
Aku Menikah, Tapi Bukan Untuk Dicintai
Bab 2
Lana memandangi dirinya di cermin apartemen kecilnya. Malam ini, ia akan bertemu dengan Cedric Vellani untuk pertama kalinya. Pria yang harus ia hancurkan.
Tangannya meremas kain gaun sederhana yang dipinjamnya dari Valerie. Bahannya lembut, jatuh sempurna di tubuhnya, menampilkan siluet yang lebih mewah daripada pakaian yang biasa ia kenakan. Tapi tetap saja, ia merasa seperti seorang penyusup dalam dunianya sendiri.
Suara notifikasi ponsel mengalihkan perhatiannya. Pesan dari Valerie.
"Mobil sudah menunggumu di bawah. Ingat, jangan gugup. Kau hanya perlu bersikap alami. Buat Ayah terpesona. Aku percaya padamu."
Lana mengembuskan napas panjang. Ia tidak yakin bisa melakukan ini, tetapi sudah terlambat untuk mundur.
Dengan langkah ragu, ia mengambil tas kecilnya dan berjalan keluar.
Mobil mewah yang dikirim Valerie membawanya ke sebuah restoran eksklusif di pusat kota. Tempat yang hanya dihuni orang-orang dari kalangan atas, seperti Cedric Vellani.
Saat ia melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada pria itu.
Cedric duduk di meja pribadi di sudut ruangan, ditemani segelas wine merah. Posturnya tegap, dengan jas hitam yang disesuaikan sempurna untuk tubuhnya yang masih tegap di usianya yang lebih dari 45 tahun. Rahangnya tegas, matanya tajam dan penuh perhitungan.
Lana menelan ludah. Ini bukan pria biasa. Ini adalah seseorang yang telah terbiasa mengendalikan segalanya di sekelilingnya.
Ia menarik napas dalam, mengumpulkan keberaniannya sebelum melangkah mendekat.
Cedric mengangkat wajah saat merasakan kehadirannya. Mata gelapnya meneliti Lana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan tatapan cabul, tetapi dengan penilaian dingin yang membuat bulu kuduk Lana berdiri.
"Selamat malam, Tuan Vellani," Lana membuka suara, berusaha terdengar percaya diri.
Cedric tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap winenya perlahan, seolah menimbang-nimbang sesuatu.
"Kau bukan bagian dari lingkaran sosialku," katanya akhirnya. "Siapa yang mengundangmu?"
Lana tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
"Apakah itu penting?" balasnya, mencoba bersikap menggoda seperti yang diajarkan Valerie.
Satu alis Cedric terangkat. "Sangat penting."
Lana menelan ludah. Pria ini bukan seseorang yang bisa dimanipulasi dengan mudah.
Tapi ia tak boleh mundur.
"Aku kebetulan ada di sini, dan aku melihat Anda duduk sendirian. Saya hanya berpikir... mungkin Anda butuh teman bicara," katanya dengan nada seramah mungkin.
Cedric diam sejenak sebelum akhirnya menepuk kursi di seberangnya.
"Kalau begitu, duduklah."
Lana merasa lega, meski hanya sedikit. Ia duduk, berusaha menjaga posturnya tetap anggun.
Seorang pelayan segera datang, menawarkan menu. Lana melihat daftar harga dan hampir tersedak. Satu hidangan di tempat ini lebih mahal daripada uang sewa apartemennya selama sebulan.
Cedric tampaknya memperhatikan reaksi kecilnya.
"Pesan saja apa pun yang kau mau," katanya.
Lana tersenyum tipis. "Mungkin saya hanya akan memesan minuman."
Cedric menyandarkan punggungnya ke kursi, mengamatinya dengan seksama.
"Aku tidak suka basa-basi," katanya tiba-tiba. "Katakan padaku, apa sebenarnya tujuanmu?"
Denyut jantung Lana berdetak lebih cepat.
"Maksud Anda?"
Cedric mengetuk gelas winenya dengan jari.
"Wanita cantik sepertimu tidak akan mendekati pria sepertiku tanpa alasan. Jadi, apakah ini tentang uang? Atau ada hal lain yang kau inginkan?"
Lana mencoba mempertahankan ketenangannya. Ia tahu Cedric cerdas. Ia bukan tipe pria yang bisa dibodohi dengan kata-kata manis.
"Kenapa Anda berpikir bahwa saya menginginkan sesuatu?"
Cedric tersenyum kecil, tetapi senyuman itu dingin.
"Karena aku sudah terlalu sering melihat permainan seperti ini."
Lana menggigit bibirnya.
Ini tidak akan mudah.
Obrolan mereka berlanjut, meski lebih terasa seperti pertempuran mental dibanding percakapan biasa. Cedric terus menguji, sementara Lana berusaha bertahan.
Namun, ada satu hal yang ia sadari sepanjang malam itu: Cedric bukan pria yang mudah didekati.
Ia tajam, penuh kontrol, dan tak mudah terpengaruh oleh pesona siapa pun.
Saat makan malam berakhir, Cedric berdiri lebih dulu.
"Kau menarik," katanya singkat.
Lana menatapnya, menunggu kata-kata berikutnya.
"Tapi aku tidak tertarik pada permainan kecil ini," lanjut Cedric.
Darah Lana membeku.
"Apa maksud Anda?"
Cedric tersenyum tipis, lalu membungkuk mendekatinya, berbisik di telinganya dengan nada rendah yang penuh bahaya.
"Jika kau mendekatiku dengan motif tersembunyi, aku sarankan kau berhati-hati."
Lana menahan napas.
Sebelum ia sempat merespons, Cedric sudah berjalan pergi, meninggalkannya dalam kebingungan dan ketakutan.
Saat Lana kembali ke apartemennya malam itu, Valerie langsung menelepon.
"Bagaimana? Apa Ayah tertarik?"
Lana menggigit bibirnya.
"Aku pikir dia sudah mencium sesuatu. Dia tidak bodoh, Val."
Valerie menghela napas. "Aku tahu Ayah cerdas, tapi kau juga bukan wanita biasa, Lana. Aku yakin kau bisa membuatnya goyah."
Lana terdiam.
Sebelum bertemu Cedric, ia berpikir ini hanya akan menjadi tugas sulit. Tapi kini, ia menyadari sesuatu yang lebih besar-Cedric bukan hanya sulit, ia berbahaya.
Dan kini, ia telah menarik perhatian pria itu.
Bukan dalam cara yang ia inginkan.
Bukan sebagai wanita yang menggoda.
Tetapi sebagai ancaman yang harus diawasi.
Dan itu lebih berbahaya dari yang ia perkirakan.
Anda Mungkin Juga Suka





