Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam

Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam

Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sejak malam itu, dunia Adikara tidak pernah sama lagi. Setiap langkah yang ia ambil kini terasa berat, karena di belakangnya ada tanggung jawab yang muncul begitu cepat dan tak bisa ia hindari. Hatinya berperang antara ego, rasa bersalah, dan rasa takut akan konsekuensi yang mengintai. Ia selalu terbiasa mengendalikan segalanya-karier, bisnis, bahkan politik negara. Namun, untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang benar-benar berada di luar kendalinya: seorang gadis muda yang tengah hamil karena dirinya.

Alara sendiri tidak mudah menyerah. Meskipun rasa takut menghantui setiap langkahnya, keberanian untuk menuntut tanggung jawab pria itu muncul lebih kuat. Ia tahu bahwa hidupnya dan masa depan anaknya kini berada di ujung pedang, tergantung pada keputusan Adikara. Di satu sisi, ia merasa takut-takut akan penolakan, takut akan ejekan, dan takut kehilangan segalanya. Di sisi lain, ia juga marah, marah pada pria yang sudah mengubah hidupnya dalam sekejap, dan pada kenyataan bahwa ia harus menghadapi dunia sendirian.

Pagi itu, Alara menyiapkan dirinya dengan hati-hati. Ia mengenakan pakaian sederhana-bukan untuk menarik perhatian, tapi agar terlihat tegas dan serius. Di tangannya, tersembunyi selembar hasil tes kehamilan yang akan menjadi senjatanya. Setiap langkah menuju kantor Adikara di gedung pencakar langit miliknya terasa menegangkan. Ia bernafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi ketegangan itu semakin nyata saat ia akhirnya berdiri di depan pintu ruang kerja pria itu.

Adikara sedang duduk di balik meja kerjanya, wajahnya tertutup bayangan lampu meja yang redup. Ia menatap layar laptop dengan fokus, seakan-akan dunia luar tidak ada artinya. Namun, saat Alara melangkah masuk, ia segera merasakan sesuatu yang berbeda-rasa takut yang asing, rasa bersalah yang selama ini ia tekan, dan kenyataan pahit yang harus ia hadapi.

"Alara..." suaranya terdengar serak saat mencoba menahan emosi yang muncul.

Alara mengangkat kepala, menatapnya tanpa ragu. "Aku hamil, Adikara. Dan ini bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Aku ingin kau bertanggung jawab." Suaranya tegas, penuh keteguhan, meskipun jantungnya berdegup kencang.

Adikara menelan ludah, mencoba menemukan kata-kata. Tapi semua yang ia rencanakan untuk mengendalikan situasi tiba-tiba lenyap. Ia merasa dunia yang selama ini ia kuasai mulai runtuh. Ego dan harga dirinya bertempur dengan rasa bersalah dan tanggung jawab.

"Ini... ini tidak bisa begitu saja, Alara. Kau terlalu muda... dan aku..." ucapnya, tapi suaranya terhenti karena kata-kata itu terasa hampa.

Alara mengerutkan dahi, matanya menatap tajam. "Terlalu muda? Aku sembilan belas tahun, Adikara. Aku bukan anak kecil. Dan malam itu bukan sesuatu yang bisa kulupakan. Aku harus menghadapi kenyataan ini, dan aku menuntut tanggung jawabmu."

Keheningan memenuhi ruang kerja itu. Angin dari jendela besar seolah membawa ketegangan tambahan, membuat udara terasa semakin berat. Adikara menunduk, jari-jarinya mengetuk meja tanpa disadari, sementara Alara berdiri tegak, menahan air mata yang ingin tumpah.

"Kalau aku setuju... apa yang kau harapkan dariku? Pernikahan? Atau..." Adikara menatapnya, mencoba memahami apa yang sebenarnya diinginkan gadis itu.

Alara menatapnya tajam. "Aku tidak meminta segalanya, Adikara. Tapi aku ingin kau bertanggung jawab. Untuk anak ini. Untuk aku. Jangan menghindar."

Kata-kata itu menusuk dada Adikara. Ia terbiasa menghindar dari segala masalah, menyelesaikan semuanya dengan cara yang menguntungkan dirinya. Namun kali ini berbeda. Kali ini, tanggung jawab bukanlah sesuatu yang bisa ia jual atau manipulasikan. Kali ini, ada nyawa kecil yang bergantung padanya, dan seorang gadis muda yang harus ia hadapi.

Hari-hari berikutnya menjadi medan pertempuran emosional yang luar biasa. Alara menghadapi tekanan dari keluarganya sendiri. Ayahnya, bos Adikara, merasa marah dan kecewa. Ia menatap putrinya dengan wajah serius, mencoba memahami perasaannya. "Alara, kau tahu siapa pria itu, bukan? Ini Adikara, pria yang memiliki kekuatan lebih dari yang kau bayangkan. Kau yakin ingin menghadapi konsekuensi ini?"

Alara menatap ayahnya tanpa ragu. "Aku tahu, Ayah. Tapi ini bukan soal kekuatan atau status. Ini soal tanggung jawab. Aku tidak bisa membiarkan anakku lahir tanpa seorang ayah. Aku harus memastikan Adikara bertanggung jawab."

Ayahnya menghela napas panjang, menatap putrinya dengan campuran kekhawatiran dan rasa kagum. Ia tahu Alara keras kepala, tapi kali ini pertaruhannya terlalu besar. "Aku hanya ingin kau aman, Nak. Jangan sampai kau terluka lebih dalam."

Di sisi lain, Adikara merasa dunia bisnis dan politiknya mulai terganggu. Gosip tentang hubungannya dengan Alara mulai tersebar, meskipun belum ada bukti konkret. Beberapa kolega dan lawan politik mulai memperhatikan perubahan sikapnya, menunggu kesalahan yang bisa mereka manfaatkan. Namun bagi Adikara, kekuatannya terasa tak berarti dibandingkan rasa bersalah yang menggerogoti hatinya.

Ia mulai memikirkan bagaimana menghadapi Alara. Hatinya berperang antara ego dan rasa bersalah. Ia tahu bahwa menolak akan merusak reputasi gadis itu dan menambah luka di hati seorang anak yang belum lahir. Namun, menerima tanggung jawab berarti mengubah hidupnya sendiri secara drastis-menghadapi sorotan publik, kehilangan kebebasan, dan harus mengubah semua rencana masa depannya.

Suatu malam, setelah banyak pertimbangan, Adikara memutuskan untuk menemui Alara di apartemennya. Ia ingin mendengar langsung apa yang gadis itu inginkan dan bagaimana ia bisa menyelesaikan situasi ini tanpa melukai siapapun lebih dalam.

Alara menatapnya dengan mata yang merah karena menangis. "Aku tidak ingin ini menjadi masalah untukmu, Adikara. Tapi aku tidak bisa membiarkan anak ini lahir tanpa ayah. Aku harus tahu kau bertanggung jawab."

Adikara menunduk, menatap tangan Alara yang menutupi perutnya yang mulai membesar. "Aku... aku akan bertanggung jawab, Alara. Aku tidak akan mengingkari anak ini... atau dirimu." Suaranya serak, penuh dengan emosi yang selama ini ia sembunyikan.

Alara menatapnya, masih ragu, tapi setidaknya ada secercah harapan yang muncul. Dunia mereka yang sebelumnya kacau kini mulai menemukan titik terang, meskipun masih banyak rintangan yang harus mereka hadapi.

Mereka berdua tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Tekanan dari keluarga, masyarakat, dan dunia bisnis Adikara akan selalu membayangi. Gosip, rumor, dan ancaman akan terus hadir. Namun, setidaknya untuk saat ini, mereka menghadapi kenyataan bersama.

Dan begitulah, babak kedua dari kisah mereka dimulai-kisah tentang tanggung jawab, keberanian, dan perjuangan menghadapi kenyataan yang tak pernah mereka inginkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Hari Nikah, Aku Pergi
9.4
Liana Tandra mengambil langkah ekstrem demi lepas dari Hansen Gunadi. Melalui kerja sama rahasia, sebuah jasad tiruan yang sangat mirip dirinya telah disiapkan untuk dikirim tepat di hari pernikahan mereka. Setelah memastikan detail rencana pelarian ini berjalan mulus tanpa kecurigaan, Liana mencoba bersikap tenang saat kembali ke ruang VIP yang mendadak hening. Kisah romansa modern penuh misteri ini membawa pembaca dalam ketegangan takdir Liana yang mempertaruhkan segalanya.
Sampul Novel Gadis Jaminan Tuan Max
7.8
Hera mengira penderitaannya sudah mencapai batas, namun kemalangan lebih besar justru datang menghampiri. Ibunya terjerat utang pada Max, seorang lintah darat kejam, dan kini Hera yang harus menanggung konsekuensinya. Ia dijadikan tawanan sebagai jaminan hingga utang tersebut lunas sesuai tenggat waktu. Jika sang ibu gagal membayar, Hera harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dalam hidupnya. Akankah ia mampu bertahan di bawah kendali penuh Max?
Sampul Novel Tidak Pernah Melihat Kembali: Hati Menginginkan Apa yang Diinginkannya
8.0
Lorenzo dianggap mencintai Gracie hingga ia tega memberikan donor jantung putri mereka kepada wanita lain. Kecewa berat, Gracie menggugat cerai dan bersekutu dengan Waylon, paman Lorenzo, untuk membalas dendam. Rencana itu sukses menghancurkan hidup Lorenzo hingga ia memohon ampun dalam penyesalan. Namun, saat Gracie mengira urusannya selesai, Waylon justru menolak melepaskannya. Kini ia terjerat dalam dominasi pria yang membantunya bangkit tersebut.
Sampul Novel HARMONI BULAN DAN MATAHARI
8.0
Hidup Arlyna Aira berubah gelisah sejak bertemu Gideon Bastian, pria blasteran tampan yang ternyata bukan orang sembarangan. Sebagai pewaris tunggal keluarga terpandang, Gideon telah jatuh hati pada Arlyna sejak awal. Namun, hubungan mereka tidaklah mudah karena rintangan rumit terus membayangi setiap langkah. Di tengah tekanan keadaan yang memaksa untuk menyerah, mampukah Arlyna dan Gideon mempertahankan ikatan cinta tulus mereka hingga akhir?
Sampul Novel Istri Cacat CEO
9.6
Christian Oliver adalah CEO sukses yang tampak memiliki segalanya, namun hidupnya terkekang oleh aturan sang ayah. Di usia 29 tahun, ia dilarang menjalin kasih karena statusnya yang sudah terikat pernikahan sejak remaja dengan Olivia, putri sahabat ayahnya. Meski telah bertahun-tahun mencari, Christian tak kunjung menemukan keberadaan istrinya itu. Ironisnya, tanpa ia sadari sedikit pun, sosok Olivia sebenarnya selalu berada sangat dekat di sisinya selama ini.
Sampul Novel Liang Hangat Sang Penari
8.7
Lisnawati, janda muda usia 16 tahun, kehilangan suaminya, Komar, akibat pembegalan tragis. Sebagai biduan dangdut keliling, pesona dan kecantikan Lisna memikat banyak pria hingga ia direkrut Tante Shinta ke dunia malam. Di sana, ia menjadi primadona dan terlibat hubungan benci tapi cinta dengan Budi Hendrajit, pengusaha kaya yang kerap menghinanya. Meski Budi sangat terobsesi pada Lisna, rencana pernikahan mereka terhalang restu sang ibu yang menentang latar belakang Lisna.