
"Ayahhh, liat ibu melakukan KDRT" adunya pada sang ayah meminta pembelaan.
Rengekan Aldrich mengundang tawa semua orang. Termasuk Ara yang diam-diam menatap sahabatnya itu penuh kerinduan.
*****
See you next part 😊
Kritik dan saran dipersilahkan
Anda Mungkin Juga Suka





