
Aku gundik
Bab 3
Tak terasa, bel istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas namun Anya masih tetap duduk di bangkunya, mengobrol dengan beberapa teman sekelasnya.
"Hai Anya.."
Anya menoleh ke asal suara dan tersenyum ramah.
"Cassia, kamu tidak bermain dengan teman-teman sekelasmu ?"
Dengan lesu, cassia menggelengkan kepalanya. Anya tersenyum lalu mengenalkan cassia pada beberapa temannya.
"Aku bawa bekal roti coklat dan jus leci. Ayo kita makan !"
Anya menyodorkan bekalnya. sembari bertukar cerita, mereka juga saling bertukar bekal. Entah kenapa, Anya merasa dekat dan sayang pada Cassia adik kelasnya yang baru dikenalnya. Demikian pula dengan Cassia yang merasa nyaman dan bahagia di dekat Anya, bahkan sering di jam istirahat, Cassia membawa buku pelajarannya ke kelas Anya. Kadang jika Cassia terlambat muncul, pasti Anya menghampiri Cassia di kelasnya. Kedekatan mereka berdua bagaikan kakak beradik.
đź’°
ENAM BULAN KEMUDIAN
Bagi Belvina, tiada hari tanpa bertemu dengan Cattivo kekasihnya yang selalu sukses memberikan kenikmatan sex pada dirinya. Seperti saat ini, lagi-lagi Cattivo membikin istrinya Ragazza Perfetto mendesah tiada henti di atas sofa ruang tamu.
"Aahhh... Cattivo... Teruskan....aahhhh..."
Cattivo pun makin mempercepat gerakan pinggulnya.
"Aahhh....aku suka.... Teruskan...aahhh...."
"Kamu suka yang kasar, Belvina cantik !"
Cattivo menarik rambut Belvina lalu melumat bibirnya. Pinggulnya makin bergerak dengan ritme kasar yang makin bertambah cepat.
"Nikmati ini, perempuan binal !"
"Aaahhh...Cattivo...aku
..aku mau klimaks !"
"Ya, kita sama-sama klimaks ya !"
Cattivo menyemburkan cairan putih kentalnya. Mereka berdua sama-sama terkulai lemas.
đź’°
Dari seberang jalan depan restoran mewah, Anya keluar dari taxi yang baru ia tinggalkan, gadis cantik imut itu mengawasi restoran mewah. Di pejamkan matanya, ia harus menuju ke restoran mewah walau penuh rasa was-was sekaligus ketakutan karena uang yang dibawanya tidak banyak.
(" Apa itu teman putriku ?" )
Desis Ragazza Perfetto dalam hati, matanya menatap tajam gadis itu menyeberang jalan, memasuki halaman restoran mewah hingga ketika langkah kaki itu berhenti tepat di samping mobilnya.
"Cassia, apa itu temanmu ?"
Tanya Ragazza pada putrinya yang asyik bermain game di ponselnya. Cassia mengangkat wajahnya dan menoleh ke luar jendela mobil, melihat temannya yang berdiri di samping mobil.
"Ya, Daddy. Itu temanku !"
Seru Cassia sembari menekan tombol otomatis di pintu mobil hingga kaca jendela mobil bergerak turun. Perlahan-lahan ia mengulurkan tangannya keluar jendela mobil, mencubit lengan temannya.
"Hai Anya..!"
Seru Cassia membuat Anya terlonjak kaget dan menoleh
"Ha ha ha.... Kaget ya ? Aku menunggumu dari tadi, Anya !"
Gadis itu tertawa terbahak-bahak di dalam mobil.
"Kamu di antar siapa, Cassia ?"
Tanyanya sembari mencoba melihat ke dalam mobil.
"Daddy-ku. Yuk kita makan malam bersama, Anya !"
Ucap Cassia, keluar dari mobil di susul Ragazza. Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam restoran mewah, mata elang Ragazza mengawasi putrinya yang tertawa riang dan Anya menggenggam erat tangan putrinya. Sesampai di dalam restoran, seorang pelayan menyambut dan menawarkan tempat di lantai bawah yang meriah karena banyak pengunjung namun Ragazza memilih tempat yang lebih tenang di lantai 2.
"Sebelum kalian belajar, kita makan dulu ya !"
Ragazza memilih menu makanan minuman dari daftar menu yang diberikan pelayan.
"Ya, daddy."
Sahut putrinya yang juga ikut memilih menu makanan. Sedangkan Anya malah asyik duduk bersandar sembari melayangkan pandangannya melihat ruangan restoran. Setelah pelayan restoran berlalu, ia berbisik...
"Cassia, apakah kamu memesankan makanan untukku ?"
"Ya, makanan kita sama. Kalau kamu tidak suka biar aku ganti menu lain saja, Anya !"
"Tidak..tidak. jangan di ganti makanan yang sudah kamu pesan, Cassia. maksudku.."
Anya tidak melanjutkan bicaranya, ia hanya menggigit bibirnya.
"Memangnya kenapa, Anya ?"
Cassia mengernyitkan keningnya, tidak paham maksud temannya yang pelan-pelan menjawab..
"Aku tidak makan di sini. Makanannya dibungkus saja, Cassia."
"Kenapa di bungkus, Anya ?"
"Buat ibuku di rumah, Cassia."
Anda Mungkin Juga Suka





