
Aku Tidak Akan Memaafkanmu
Bab 2
Malam itu, Marina tidak tidur sama sekali.
Cahaya dari layar laptop di pangkuannya memantulkan wajah pucatnya, sementara jari-jarinya bergetar halus di atas tombol play.
Rekaman itu masih berulang - adegan dari taman belakang rumah mereka beberapa bulan terakhir.
Semula tampak biasa: Alea sedang membaca di bawah pohon, menyiram bunga, atau bermain dengan kucing peliharaan mereka. Tapi yang membuat jantung Marina berdegup cepat adalah siapa yang selalu muncul di rekaman itu - Reynald.
Selalu ada Reynald.
Selalu berdiri terlalu dekat.
Selalu menatap Alea terlalu lama.
Dan dalam beberapa rekaman, Reynald tidak sadar kalau kameranya aktif. Tatapan itu... bukan tatapan seorang ayah terhadap anaknya.
"Ya Tuhan..." bisik Marina serak. Tangannya menutup mulut sendiri, air matanya jatuh tanpa sadar.
Ia tahu suaminya sudah berubah sejak beberapa tahun lalu - lebih pendiam, lebih gelisah, tapi ia pikir itu hanya karena tekanan pekerjaan atau usia.
Namun kini, setiap potongan video yang ia tonton terasa seperti luka baru yang menusuk jantungnya.
Apakah aku buta selama ini?
Ataukah aku terlalu percaya pada seseorang yang tidak lagi sama?
Pagi harinya, Marina mencoba bersikap biasa. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, menyapa Reynald dan Alea dengan senyum yang nyaris hancur.
Namun dalam diam, matanya terus meneliti - setiap gerak, setiap tatapan.
"Aku buatkan kopi, Pa?" tanya Alea lembut sambil menata roti di meja.
"Seperti biasa, dua sendok gula," sahut Reynald sambil membuka surat kabar.
Alea mengangguk dan berjalan ke dapur.
Marina menatap punggung suaminya lama. Lalu pelan-pelan, ia berkata, "Aku lihat kamu tidur larut semalam."
Reynald menoleh sekilas, suaranya datar. "Ada laporan yang harus aku selesaikan."
"Laporan atau... sesuatu yang lain?" tanya Marina dengan nada halus tapi mengandung duri.
Reynald menurunkan surat kabar. "Apa maksudmu?"
Marina menatapnya tajam, namun hanya sejenak. Ia tersenyum samar. "Tidak. Hanya bertanya."
Alea kembali membawa kopi. "Ini, Pa."
"Terima kasih, sayang," ucap Reynald.
Kata "sayang" itu membuat hati Marina bergetar aneh. Dulu Reynald hampir tak pernah memanggil Alea begitu, bahkan saat gadis itu masih kecil. Tapi belakangan, seolah sudah menjadi kebiasaan.
Marina menggenggam sendoknya erat-erat. Suara logam beradu pelan dengan piring, menggema di ruang makan yang terlalu sunyi.
Hari berganti hari, dan Marina mulai menyelidiki dalam diam. Ia meminta bantuan kepercayaannya, Dewi, seorang staf di yayasan sekaligus teman lamanya, untuk membantu memeriksa rekaman lama.
Mereka duduk di ruang kecil di kantor yayasan sore itu, menatap layar komputer yang menampilkan deretan video keamanan rumah.
"Bu, ini semuanya dari tiga bulan terakhir," kata Dewi hati-hati. "Apa Ibu yakin ingin lihat semuanya? Mungkin tidak semua penting."
Marina menggeleng pelan. "Aku harus tahu."
Mereka menonton dalam diam.
Beberapa video memang biasa - Reynald di ruang kerja, Alea membaca di taman, kadang mereka berbicara di dapur. Tapi semakin lama ditonton, semakin jelas pola yang sama: Reynald selalu mencari alasan untuk dekat dengan Alea.
Dan di beberapa rekaman malam hari...
Tampak Reynald berdiri di depan kamar Alea, hanya berdiri diam beberapa menit sebelum pergi.
Dewi menatap layar dengan wajah tegang. "Bu Marina..."
"Sst..." Marina menahan napas. Ia tak sanggup mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri.
Setelah beberapa menit, Marina menutup laptop dengan gemetar. "Cukup."
"Bu, apa yang sebenarnya-"
"Cukup, Dewi. Tolong jangan ceritakan pada siapa pun."
Dewi mengangguk pelan. Ia tahu batasannya. Tapi dari sorot mata Marina, ia tahu - sesuatu yang besar sedang bergejolak di balik wajah tenang wanita itu.
Malamnya, Marina duduk sendirian di taman belakang. Angin malam berembus lembut, membawa aroma melati yang baru mekar. Di pangkuannya, ada secangkir teh yang sudah dingin.
Ia menatap ke arah kamar Alea yang jendelanya masih terang.
Alea memang bukan darah dagingnya. Tapi cinta Marina padanya tulus, bahkan lebih besar dari apa pun di dunia ini. Ia membesarkan gadis itu dengan kasih, dengan keyakinan bahwa ia sedang menebus kekosongan hidup yang tak bisa diisi oleh keturunan sendiri.
Dan kini... semua cinta itu terasa diuji dengan cara paling kejam.
Langkah pelan terdengar mendekat. "Mama belum tidur?"
Alea berdiri di belakangnya dengan wajah cemas.
Marina tersenyum lembut, menyembunyikan guncangnya hati. "Mama cuma butuh udara segar. Kamu belum tidur juga?"
"Aku sedang baca, tapi tadi dengar suara di taman. Kukira Mama kedinginan."
Marina menepuk kursi di sebelahnya. "Duduk sini."
Alea duduk, menggigit bibir. "Mama kelihatan capek. Ada masalah di yayasan?"
Marina memandang gadis itu lama sekali. Senyum di bibirnya nyaris pudar.
"Kadang, orang bisa menyembunyikan sesuatu yang sangat besar... di balik senyum yang kelihatan tenang," ucapnya pelan.
Alea menatap bingung. "Maksud Mama?"
"Tidak apa-apa." Marina menggeleng, lalu mengusap kepala Alea lembut. "Kamu tumbuh jadi gadis yang baik. Mama bangga sekali."
Alea tersenyum, lalu memeluknya. "Aku sayang Mama."
Pelukan itu hangat, namun di dada Marina terasa seperti bara. Ia ingin percaya semuanya masih seperti dulu, tapi potongan-potongan kebenaran itu terus menampar pikirannya.
Beberapa hari kemudian, Marina memutuskan untuk berbicara langsung pada Reynald.
Ia menunggu hingga malam, ketika Alea sudah tidur, lalu masuk ke ruang kerja suaminya.
Reynald sedang membaca berkas, tapi matanya menatap kosong. Ketika Marina masuk, ia mendongak.
"Kamu belum tidur?" tanyanya.
"Belum. Aku ingin bicara."
Nada suara Marina tegas.
Reynald menutup berkasnya, menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Tentang apa?"
Marina mendekat, berdiri tepat di depan meja. "Tentang Alea."
Tatapan Reynald berubah sekilas. "Alea kenapa?"
"Harusnya aku yang tanya. Alea kenapa?"
Hening panjang. Hanya suara jam di dinding yang berdetak.
"Aku tidak mengerti maksudmu," Reynald akhirnya menjawab, berusaha terdengar tenang.
Marina menatap langsung ke matanya. "Aku sudah lihat rekamannya, Reynald."
Wajah suaminya membeku. "Rekaman apa?"
"CCTV rumah. Kau tahu betul apa yang kumaksud."
Reynald bangkit dari kursi, matanya membulat. "Kau mengawasi aku?"
"Tidak," suara Marina bergetar. "Aku hanya ingin tahu kenapa suamiku menatap anak kami seperti itu. Kenapa kau berdiri di depan kamarnya tengah malam. Kenapa kau menatapnya seolah-"
"Cukup!" Reynald membentak, menghantam meja dengan kepalan tangan.
Suara itu menggema di ruang kerja. Marina tersentak, tapi tak mundur.
"Jawab aku, Reynald! Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?"
Reynald memejamkan mata, menarik napas panjang. "Tidak ada apa-apa. Jangan bicara seolah aku monster."
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau sembunyikan ini? Kenapa aku harus tahu dari kamera, bukan dari suamiku sendiri?"
Reynald menatap istrinya dalam-dalam. Ada kelelahan, ada rasa bersalah, tapi juga ada sesuatu yang gelap di balik matanya.
"Aku hanya... bingung," katanya akhirnya. "Alea tumbuh begitu cepat. Dia mengingatkanku pada masa muda kita, Marina. Aku tidak pernah-"
"Berhenti!" Marina menjerit pelan, suaranya pecah. "Jangan samakan anak itu dengan aku!"
Reynald terdiam.
Air mata Marina jatuh. "Aku percaya padamu, Reynald. Aku mempercayakan Alea padamu. Tapi sekarang, aku bahkan takut memandangmu."
Tanpa menunggu jawaban, Marina pergi meninggalkan ruangan. Pintu tertutup keras di belakangnya.
Reynald berdiri di sana, wajahnya tenggelam dalam bayangan lampu redup. Suara napasnya berat. Ia tahu - sejak malam itu, segalanya tidak akan sama lagi.
Keesokan paginya, Alea menyadari perubahan aneh di rumah.
Mama tidak banyak bicara, Papa tampak gelisah. Suasana yang dulu hangat kini seperti ladang es.
Saat sarapan, Marina hanya berkata singkat. "Alea, minggu depan kamu ikut Mama ke yayasan. Ada program baru yang butuh pengawasan langsung."
"Tapi aku masih bantu Papa di kantor."
"Papa bisa urus sendiri," potong Marina tanpa menatap.
Alea menatap keduanya bergantian, bingung. "Ada yang salah, Ma?"
"Tidak ada, sayang," jawab Marina sambil tersenyum kaku. "Mama cuma ingin kamu dekat Mama dulu."
Reynald hanya diam, menatap piringnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, meja makan keluarga Pradipta terasa seperti medan perang yang sunyi.
Hari-hari berikutnya menjadi berat. Marina membawa Alea lebih sering bekerja di yayasan, menjauhkan gadis itu dari rumah.
Sementara Reynald, yang biasanya sibuk, kini sengaja pulang larut malam. Rumah itu terasa hampa.
Namun suatu sore, ketika Marina sedang rapat, Alea pulang lebih dulu untuk mengambil dokumen. Ia tidak tahu bahwa Reynald juga ada di rumah.
"Pa?" panggilnya dari pintu depan.
Reynald muncul dari ruang kerja. "Kamu belum ikut Mama?"
"Rapatnya belum selesai. Aku cuma ambil map biru yang tertinggal."
Reynald mengangguk. "Baik. Silakan."
Saat Alea menaiki tangga, matanya menangkap pantulan wajah Reynald di kaca lemari - menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Ia menahan napas, lalu pura-pura tidak melihat. Tapi langkahnya semakin cepat.
Di kamar, Alea menutup pintu dan bersandar di baliknya, jantungnya berdegup tak karuan. Ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini tatapan Papa membuatnya tidak tenang.
Namun sebelum sempat menenangkan diri, terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Alea?" suara itu berat. "Kamu baik-baik saja?"
Alea menelan ludah. "Iya, Pa. Aku cuma cari map."
"Boleh Papa bantu?"
"Enggak usah, Pa! Aku sudah ketemu!"
Sunyi. Reynald tidak menjawab, tapi bayangan kakinya terlihat di celah bawah pintu beberapa detik sebelum akhirnya pergi.
Alea menatap pintu itu lama.
Sesuatu di dalam dirinya berkata: ada yang berubah. Dan perubahan itu menakutkan.
Malamnya, Marina pulang. Ia melihat sepatu Alea di depan kamar dan mengetuk pintu perlahan.
"Alea? Sudah tidur?"
Tidak ada jawaban.
Ia membuka sedikit, dan melihat Alea tertidur di atas meja belajar, masih dengan pakaian kerja dan dokumen berserakan.
Marina mendekat, menyelimuti putrinya, lalu memandangi wajah itu dengan air mata yang menetes diam-diam.
"Maafkan Mama, sayang," bisiknya lirih. "Kamu tidak seharusnya terjebak di antara kami."
Ia menatap keluar jendela - ke arah ruang kerja Reynald yang masih menyala.
Wajahnya berubah keras.
Ia tahu, cepat atau lambat, semuanya harus diakhiri.
Dan ketika pagi datang, keputusan besar sudah ia buat.
Di meja sarapan, suasana kembali tegang.
Marina berbicara tanpa basa-basi. "Reynald, aku ingin bicara setelah ini."
Reynald menatapnya dingin. "Tentang apa lagi?"
"Perceraian."
Alea yang baru duduk langsung menatap keduanya. "Mama!"
Marina menoleh cepat. "Kamu makan dulu, sayang."
"Tidak! Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?"
Reynald berdiri, nada suaranya meninggi. "Kau sudah gila, Marina?"
"Tidak," jawab Marina tegas. "Aku hanya ingin kita berhenti menyakiti satu sama lain. Dan aku ingin Alea hidup di lingkungan yang sehat."
Alea menatap keduanya, kebingungan dan ketakutan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Marina menatap anaknya dengan mata berkaca. "Kamu terlalu baik untuk tahu semua ini sekarang, sayang."
Reynald menatap Alea sekilas, lalu kembali ke arah istrinya. "Kau tidak berhak memisahkan aku dari Alea."
"Dia bukan milikmu, Reynald," jawab Marina dingin. "Dia manusia, bukan pelarian dari kesepianmu."
Ucapan itu seperti tamparan keras.
Reynald terdiam. Alea menatap antara keduanya, air matanya jatuh. "Mama, Papa, tolong... jangan bertengkar."
Tapi semuanya sudah terlambat.
Retakan yang dulu kecil kini membesar, tak bisa ditutup lagi.
Malam itu, Marina membereskan barang-barang Alea.
Ia sudah memutuskan untuk pindah sementara ke rumah ibunya.
Namun saat ia membuka laci meja Alea, ia menemukan sebuah surat kecil tertulis tangan.
Mama dan Papa, aku minta maaf kalau aku jadi alasan kalian bertengkar. Aku enggak tahu apa salahku. Aku cuma mau keluarga kita seperti dulu lagi. Tapi kalau aku yang harus pergi supaya Mama dan Papa bahagia, aku akan pergi.
Surat itu membuat Marina terjatuh berlutut.
Tangisnya pecah, menggema di kamar yang sunyi.
Namun di ruang sebelah, Reynald berdiri di depan pintu, mendengarkan.
Matanya merah, wajahnya hancur. Tapi bukan karena penyesalan semata - lebih karena kehilangan sesuatu yang bahkan ia tak bisa definisikan.
Dan malam itu, satu rumah besar yang dulu penuh tawa kini tenggelam dalam senyap yang nyaris menyeramkan.
Di luar, hujan kembali turun, persis seperti malam ketika Alea pertama kali datang ke rumah itu.
Namun kali ini, air hujan tidak membawa harapan baru - hanya kenangan yang perlahan larut bersama penyesalan dan cinta yang tak seharusnya tumbuh.
Anda Mungkin Juga Suka





