Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Miskin, tapi Bohong

Aku Miskin, tapi Bohong

Maya adalah pewaris kaya yang memilih menyembunyikan identitas aslinya, namun ia justru mendapat perlakuan kejam dari mertua dan suaminya sendiri. Dirga, sang suami yang dahulu memohon untuk menikahinya, ternyata hanya mengincar harta tabungan Maya dan meremehkannya. Meski menderita, Maya terpaksa bertahan demi melindungi sosok yang ia cintai. Akankah ia mampu melepaskan diri dari belenggu keluarga Dirga, atau selamanya terjebak menjadi budak mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Loh, Bang kok jam segini belum berangkat?" tegurku saat ku lihat Bang Dirga masih asyik duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan permainan di gawainya

"Berisik kamu. Lagi males kerja aku ini," jawabnya santai dengan pandangan yang tak lepas dari gawainya.

"Kok malah nyantai sih, Bang. Abang kan harus kerja nanti kalo terlambat terus Abang di tegur loh. Kan kemarin abis terlambat sampai gak masuk kantor," ucapku memperingati tentang dirinya yang kemarin bisa di bilang bolos karena tidak di ijinkan masuk oleh satpam kantor.

"Halah paling cuma teguran. Lagian kalo aku di pecat kan masih ada kamu yang kerja. Ngapain aku susah-susah kerja. Kan ada kamu," jawabnya santai yang membuatku ingin mengetuk kepalanya menggunakan palu godam.

"Loh, aku kan cuma istri, Bang. Tugasku hanya membantu bukan harus jadi yang utama jadi tulang punggung," jawabku tidak terima dengan ucapannya.

"Bawel banget jadi bini. Aku ceraikan baru tau rasa kamu!" ancamnya kepadaku.

"Ceraikan saja, Bang!" jawabku sambil berlalu keluar rumah karena hari sudah semakin siang dan aku harus ke kantor.

Pagi yang sangat menyebalkan dan suami yang tidak kalah menyebalkannya. Memangnya dia lupa tugas seorang suami itu seperti apa. Masa harus aku yang jadi tulang punggung keluarganya. Mana cukup dengan gaji yang selama ini di transfer ke rekeningku jika Bang Dirga menganggur. Untuk makan saja pas-pasan apalagi utuk memenuhi gaya hidup Ibu dan Kakaknya yang selalu ingin terlihat wah. Bisa terancam makan batu dan pasir aku ini.

Dengan wajah bersungut-sungut aku melangkah meninggalkan rumah. Ku sumpahi hidup kalian tidak akan bahagia, Bang. Rutuku secara tidak sadah. Eh jangan ding, jangan sekarang. Aku masih ingin membuat mereka tertawa sebelum mereka mengetahui kebenarannya.

"Mari, Bu kita ke kantor," ucap Pak-Pak. Aduh Pak siapa sih ini. Aku tau dia salah satu supir yang aku pekerjakan tapi aku lupa namanya.

"Eh iya nama Bapak siapa ya, Pak?" tanyaku saat bapak tersebut baru duduk di belakang kemudi.

"Parman, Bu," jawabnya sopan.

"Oh iya Pak Parman, sebelum ke kantor kita mampir ke restoran dulu ya saya belum sarapan. Bapak sudah sarapan apa belum kalo belum kita barengan," tawarku dengan merasakan perut yang keroncongan.

Ya beginilah aku. Hidupku tidak ku jadikan ribet. Jika ada orang yang baik terhadapku akan aku perlakukan dengan baik. Tapi jika ada yang menyakitiku akan aku tunjukan rasa sakit itu sendiri. Toh bagiku aku dan semua karyawanku itu sama yang beda hanya muka dan tempat tinggal. Nggak juga deng maksudnya yang beda hanya amal ibadah. Begitu.

¤¤¤

Di kantor aku terus memikirkan bagaimana kelanjutannya hidupku. Lama-lama aku sudah mulai bosan dengan drama ini. Ingin ku akhiri namun belum saatnya ingin ku lanjutkan aku kelaparan. Ah bodo amat lah aku lanjutkan saja drama ini. Biarkan aku makan enak selama di kantor saja dulu di rumah harus rela jadi gembel.

Tring tring

Gawaiku berbunyi. Itu gawai jeleku yang biasa aku gunakan saat di rumah mertua. Gawai dengan harga murah yang kacanya sudah retak sana sini. Pemberian dari Bang Dirga saat baru menikah dulu. Jangan mengira dia membelikanku gawai secara cuma-cuma ya. Aku harus merelakan gawaiku yang lebih mendingan dari ini untuk di jual dan di gantikan oleh gawai yang mungkin sudah seribu kali berciuman dengan lantai bahkan aspal jalanan. Miris sekali.

"Iya, halo assalamualaikum, ada apa, Bang?" Ucapku

"Heh Maya. Tadi ku lihat kamu naik mobil bagus. Itu mobil siapa?" tnya Bang Dirga to the point.

"Mobil kantor, Bang aku numpang," jawabku berbohong. Tidak mungkin kan aku bilang itu mobilku. Bisa-bisa di jual Bang Dirga nanti.

"Owh ya sudah," singkat padat dan jelas.

Tit

Sambungan terputus

Apa-apaan ini. Ngapain Bang Dirga menelfonku hanya menanyakan soal ini. Membuang waktuku saja. Lebih baik aku kembali mengecek beberapa berkas yang harganya milyaran.

Tapi jika di pikir-pikir. Bang Dirga seperti mencurigakan. Bagaimana mungkin Bang Dirga tau aku tadi naik mobil sedangkan saat aku berangkat pun aku masih menyaksikan Bang Dirga yang sedang nge-game di ruang tamu. Ada yang tidak beres ini.

Saat aku tengah melamun tiba-tiba satu ide terlintas di isi kepalaku. Ternyata isi kepala yang sudah semrawut ini masih bisa untuk berfikir. Aku tertawa dalam hati.

"Akan aku buat kalian kelabakan. Apa yang bisa kalian lakukan tanpa bantuan gajiku," tawaku membahana di ruangan.

Ceklek.

"Kamu kenapa, May" tiba-tiba Ilham datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Heh kutu kupret. Kalo masuk itu pintunya di ketok dulu bisa gak sih?" sungutku,

Ilham ini temanku dari masa kanak-kanak dan dialah yang paling menentang rencana pernikahanku dulu dengan Bang Dirga. Ilham mengatakan Bang Dirga itu tidak sesuai dengan aslinya. Iya memang sih perkataannya benar semua. Ternyata selama pacaran sikap Bang Dirga jauh berbeda dengan setelah menikah. Aku menyesal.

"Santai aja, Non. Ini aku bawa berkas yang harus kamu periksa," ujarnya sembari menyerahkan berkas kearahku.

"Berkas apa itu?" tanyaku dengan menaikkan sebelah alisku.

"Biasa, berkas pengajuan kerja sama. Ini dari Bank Surya Cipta untuk perusahaan kita," jawabnya santai sambil berjalan lalu duduk pada sofa ruang kerjaku tanpa ku persilahkan duduk. Sekali lagi ku pertegas ya. Tanpa ku persilahkan duduk.

Songong banget kan itu karyawan satu. Seenak jidatnya masuk ke ruangan atasan lalu duduk tanpa permisi dan sekarang coba kita lihat dia sedang mengacak-acak isi kulkas pribadi yang sengaja aku taruh di samping sofa untuk menyimpan berbagai macam minuman dingin dan makanan sebagai pengganjal perut saat tugasku masih menumpuk dan belum sempat makan.

"Tunggu-tunggu. Bank apa tadi katamu?" tanyaku memastikan.

"Bank Surya Cipta," jawabnya sambil memakan buah apel yang baru saja di dapatkannya dari dalam kulkasku.

Bang Surya Cipta. Menarik juga. Bank itu adalah Bank tempat dimana Bang Dirga bekerja menjadi salah satu staf berpengaruh di sana. Aku tidak tau posisinya apa hanya tau tempat kerjanya dan Bang Dirga sudah mewanti-wantiku untuk jangan sampai datang ke tempat kerjanya untuk mencarinya. Aneh.

"Iya aku terima. Ini sudah aku tanda tangani. Silahkan keluar dari ruanganku!" dengan cepat ku tanda tangani proposal pengajuan kerja sama ini.

Uhuk uhuk

"Kamu serius, Ya?" Ya dia memanggilku Aya. Seperti panggilanku selama ini di rumah maupun di kantor. Tapi tanpa embel-embel Bu seperti bawahan ke atasannya. Cukup sopan bukan untuk bawahan kurang ajar seperti Ilham ini.

"Serius dong. Sekarang silahkan kamu pergi dari ruanganku. Pintu keluar ada di sebelah sana Bapak Ilham yang terhormat!" ku persilahkan karyawan yang tidak ada sopan santunnya ini untuk pergi.

¤¤¤

"Assalamualaikum," ucapku sambil membuka pintu rumah. Seperti yang selama ini ku dapatkan. Pemandangan pertama yang tersaji setelah aku pulang bekerja adalah rumah yang berantakan sekali. Kapal pecah pun lewat.

"Tumben masih sore udah pulang," jawab Bang Dirga yang sedang menonton tv.

"Iya, Bang. Ini ada surat dari kantor," ku serahkan sebuah amplop yang tadi siang ku cetak. "Aku masuk dulu ya mau ganti baju," imbuhku seraya berlalu dari hadapan Bang Dirga setelah meletakan amplop tersebut di atas meja.

Ku lirik Bang Dirga mulai membuka amplop tersebut dan membacanya. Ku amati perlahan ekpresinya mulai berubah menjadi keruh.

"APA?" Teriaknya menggelegar di seluruh penjuru ruangan.

Aku hanya terkikik geli di dalam kamar. Pasti Bang Dirga telah selesai membaca surat itu. Rasakan kamu, Bang!

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NCB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NCB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Yang Tak Pantas Kupertahankan
8.9
Seminggu sebelum pernikahan, Jimmy menuntut untuk menikahi cinta pertamanya demi memenuhi wasiat terakhir mendiang ibunya. Ia bahkan meremehkan proyek perhiasan bernilai triliunan rupiah yang telah disiapkan bersama. Menyadari ketidakpedulian tunangannya, sang protagonis wanita memutuskan untuk menyerah pada hubungan beracun ini. Ia segera menghubungi keluarganya untuk mencari calon suami baru demi menyelamatkan reputasi dan bisnisnya. Kisah pengkhianatan dan pencarian cinta sejati yang baru pun dimulai.
Sampul Novel DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
9.6
Alvino Rakha Satyawidjaya, putra tunggal konglomerat properti Asia, memilih mandiri sebagai guru meski bergelimang harta. Di sisi lain, Rachelia Amora Dirgantara adalah primadona SMA Cakrawala yang menjalin kasih dengan Leonel Grestavio. Hubungan harmonis mereka seketika hancur saat Rachel mengetahui rencana perjodohan dirinya. Tak disangka, sosok calon suaminya adalah gurunya sendiri di sekolah. Konflik pun bermula saat cinta dan kewajiban mulai berbenturan.
Sampul Novel Gairah Ceo Arogan
7.8
Adam Longthen diselimuti amarah besar setelah dikhianati Asley, istrinya sendiri. Walau Asley dikabarkan tewas dalam kecelakaan bersama selingkuhannya, Adam tetap memerintahkan pencarian hingga titik darah penghabisan. Keajaiban muncul saat anak buahnya membawa pulang seorang wanita berwajah serupa, namun ia mengaku sebagai Alin dan menolak identitas lamanya. Apakah wanita itu benar-benar Asley yang hilang ingatan, ataukah ada rahasia gelap di balik kemiripan mereka?
Sampul Novel Gairah Isteri Kedua
8.4
Ellea terpaksa mengambil keputusan besar dalam hidupnya dengan menjadi istri kedua bagi Anderson. Sebagai seorang CEO muda yang berkuasa, Anderson membawa Ellea masuk ke dalam kehidupan pernikahan yang penuh dengan teka-teki. Apa sebenarnya alasan kuat yang memaksa Ellea bersedia menerima posisi tersebut? Ikuti kisah romansa penuh konflik ini saat ia harus menghadapi kenyataan pahit di balik statusnya sebagai wanita kedua dalam hidup sang konglomerat.
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Sandhya Sheina Aninditha sangat membenci keluarga Levanchois, namun terpaksa bertahan demi sebuah misi rahasia di tengah intrik kantor yang toksik. Saat ingin balas dendam dan mengundurkan diri, ia justru bertemu Samuel Clark Levanchois, pria paling berkuasa di keluarga itu. Samuel menawarkan kontrak bisnis yang menggiurkan demi membebaskan Sheina dari bos lamanya. Terjebak dalam persaingan dominasi, mampukah Sheina lepas dari jerat cinta pria yang sangat ia benci tersebut?
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Abraham
8.5
Demi memenuhi wasiat Mikhaela yang sakit parah, Abraham Wijaya terpaksa meminta Jihan, asisten rumah tangganya, untuk menjadi istri kedua. Meski sempat menolak, Jihan akhirnya setuju demi membalas budi. Namun, situasi menjadi rumit saat Jihan hamil dan sikap Abraham mulai berubah. Rasa cemburu membakar hati Mikhaela hingga ia mengusir Jihan. Kini, Jihan terjebak dalam dilema antara pergi membawa kandungannya atau bertahan demi cinta yang mulai tumbuh.