
Aku Istrimu, Bukan Bonekamu
Bab 3
Ariana berdiri di depan jendela ruang tamu, matanya menatap kosong ke luar. Daniel telah pergi bersama Eleanor tanpa sedikit pun peduli pada perasaannya. Perempuan itu bahkan tidak repot-repot menyembunyikan hubungannya dengan Daniel di depan Ariana, seolah dirinya bukan siapa-siapa.
Tapi Ariana bukan seseorang yang bisa dihancurkan semudah itu.
Jika pernikahan ini adalah permainan, maka ia akan belajar bagaimana cara bermain.
Suara langkah mendekat membuatnya menoleh. Seorang pelayan berdiri dengan canggung di dekatnya. "Nyonya, Tuan Muda Daniel sudah pergi. Apa ada yang bisa saya siapkan untuk Anda?"
Ariana menatap wanita itu sesaat sebelum tersenyum tipis. "Siapkan sarapan untukku di ruang makan. Aku belum selesai makan tadi."
Pelayan itu tampak ragu. Mungkin karena selama ini mereka terbiasa melihat Daniel sebagai penguasa di rumah ini, dan Ariana hanyalah istri yang tak diinginkan.
Tapi Ariana harus mengubah itu.
Ia melangkah ke ruang makan dengan punggung tegak. Jika Daniel ingin mengabaikannya, biarkan saja. Jika Eleanor ingin meremehkannya, biarkan saja. Tapi ia tidak akan mundur.
Saat ia duduk kembali, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor asing.
"Jangan terlalu percaya diri hanya karena kau menikah dengannya. Kau tidak akan pernah menang, Ariana."
Ariana menatap layar dengan mata menyipit. Eleanor.
Tangan Ariana mencengkeram ponsel erat, amarah mulai membakar dadanya. Wanita itu tidak hanya merebut suaminya, tetapi juga berani menantangnya secara terang-terangan?
Ia tersenyum miring sebelum mengetik balasan.
"Aku tidak perlu menang, Eleanor. Aku hanya perlu membuatmu kalah."
Ariana meletakkan ponsel dan melanjutkan sarapannya dengan tenang. Jika Eleanor ingin bermain kotor, Ariana tidak keberatan.
Ia bukan lagi gadis yang bisa diinjak tanpa melawan.
***
Sore itu, Ariana pergi ke butik langganan keluarga Aldrigham. Jika ia harus menjadi nyonya di rumah itu, ia tidak akan tampil seperti seseorang yang bisa diremehkan.
Ia memilih gaun terbaik, sepatu hak tinggi yang elegan, dan tas mahal yang membuatnya terlihat seperti wanita dari keluarga berkelas. Jika Daniel ingin menjauhkannya dari lingkungannya, maka Ariana akan memaksa masuk ke dalam dunianya.
Saat ia baru keluar dari butik, sebuah suara menyapanya dengan nada sinis.
"Aku hampir tidak mengenalimu."
Ariana berbalik dan mendapati Eleanor berdiri di sana, mengenakan gaun merah yang menggoda dengan tatapan penuh ejekan.
Ariana tersenyum tipis. "Senang melihatmu, Eleanor. Ada yang bisa kubantu?"
Eleanor tertawa kecil. "Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya kau harapkan dari pernikahan ini?"
Ariana melipat tangannya di depan dada. "Aku tidak mengharapkan apa pun."
Eleanor menyipitkan matanya. "Kalau begitu, kenapa kau masih bertahan? Kau tahu Daniel mencintaiku."
Ariana menatapnya tanpa gentar. "Karena aku adalah istrinya, Eleanor. Apapun yang kau lakukan, kau hanya akan menjadi orang ketiga."
Eleanor terdiam sejenak sebelum tersenyum miring. "Kita lihat saja siapa yang bertahan lebih lama, Ariana."
Ia melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mahalnya di udara.
Ariana menghela napas panjang. Ini belum apa-apa.
Dan ia tidak akan kalah.
***
Malam itu, Daniel pulang lebih larut dari biasanya. Ariana sudah menunggunya di ruang tamu, duduk dengan anggun di sofa sambil menyeruput teh.
Ketika Daniel masuk, alisnya sedikit terangkat melihat Ariana yang tampak berbeda dari biasanya. Rambutnya disanggul rapi, gaun satin yang membalut tubuhnya memperlihatkan aura elegan yang tak bisa diabaikan.
"Kau menungguku?" tanyanya dengan nada skeptis.
Ariana tersenyum. "Sebagai istrimu, bukankah itu wajar?"
Daniel mendecakkan lidah, lalu berjalan melewatinya tanpa menjawab.
Namun Ariana tidak membiarkannya lolos begitu saja. "Kau menikmati waktumu dengan Eleanor?" tanyanya santai.
Daniel berhenti di tengah langkahnya, lalu menoleh. "Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu."
Ariana tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya. "Benarkah? Padahal aku ingin tahu... bagaimana rasanya berkencan dengan wanita lain sementara aku adalah istrimu yang sah?"
Daniel menatapnya dengan tajam, tetapi Ariana tidak mundur.
"Jangan mencoba bermain-main denganku, Ariana," suaranya merendah, mengandung ancaman.
Ariana hanya tersenyum. "Aku tidak bermain-main, Daniel. Aku hanya mengingatkanmu bahwa aku bukan wanita yang bisa kau abaikan begitu saja."
Mereka bertatapan lama, seperti dua musuh yang mengukur kekuatan satu sama lain.
Akhirnya, Daniel menghela napas panjang. "Lakukan apa pun yang kau mau. Aku tidak peduli."
Ia berjalan pergi, meninggalkan Ariana sendiri di ruang tamu.
Ariana mengepalkan tangannya.
Ia sudah berhasil membuat Daniel bereaksi.
Dan ini baru permulaan.
Anda Mungkin Juga Suka





