
Aku Kehilangan Bayiku
Bab 2
Maya berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Bukan lagi Maya yang dulu, wanita yang selalu tersenyum dan memaksakan kebahagiaan. Wanita di cermin itu adalah bayangan dari dirinya yang lama, sebuah cangkang kosong yang ditinggalkan badai. Matanya cekung, kulitnya pucat, dan ada kerudung kesedihan yang tak bisa disembunyikan di seluruh wajahnya. Ia menyentuh perutnya yang kini rata, sebuah sentuhan yang mengirimkan gelombang nyeri tajam ke hatinya. Di sana, di bagian itu, seharusnya ada kehidupan. Kehidupan yang Reza renggut tanpa ia sadari.
Sudah tiga bulan berlalu sejak ia meninggalkan apartemen itu, meninggalkan Reza, dan meninggalkan semua yang pernah ia sebut rumah. Tiga bulan yang terasa seperti selamanya, namun sekaligus seperti baru kemarin. Setiap hari adalah perjuangan. Bangun di pagi hari terasa seperti mendaki gunung es, dan tidur di malam hari adalah pelarian singkat dari mimpi buruk yang menghantuinya. Ia pindah ke sebuah rumah kecil yang tenang di pinggir kota, jauh dari hiruk pikuk Jakarta, jauh dari ingatan yang menyakitkan. Rumah itu adalah warisan dari mendiang neneknya, sebuah tempat yang dulu selalu menjadi pelarian dan pelipur lara. Kini, tempat itu terasa dingin dan kosong, seperti jiwanya.
Ia mencoba mengisi hari-harinya dengan hal-hal sederhana. Menanam bunga di halaman belakang, membaca buku-buku lama, atau hanya duduk di teras, menatap pepohonan rindang. Namun, apa pun yang ia lakukan, bayangan itu selalu ada. Bayangan Reza, bayangan bayinya, bayangan semua yang telah ia hilangkan. Ia tidak lagi merasakan amarah yang membara seperti saat itu. Kini, hanya ada mati rasa yang mencekik, sebuah kehampaan yang tak berujung.
Satu-satunya orang yang masih ia izinkan masuk ke dunianya adalah Clara, sahabat lamanya. Clara adalah satu-satunya yang tahu seluruh cerita Maya, dari awal hingga akhir. Ia adalah bahu tempat Maya menangis, telinga yang selalu mendengarkan, dan suara yang mengingatkannya untuk tetap bernapas. Clara sering datang berkunjung, membawa makanan, atau sekadar duduk diam di samping Maya, menemaninya dalam keheningan. Clara tidak pernah memaksa Maya untuk bicara, tidak pernah menghakimi, hanya ada. Dan bagi Maya, kehadiran Clara adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak sepenuhnya tenggelam.
"Bagaimana kabarmu hari ini, May?" tanya Clara suatu sore, saat mereka duduk di teras.
Maya mengangkat bahu. "Sama saja, Clar. Kosong."
Clara menghela napas. "Kau harus makan lebih banyak, May. Kau semakin kurus."
Maya hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku tidak nafsu."
"Aku tahu, tapi kau harus kuat. Demi dirimu sendiri." Clara mencoba menggenggam tangan Maya, tetapi Maya menariknya perlahan. Ia tidak ingin disentuh. Sentuhan apa pun terasa asing, bahkan menyakitkan.
Clara tidak memaksakan diri. Ia tahu Maya membutuhkan waktu. "Apakah kau masih memikirkan Reza?" tanyanya hati-hati.
Maya menoleh, menatap jauh ke depan. "Reza? Tidak. Aku tidak lagi memikirkannya. Bagiku, dia sudah mati." Suaranya datar, tanpa emosi. Sebuah pernyataan yang final.
Clara menatap Maya dengan prihatin. Ia tahu bahwa pernyataan itu bukan tanda bahwa Maya telah pulih. Itu adalah tanda bahwa Maya telah membangun dinding yang sangat tinggi di sekeliling hatinya, menutup rapat semua pintu, bahkan pintu untuk kesedihan sekalipun. Rasa sakit itu terlalu besar, terlalu mendalam, sehingga satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan mematikan semua perasaan.
Maya memang telah berubah. Wanita yang dulu lembut, penuh kasih, dan selalu mengutamakan orang lain, kini menjadi dingin dan apatis. Ia tidak lagi peduli pada penampilan, pada apa yang orang lain pikirkan, bahkan pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin waktu berhenti, agar ia bisa tetap berada di tempat di mana rasa sakitnya tidak lagi bertambah, di mana tidak ada lagi yang bisa diambil darinya.
Sementara itu, di sisi kota yang lain, Reza hidup dalam neraka pribadinya. Apartemennya terasa begitu luas, begitu kosong, begitu dingin tanpa Maya. Setiap sudut ruangan dipenuhi oleh kenangan yang menyakitinya. Aroma masakan Maya yang dulu selalu memenuhi dapur, kini tergantikan oleh keheningan yang memekakkan. Senyum Maya yang dulu selalu menyambutnya pulang, kini hanya menjadi bayangan yang menghantuinya dalam mimpi.
Reza tidak bisa tidur. Jika pun ia bisa memejamkan mata, ia akan dihantui oleh gambaran mengerikan tentang hari itu: Maya yang tergeletak di lantai, tubuh bayinya yang mungil dan tak bernyawa di pelukan Maya, dan tatapan mata Maya yang kosong. Ia sering terbangun dengan keringat dingin, napas tersengal-sengal, rasa bersalah yang mencekik.
Ia mencoba mencari pelarian. Ia bekerja tanpa henti, dari pagi hingga larut malam. Ia memenuhi jadwalnya dengan rapat, perjalanan bisnis, apa pun yang bisa membuatnya lupa. Namun, di balik semua kesibukan itu, kekosongan itu tetap ada. Semakin ia mencoba menghindarinya, semakin kuat kekosongan itu menariknya ke dalam jurang keputusasaan.
Reza yang dulu angkuh dan dingin, kini tampak kacau. Rambutnya seringkali acak-acakan, matanya merah karena kurang tidur, dan ia kehilangan berat badan secara drastis. Rekan-rekan kerjanya menyadari perubahannya, tetapi tidak ada yang berani bertanya. Mereka hanya meliriknya dengan tatapan prihatin, yang justru semakin memperburuk perasaannya.
Ia mencoba mencari Maya. Ia pergi ke rumah orang tua Maya, tetapi mereka menatapnya dengan kebencian yang terang-terangan. "Jangan pernah lagi tunjukkan wajahmu di sini, Reza," kata ayah Maya, suaranya dipenuhi amarah. "Kau sudah menghancurkan putriku. Kau sudah membunuh cucuku."
Kata-kata itu menghantam Reza. Ia tahu mereka benar. Ia adalah penyebab semua ini.
Ia bahkan menyewa detektif swasta untuk menemukan Maya, tetapi hasilnya nihil. Maya seolah lenyap ditelan bumi, meninggalkan jejak yang tak terdeteksi. Setiap laporan dari detektif yang mengatakan "tidak ada informasi" semakin memperdalam keputusasaan Reza. Ia mulai merasakan apa yang Maya rasakan dulu: pengabaian. Ia merasa tak berdaya, tidak ada.
Suatu malam, Reza duduk di ruang tamu yang gelap, memandangi bingkai foto pernikahan mereka. Foto itu menampilkan Maya yang tersenyum lebar, dengan gaun putihnya yang indah, dan Reza di sampingnya, dengan senyum tipis yang dipaksakan. Dulu, ia tidak menyadari betapa indahnya senyum Maya, betapa tulusnya tatapan mata itu. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, terlalu buta oleh ambisinya.
Ia ingat kata-kata Maya di hari itu: "Terlambat, Reza. Terlambat untuk segalanya." Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, menghantuinya. Apakah benar-benar terlambat? Bisakah ia benar-benar memperbaiki kesalahannya?
Reza mulai merefleksikan hidupnya. Ia menyadari bahwa ia selalu mencari validasi dari luar, dari kesuksesan, dari pujian orang lain. Ia membangun dinding di sekeliling hatinya karena takut terluka, takut menunjukkan kelemahan. Ia tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar, bagaimana menunjukkan kasih sayang, bagaimana menjadi seorang suami yang utuh. Ia melihat kembali bagaimana ia memperlakukan Maya, dan rasa mual menyerang perutnya. Ia telah menyiksa wanita yang paling mencintainya, mengabaikannya hingga ia hancur.
Ia mengingat semua hal kecil yang Maya lakukan untuknya: menyiapkan sarapan setiap pagi meskipun ia tidak pernah menyentuhnya, memilihkan dasi yang cocok untuk rapat penting, menungguinya pulang setiap malam. Ia mengingat bagaimana Maya selalu ada di sisinya, di saat ia jatuh atau di saat ia meraih puncak. Maya adalah fondasinya, tiang penyangga yang diam-diam menopang hidupnya. Dan ia telah menghancurkan fondasi itu.
Penyesalan itu begitu besar, begitu menyesakkan, sehingga Reza mulai mencari bantuan. Ia menemui seorang terapis. Awalnya, ia enggan, merasa bahwa itu adalah tanda kelemahan. Namun, keputusasaan yang ia rasakan mendorongnya untuk mencoba.
Di sesi terapi pertamanya, Reza duduk kaku, sulit untuk berbicara. Ia terbiasa menekan emosinya, menyembunyikan semua kelemahannya. Namun, perlahan, dengan bimbingan sang terapis, ia mulai membuka diri. Ia menceritakan tentang masa kecilnya, tentang orang tuanya yang selalu sibuk dan kurang ekspresif, tentang tekanan untuk selalu berhasil, tentang ketakutannya akan kegagalan.
"Saya tidak tahu bagaimana menunjukkan perasaan, Dokter," katanya, suaranya serak. "Saya tidak tahu bagaimana mencintai dengan benar. Saya pikir selama saya menyediakan kebutuhan materi, itu sudah cukup."
Terapis itu mengangguk. "Banyak orang memiliki pemikiran seperti itu, Tuan Reza. Tapi cinta tidak hanya tentang materi. Cinta adalah tentang kehadiran, tentang perhatian, tentang dukungan emosional."
Reza mendengarkan, setiap kata terasa seperti tamparan keras. Ia menyadari betapa piciknya pandangannya selama ini. Ia telah merampas hak Maya untuk merasakan cinta yang utuh, yang sejati. Ia telah merenggut kebahagiaan dari wanita yang paling berhak mendapatkannya.
"Saya mencintai Maya, Dokter," katanya, suaranya bergetar. Ini adalah pengakuan yang sangat sulit baginya, pengakuan yang seharusnya ia ucapkan pada Maya bertahun-tahun yang lalu. "Saya sungguh mencintainya. Tapi saya terlalu bodoh untuk menyadarinya, dan terlalu pengecut untuk menunjukkannya."
Terapis itu menatapnya dengan empati. "Penyesalan adalah langkah pertama menuju perubahan, Tuan Reza. Tapi perjalanan ini akan sangat panjang. Anda harus belajar untuk memaafkan diri sendiri, dan kemudian, jika ada kesempatan, berjuang untuk mendapatkan kembali kepercayaan Maya."
Reza tahu itu tidak akan mudah. Maya telah pergi, dan ia telah melihat bagaimana kehancuran telah mengubahnya. Maya yang ia lihat di hari itu, di antara darah dan kesedihan, adalah wanita yang sudah berbeda. Wanita yang tidak lagi membutuhkan dirinya.
Suatu sore, Clara menerima telepon dari nomor tak dikenal. Ia ragu-ragu mengangkatnya, tetapi kemudian memutuskan untuk menjawab.
"Halo?"
"Clara? Ini Reza." Suara itu terdengar lelah, rapuh, jauh dari suara Reza yang ia kenal dulu.
Clara terdiam sejenak. "Ada apa?" tanyanya dingin. Ia tidak pernah menyukai Reza. Ia selalu melihat bagaimana Reza memperlakukan Maya, dan ia selalu ingin melayangkan tinju ke wajah pria itu.
"Aku... aku ingin tahu bagaimana kabar Maya," kata Reza, suaranya penuh keraguan. "Aku... aku mencarinya. Tapi aku tidak bisa menemukannya."
Clara tertawa getir. "Sekarang kau mencarinya? Setelah kau menghancurkannya?"
"Aku tahu aku salah, Clara. Aku tahu aku pantas mendapatkan semua kebencianmu. Tapi aku... aku sungguh menyesal. Aku ingin bertemu Maya. Aku ingin meminta maaf."
"Minta maaf? Untuk apa, Reza? Untuk membunuh anaknya? Untuk menghancurkan jiwanya?" Clara tidak bisa menahan amarahnya. "Maya sudah berbeda, Reza. Ia tidak lagi membutuhkanmu. Ia tidak ingin melihatmu."
Reza terdiam di ujung telepon. "Aku tahu itu. Tapi aku harus mencoba. Aku harus melihatnya. Aku harus mengatakan semua ini padanya."
Clara berpikir keras. Di satu sisi, ia ingin melindungi Maya dari rasa sakit lebih lanjut. Di sisi lain, ia melihat ada penyesalan yang tulus dalam suara Reza. Dan ia juga tahu bahwa Maya harus menghadapi masa lalunya suatu hari nanti, jika ia ingin benar-benar pulih.
"Aku tidak bisa berjanji apa-apa," kata Clara akhirnya. "Tapi aku akan coba bicarakan dengannya. Jangan berharap banyak."
"Terima kasih, Clara. Terima kasih banyak." Ada nada lega dalam suara Reza.
Setelah menutup telepon, Clara menatap Maya yang sedang duduk di teras, memandangi langit. Bagaimana ia harus menyampaikan ini pada Maya? Apakah ini akan memicu kembali rasa sakitnya, atau justru menjadi katalisator bagi kesembuhannya?
Clara memutuskan untuk menunggu. Ia tahu bahwa Maya tidak akan siap untuk percakapan itu saat ini.
Beberapa hari kemudian, Clara memberanikan diri. "Maya," katanya pelan. "Reza menghubungiku."
Maya tidak bereaksi. Ia hanya menatap kosong ke depan. "Untuk apa?" suaranya datar.
"Dia... dia ingin bertemu denganmu. Dia ingin meminta maaf."
Keheningan menggantung di udara. Maya tidak bergerak. Clara menunggu, menahan napas. Ia mengharapkan ledakan emosi, tangisan, atau bahkan kemarahan. Namun, tidak ada apa-apa.
"Aku tidak peduli," kata Maya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tidak ingin melihatnya."
"May, setidaknya dengarkan apa yang ingin dia katakan," bujuk Clara. "Mungkin itu bisa memberimu sedikit ketenangan."
"Ketenangan?" Maya menoleh, menatap Clara dengan mata yang terasa kosong. "Tidak ada ketenangan bagiku, Clara. Tidak ada lagi yang tersisa di dalam diriku. Dia sudah mengambil semuanya."
Clara tahu bahwa Maya benar. Rasa sakit itu terlalu dalam. Luka itu terlalu besar. Bagaimana mungkin seseorang bisa pulih dari kehancuran seperti itu? Bagaimana mungkin seseorang bisa memaafkan hal yang tak termaafkan?
Namun, Clara juga melihat ada sedikit harapan, sebuah percikan kecil, di balik tatapan kosong Maya. Percikan yang mengatakan bahwa meskipun Maya mengatakan tidak peduli, ada bagian dari dirinya yang masih bergulat dengan kenangan itu.
"Aku hanya ingin kau tahu, May," kata Clara lembut. "Aku akan selalu ada di sisimu, apa pun keputusanmu."
Maya mengangguk tipis, lalu kembali menatap ke depan. Clara tahu ia harus memberitahu Reza bahwa Maya menolak. Tapi jauh di dalam hatinya, Clara berharap ada sesuatu yang bisa menembus dinding tebal yang Maya bangun, sesuatu yang bisa mengembalikan Maya yang lama. Namun, melihat Maya yang sekarang, Clara ragu itu bisa terjadi. Wanita itu bahkan terlihat tidak lagi membutuhkan sosok Reza dalam hidup. Bahkan, Clara merasa, Maya tidak lagi membutuhkan siapa pun, termasuk dirinya. Ia telah terperangkap dalam dunianya sendiri, sebuah dunia yang dibangun dari kesedihan dan kehampaan.
Di sisi lain, penolakan Maya tidak membuat Reza menyerah. Justru, hal itu semakin memicu tekadnya. Ia tahu ia harus berjuang. Bukan hanya untuk Maya, tapi juga untuk dirinya sendiri. Ia harus membuktikan bahwa ia bisa berubah, bahwa ia pantas mendapatkan kesempatan kedua, meskipun ia tahu itu tidak akan pernah cukup untuk menebus apa yang telah ia lakukan.
Reza melanjutkan sesi terapinya dengan intensif. Ia mulai belajar tentang empati, tentang komunikasi, tentang bagaimana merasakan dan mengungkapkan emosi. Ia mulai membaca buku-buku tentang hubungan dan psikologi. Ia bahkan mulai mencoba menulis jurnal, menuangkan semua pikiran dan perasaannya di sana, sebuah kebiasaan yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan.
Ia juga mulai mencari tahu tentang pengobatan pasca-trauma, berharap bisa menemukan cara untuk membantu Maya, meskipun ia tahu Maya mungkin tidak akan pernah menerimanya. Ia merasakan gelombang rasa bersalah yang menusuk setiap kali ia membayangkan Maya sendirian, menghadapi semua kesedihan itu tanpa dirinya.
Suatu hari, terapisnya menyarankan sesuatu yang mengejutkan. "Tuan Reza, mungkin Anda harus mencoba menulis surat untuk Maya. Tuangkan semua yang Anda rasakan di sana. Jujur pada diri sendiri, dan jujur padanya. Jangan berharap balasan, tapi ini bisa menjadi salah satu cara Anda untuk memproses penyesalan Anda, dan mungkin, suatu hari nanti, Maya akan membacanya."
Reza setuju. Ia duduk di mejanya, dengan selembar kertas kosong di depannya. Pena di tangannya terasa berat. Apa yang harus ia tulis? Bagaimana ia bisa menuangkan semua penyesalan, semua rasa sakit, semua cinta yang terlambat ia sadari?
Ia mulai menulis, kata demi kata, kalimat demi kalimat.
Untuk Maya-ku,
Aku tahu, kata-kata ini mungkin tidak berarti apa-apa bagimu sekarang. Aku tahu aku telah menghancurkan segalanya. Aku telah menghancurkan hatimu, menghancurkan kepercayaanmu, dan yang paling tak termaafkan, aku telah menghancurkan harapanmu, dan membunuh anak kita.
Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya mencintai dengan benar. Aku terlalu bodoh, terlalu egois, terlalu pengecut. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, dengan ambisiku, dengan ketakutanku. Aku tidak melihatmu. Aku tidak melihat betapa berharganya dirimu, betapa tulusnya cintamu, betapa besarnya pengorbananmu.
Setiap hari, aku dihantui oleh bayangan hari itu. Bayanganmu yang tergeletak di lantai, bayangan anak kita yang mungil, dan tatapan matamu yang kosong. Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa makan. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menyesali semua yang telah kulakukan.
Aku tahu, permintaan maafku tidak akan pernah cukup. Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan pengampunanmu. Tapi aku harus mengatakannya. Aku sungguh, sungguh minta maaf, Maya.
Aku tahu kau sudah berubah. Aku tahu kau tidak lagi membutuhkan sosokku dalam hidupmu. Tapi aku... aku tidak bisa hidup tanpa memikirkanmu. Aku mencintaimu, Maya. Aku mencintaimu lebih dari apa pun. Cinta yang terlambat kusadari, cinta yang kini hanya bisa kusimpan dalam penyesalan yang mendalam.
Aku tidak berharap kau akan kembali padaku. Aku hanya berharap suatu hari nanti, kau bisa menemukan kedamaian. Dan aku... aku akan terus berjuang untuk menjadi orang yang lebih baik, untuk menebus sedikit saja dari semua kesalahan yang telah kulakukan.
Selamanya menyesal,
Reza
Ia meletakkan pena, menatap surat itu dengan mata berkaca-kaca. Air mata penyesalan mengalir, membasahi kertas. Surat ini mungkin tidak akan pernah dibaca Maya. Atau jika pun dibaca, mungkin tidak akan mengubah apa-apa. Namun, bagi Reza, menulisnya adalah sebuah katarsis, sebuah pengakuan yang jujur, sebuah langkah kecil dalam perjalanannya menuju penebusan.
Ia memberikan surat itu kepada Clara, meminta Clara untuk memberikannya kepada Maya jika Maya siap. Clara menerima surat itu dengan ekspresi campuran. Ia tahu ini adalah langkah yang baik untuk Reza, tetapi ia tidak yakin apakah ini akan baik untuk Maya.
Maya, di sisi lain, masih berjuang dengan kehampaan yang tak ada habisnya. Ia sering duduk berjam-jam, menatap cermin, mencari jejak dirinya yang lama, jejak kebahagiaan yang pernah ada. Tapi ia hanya menemukan bayangan yang kosong, bayangan yang tak lagi ia kenali. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah menemukan jalan kembali, apakah ia akan pernah bisa merasakan sesuatu lagi selain mati rasa yang dingin. Ia hanya ingin kedamaian, kedamaian dari semua kenangan yang menyakitkan, kedamaian dari bayangan yang terus menghantuinya.
Anda Mungkin Juga Suka





