
Aku Sayang Om
Bab 2
Di rumah Wisnu, istrinya tengah duduk sembari memijit kepalanya. Wisnu menghampiri sang istri.
"Kamu pusing lagi, San?" tanya Wisnu sembari membantu memijit kepala sang istri.
"Aku capek ngerasain mual dan pusing, Nu."
"Aku minta maaf, ya. Maafin aku."
"Aku harus berhenti sekolah karena hamil, dan sekarang aku cuma berdiam diri di rumah ngerasain mual muntah tiap hari, capek aku." Santi nampak menangis karena merasa lelah. Wisnu mengecup kening Santi dan meminta maaf berkali-kali.
"Aku tahu aku salah. Aku khilaf, San."
"Kalau tahu begitu aku nggak mau dulu pacaran sama kamu, kamu itu buat hidupku jadi hancur. Rumah ini aja kalau bukan Papaku yang belikan mana mungkin kamu sanggup beli?"
"San, aku minta maaf, tapi aku janji aku akan kerja dan buat kamu bahagia."
"Kerja? Kamu aja masih kuliah siapa yang mau nerima kamu?"
"Aku akan berusaha kok, San. Kamu dukung aku aja, ya?" Santi tak menjawab ia malas berdebat dengan Wisnu yang keras kepala. Ia memilih untuk masuk ke dalam kamar dan menenangkan pikirannya.
Ia merasa kesal karena harus mengalami hal ini. Kenapa dulu ia mau dibujuk rayuan setan Wisnu sampai mereka harus melakukan hal itu? Begini sekarang akibatnya. Santi benar-benar menyesal telah kenal dengan Wisnu. Padahal banyak hal yang harus ia lakukan untuk mendapatkan kesuksesan, tapi lihat sekarang. Ia hamil dan harus tinggal di rumah yang berdempetan dengan tetangga. Jelas membuat Santi tak nyaman berada di sini.
Sementara Noe baru pulang sekolah jam 11 pas. Ia tidak pulang bersama keempat sahabatnya melainkan pulang sendiri karena para sahabatnya masih bermain di sekolah. Ia jadi bingung sendiri, entah kenapa hari ini rasanya dia ingin segera pulang dibanding bermain dengan para sahabatnya seperti biasa. Noe sudah mengganti pakaian setelah mandi dan langsung mencari makanan. Namun, saat membuka tudung makanan malah meja nampak kosong tak terisi apa pun. Noe menghela napas karena harus menahan lapar sampai sang tante pulang dari kerjanya. Ia lupa jika tantenya pulang dalam kondisi mabuk maka tidak akan ada makanan yang tersaji di meja makan. Noe turun dari kursi dan keluar rumah, berniat mencari teman-temannya yang siapa tahu sudah pulang dari sekolah. Saat ia baru berada di halaman rumahnya ia kembali mendengar sebuah pertengkaran dari rumah Wisnu. Kali ini pertengkaran mereka terdengar sangat jelas.
"Ngojek?! Kamu gila ya?! Kamu mau kasih makan aku pakai uang hasil ngojek??" teriak istri Wisnu.
"Ya nggak ada masalah kan, cuma buat sementara juga kok."
"Nggak!! Apa kata temenku nanti kalau kamu ngojek!! Aku ini orang kaya masa suaminya ngojek sih?!"
"Ya emang kenapa? Kamu harus mengerti, San. Aku ini masih kuliah jadi belum bisa kerja full time. Kamu harus ngertiin kondisiku juga lah."
"Mau sampai kapan? Hah!! Sampai kapan?!"
Noe yang ada di luar nampak tersentak dan buru-buru masuk ke dalam rumahnya lagi karena tak mau mendengar pertengkaran dua orang yang baru saja mengisi rumah kosong di samping rumahnya.
Beberapa jam kemudian Noe terbangun karena rasa lapar yang teramat sangat. Ia memutuskan untuk meminum banyak air putih agar bisa mengganjal rasa laparnya sebelum menunggu sang tante pulang di teras depan. Dia menutup pintu dan melihat sekeliling, komplek nampak sepi seperti biasanya dan hanya beberapa motor dan mobil yang lewat itu pun jarang. Merasa bosan, akhirnya Noe melangkahkan kakinya untuk menunggu di depan pagar rumah.
Saat baru sampai di depan pagar ia mendengar suara motor mendekat dan ia pun menoleh karena penasaran. Saat ia melihat ke arah motor ternyata ada Om Wisnu. Ia nampak memakai jaket warna hijau terang seperti para abang-abang ojol yang sering dipesan oleh sang Tante.
Begitu Wisnu melihat Noe ia menghentikan laju motornya. Ia sebenarnya masih kesal dengan istrinya tapi melihat Noe membuat emosi Wisnu mereda.
"Mau ke mana, Noe?" tanya Wisnu.
"Nungguin Tante."
“Tumben pake acara ditunggu segala?” ledek Wisnu. Noe manyun dan melipat kedua tangannya di dada.
“Aku laper tahu, Om,” ujarnya yang membuat Wisnu terkesiap.
“Laper?” ulangnya, apa ia tidak salah dengar? Sialnya Noe mengangguk membuat Wisnu menelan ludah. Noe kecil lapar, Wisnu jadi bimbang. Anak sekecil ini mengeluh lapar pada orang dewasa masa tidak ditawari makan, tapi ia tak ada uang lebih untuk membelikan Noe nasi bungkus juga. Bagaimana ya?
“Biasanya Tante suka kasih uang jajan lebih kalau pulang telat gini, Om. Kayaknya Tante gak sempat masak deh hari ini,” jelas Noe lalu ia menatap Wisnu. “Om, mau anter Noe beli makan di depan situ, nggak? Noe nggak bisa pesen makanan sendiri soalnya nggak punya hape, ada juga telpon rumah. Mau jalan ke luar komplek depan juga nggak kebayang capeknya. Soalnya Noe udah laper berat nih, Om.”
“Tapi ….”
“Gini aja deh, kalau Om mau nganterin aku beli makan ntar bakalan Noe traktir deh, gimana?” ujarnya membuat Wisnu berfikir ulang.
“Emang kenapa tiba-tiba mau traktir Om?” tanya Wisnu mengernyitkan dahi.
“Kebetulan tadi pas di sekolah aku makan ditraktir sama Reno CS. Jadi, hari ini aku kaya raya. Udah duit jajan ditambahin Tante, dua kali istirahat dijajanin sama Reno CS meskipun sekarang aku udah laper lagi sih. Lagian kata Tante, kita gak boleh lupa mengucapkan terima kasih setiap sudah ditolong seseorang. Jadi, karena Om udah mau bantuin biar Noe gak kelaperan sampai malem, makanya Noe ikhlas traktir Om.” Wisnu tergelak. Dia tak habis pikir, pintar juga bocah kecil ini tawar-menawar. Akhirnya ia menyanggupi ajakan Noe. Bukan karena tawaran traktiran, tapi tak tega melihat gadis kecil di depannya ini kelaparan lebih lama lagi seperti pengakuannya.
Dengan senang hati Noe naik ke boncengan motor Wisnu setelah mendapatkan kode untuk segera naik ke motor, lalu mereka pun pergi ke warung makan sesuai petunjuk dan pilihan Noelia
.
****
Wisnu dan Noe mengusap bibir mereka dengan tisu secara bersamaan. Lalu mereka saling lempar senyum. Noe bersiap untuk keluar dari warung setelah selesai membayar, tapi ia melihat Wisnu tengah memesan satu bungkus untuk sang istri dengan double ikan. Noe geleng-geleng kepala melihat itu.
‘Banyak juga makannya si istri Om,’ pikir Noe.
Sementara Wisnu tersenyum melihat bungkusan nasi dengan isi dua ikan di dalamnya. Dalam hati ia berkata, ‘Asik, istriku nggak akan ngambek lagi hari ini.’
Mereka pun kembali berkendara menuju ke rumah. Dalam perjalanan mereka hanya saling diam saja membuat jiwa iseng Wisnu kembali muncul. Ia langsung menghentikan laju motornya tiba-tiba, membuat Noe kaget dan hampir terjungkal karena tak berpegangan dengan benar. Karena shock ia pun memukul punggung Wisnu dengan kencang membuat Wisnu kaget tak terkira sekaligus menahan sakit.
“Kok mukul sih, Noe?” tanyanya menahan sakit.
“Lagian, ngapain berhenti mendadak, kalau Noe jatuh gimana coba?!” hardiknya kesal yang membuat Wisnu mati-matian menahan tawanya.
“Ya, maaf. Habis gimana dong? Motornya mogok,” jelasnya membuat Noe yang tadinya marah jadi kasihan.
“Eh, beneran mogok?”
“Iya.”
“Kok bisa?”
“Nggak tahu.”
“Terus gimana?”
“Ya terpaksa dorong mau nggak mau.”
“Siapa yang dorong?”
“Ya Noe lah, masa Om?”
Noe mengerutkan keningnya nampak berfikir, dan entah bagaimana bocah kecil itu mengangguk setuju untuk mendorong motor Wisnu. Dengan senyum tersembunyi Wisnu menaiki motor, kedua kakinya ikut mendorong motor yang sedang didorong oleh Noe karena ini memang akal-akalannya saja.
Sialnya dalam perjalanan mendorong motor, perut Noe mulai mulas karena tadi kekenyangan. Namun, ia gengsi untuk mengatakannya pada si Om. Pasalnya ia tengah terlihat keren dengan mendorong motor, tapi perutnya tak bisa diajak kompromi lagi dan ia pun kentut dengan suara yang nyaring sampai membuat Wisnu kaget dan menghentikan motornya lalu menoleh.
“Noe kentut ya?” tuduhnya dengan tepat. Noe salah tingkah, tapi berusaha menutupi rasa malunya.
“Iya, kentut sekaligus kecepirit!” jawabnya ketus dan Wisnu langsung tergelak mendengar pengakuan Noe. Perutnya sampai sakit karena tak kuasa menahan tawanya. Noe tentu saja kesal bukan main karena Wisnu justru menertawainya.
"Gara-gara Om nih," tuduh Noe pada Wisnu.
"Dih, kenapa jadi salah Om?"
"Ya salah Om, ngapain tadi pakai suruh Noe dorong motor segala?!"
“Ya karena Om pengen ngerjain Noe kalau motornya mogok, hahaha,” jawab Wisnu membuat Noe melotot tak percaya.
“Jadi, Om bohong sama Noe?!” tanyanya kesal.
"Ya kenapa kamu percaya?"
"Ya karena Om orang dewasa yang bisa dipercaya, tapi ternyata salah. Huh! Noe sebel sama Om Wisnu." Noe langsung bergegas pergi meninggalkan Wisnu. Untung rumah mereka sudah dekat, ia pun bergegas masuk ke rumah setelah mengambil kunci dengan tergesa dari dalam tas selempangnya, meninggalkan Wisnu yang bengong seorang diri karena ditinggal pergi seorang bocah setelah dimarahi. Ini yang bocah siapa sih sebenarnya?!
Anda Mungkin Juga Suka





