
Aku Dinikahi Kakaknya
Bab 3
Hari-hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kehidupan Keisha di bawah satu atap dengan Dion perlahan berubah menjadi rutinitas. Sebuah rutinitas yang aneh, canggung, namun entah mengapa, mulai terasa... biasa. Rumah besar itu memang menawarkan privasi yang cukup, dengan kamar Keisha di satu sisi dan kamar Dion di sisi lain. Mereka bertemu saat sarapan, terkadang saat makan malam, dan di beberapa acara keluarga yang tidak bisa mereka hindari.
Di depan umum, mereka adalah pasangan pengantin baru yang sempurna. Dion sangat pandai dalam perannya. Ia tak segan memegang tangan Keisha, melingkarkan lengannya di pinggangnya, atau memberikan senyuman menenangkan ketika Keisha merasa tertekan oleh tatapan orang banyak. Kata-kata "sayang" atau "cinta" mungkin tidak pernah terucap, tapi gestur kecil itu cukup untuk meyakinkan semua orang bahwa mereka baik-baik saja. Keisha sendiri, lambat laun, juga menjadi mahir dalam sandiwara ini. Ia belajar membalas senyum Dion dengan senyum yang tampak tulus, membalas sentuhan dengan sentuhan serupa, dan bahkan tertawa di tempat yang tepat.
Awalnya, setiap sentuhan Dion terasa asing, bahkan sedikit menjijikkan karena mengingatkannya pada kebohongan besar ini. Namun, seiring waktu, Keisha mulai menyadari bahwa sentuhan Dion selalu sopan, penuh perhitungan, dan tidak pernah melebihi batas. Ia tidak pernah memanfaatkan situasi mereka untuk kepentingan pribadi. Justru, Dion adalah bentengnya. Ia melindungi Keisha dari pertanyaan-pertanyaan sulit, dari tatapan simpati yang merendahkan, dan dari gosip-gosip yang beredar di kalangan sosialita.
Di balik layar, kehidupan mereka benar-benar terpisah. Dion sibuk dengan perusahaannya, yang memang sedang berkembang pesat. Ia seringkali pulang larut malam, terkadang bahkan tidak pulang karena harus ke luar kota. Keisha sendiri mencoba mencari kesibukan. Ia mulai mengambil kursus melukis, mencoba kelas yoga, dan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan. Ia ingin mengisi kekosongan dalam hidupnya, kekosongan yang ditinggalkan oleh Rafael.
Hubungan mereka di rumah lebih mirip antara dua teman sekamar yang sangat sopan. Mereka jarang bicara mendalam, apalagi tentang perasaan. Percakapan mereka seputar "Apakah kau mau makan malam di rumah?" atau "Aku akan pulang terlambat malam ini." Ada dinding tak terlihat yang membatasi mereka, dinding yang dibangun dari rasa malu, pengkhianatan, dan kesepakatan aneh yang mengikat mereka.
Namun, perlahan, retakan-retakan kecil mulai muncul di dinding itu.
Suatu sore, Keisha sedang berusaha memperbaiki keran yang bocor di dapur, yang ternyata lebih rumit dari dugaannya. Air memercik kemana-mana, dan ia mulai frustrasi. Tiba-tiba, Dion muncul, baru pulang kerja. Ia menatap Keisha, yang sudah basah kuyup dengan air.
"Ada apa ini?" tanya Dion, alih-alih tertawa, ia terdengar khawatir.
"Kerannya bocor," jawab Keisha, nada suaranya frustrasi. "Aku tidak bisa memperbaikinya."
Dion melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya. "Minggir, biar aku lihat."
Ia berjongkok, memeriksa keran dengan cermat. Tangannya cekatan. Dalam beberapa menit, dengan beberapa gerakan teknis yang Keisha sendiri tidak mengerti, air berhenti bocor.
"Sudah," kata Dion, berdiri dan membersihkan tangannya.
Keisha menatapnya takjub. "Bagaimana kau bisa?"
Dion mengangkat bahu. "Sedikit tahu soal perbaikan rumah. Adikku Rafael, dia tidak pernah mau tahu hal-hal seperti ini. Jadi aku harus belajar sendiri."
Kalimat itu, yang menyebut nama Rafael secara tidak langsung, menciptakan sedikit ketegangan. Namun, ada juga rasa kagum yang muncul di hati Keisha. Dion ternyata tidak hanya pintar dalam urusan bisnis, tapi juga praktis.
"Terima kasih," kata Keisha, sedikit malu karena telah terlihat tidak berdaya.
Dion hanya mengangguk, lalu berbalik pergi untuk mandi. Momen singkat itu, di mana Dion menunjukkan sisi lain dirinya-sisi yang kompeten dan membantu-meninggalkan kesan di benak Keisha.
Beberapa minggu kemudian, Keisha jatuh sakit. Demam tinggi, flu, dan batuk yang tak berhenti. Ia tidak sanggup bangun dari tempat tidur. Dion, yang biasanya sibuk, menemukan Keisha terbaring lemas saat ia pulang kerja.
"Keisha? Ada apa?" tanyanya, suaranya terdengar panik. Ia langsung mendekat, menyentuh dahi Keisha. "Kau demam tinggi sekali."
Tanpa banyak bicara, Dion pergi ke dapur, kembali membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia memeras handuk itu, lalu dengan lembut mengompres dahi Keisha. Sentuhannya dingin, menenangkan. Ia juga membawa semangkuk bubur hangat dan obat-obatan.
"Kau harus makan," kata Dion, membantu Keisha duduk. "Lalu minum obat."
Keisha terlalu lemah untuk menolak. Ia hanya bisa pasrah saat Dion menyuapinya bubur, sedikit demi sedikit. Dion merawatnya dengan penuh perhatian, mengganti kompres secara berkala, dan memastikan Keisha minum obat tepat waktu. Ia bahkan mengambil cuti dari kantornya selama dua hari untuk merawat Keisha.
"Kau tidak perlu melakukan ini," bisik Keisha suatu malam, saat Dion sedang duduk di samping tempat tidurnya, membaca buku.
Dion mendongak. "Tentu saja aku perlu. Kau adalah tanggung jawabku sekarang, Keisha."
Kata "tanggung jawab" itu kembali muncul. Sebuah kata yang dulu terasa hampa, kini entah mengapa, terasa sedikit menghangatkan. Dion tidak merawatnya karena cinta, melainkan karena rasa tanggung jawab yang kuat. Namun, bagi Keisha yang merasa sendirian dan rentan, itu sudah lebih dari cukup.
"Terima kasih," Keisha berbisik lagi, kali ini dengan perasaan yang lebih tulus.
Dion tersenyum tipis. "Istirahatlah."
Selama Dion merawatnya, Keisha melihat sisi lain dari pria itu. Sisi yang lembut, peduli, dan sabar. Sisi yang tidak pernah ia duga ada di balik persona tenang dan pragmatisnya. Itu adalah retakan kecil lainnya di dinding di antara mereka, memungkinkan sedikit cahaya masuk.
Seiring waktu, mereka mulai menemukan titik-titik temu. Keisha tahu Dion menyukai kopi hitam tanpa gula, dan Dion tahu Keisha tidak bisa memulai hari tanpa teh chamomile. Dion sesekali akan meninggalkan bunga segar di meja makan, yang ia beli dalam perjalanan pulang. Keisha, sebagai balasannya, akan membuatkan sarapan favorit Dion-roti panggang dengan alpukat-pada akhir pekan.
Mereka mulai berbagi cerita-cerita kecil. Dion menceritakan tentang proyek arsitekturnya yang menantang, tentang bagaimana ia membangun perusahaannya dari nol. Keisha menceritakan tentang impiannya menjadi desainer busana, tentang bagaimana ia dulu suka menggambar sketsa gaun pengantin sejak kecil. Dalam percakapan-percakapan singkat itu, mereka perlahan mulai mengenal satu sama lain, bukan sebagai suami istri palsu, tetapi sebagai individu.
Suatu sore, saat Dion sedang bekerja di ruang kerjanya, Keisha memberanikan diri mengetuk pintunya.
"Ada apa?" tanya Dion, mendongak dari layarnya.
"Aku... aku hanya ingin tahu," kata Keisha, sedikit gugup. "Apa kau pernah... punya kekasih serius sebelumnya?"
Dion terdiam, menatap Keisha dengan ekspresi terkejut. Itu adalah pertanyaan pribadi pertama yang Keisha ajukan.
"Pernah," jawab Dion setelah beberapa saat. "Seorang wanita bernama Sarah. Kami menjalin hubungan cukup lama, sekitar tiga tahun."
"Kenapa putus?"
Dion menghela napas. "Dia ingin menikah dan punya anak. Aku... aku saat itu belum siap. Terlalu fokus pada pekerjaan, pada membangun perusahaan. Dia bilang aku terlalu ambisius dan tidak memberinya cukup waktu. Jadi dia pergi."
Ada nada kesedihan yang samar di suara Dion, sesuatu yang jarang Keisha dengar. Itu membuat Dion terasa lebih manusiawi, lebih dari sekadar pria pragmatis yang menikahinya demi menyelamatkan muka.
"Aku mengerti," kata Keisha, suaranya lembut. "Terkadang memang sulit menemukan keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi."
"Ya," Dion mengangguk. "Dan kau? Rafael adalah pacar pertamamu?"
Keisha tersenyum pahit. "Dan terakhir. Sepertinya."
Dion menatapnya dengan simpati. "Kau akan menemukan kebahagiaan lagi, Keisha. Aku yakin itu."
Percakapan singkat itu terasa seperti terobosan. Mereka tidak lagi bicara hanya tentang hal-hal permukaan, tetapi mulai menyentuh bagian-bagian yang lebih dalam dari diri mereka. Dinding itu, yang dulu kokoh, kini memiliki lebih banyak retakan.
Enam bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang aneh itu. Keluarga dan teman-teman mereka sudah mulai terbiasa dengan status Dion dan Keisha sebagai suami istri. Mereka bahkan menerima undangan makan malam dari beberapa pasangan, yang mengharuskan mereka untuk tampil sebagai "pasangan bahagia."
Malam itu, mereka sedang menghadiri pesta ulang tahun seorang teman lama Dion. Keisha mengenakan gaun malam yang elegan, dan Dion tampak gagah dalam setelan jasnya. Mereka menari bersama, Dion memimpin dengan gerakan yang lembut dan sopan, sementara Keisha mengikutinya. Di mata orang lain, mereka adalah pasangan yang serasi, penuh kasih sayang.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini," bisik Dion di telinga Keisha saat mereka menari, membuat Keisha sedikit terkejut. Itu adalah pujian pertama yang Dion berikan padanya.
Pipi Keisha sedikit merona. "Terima kasih."
Malam itu, mereka banyak berinteraksi. Dion memperkenalkan Keisha kepada rekan-rekan bisnisnya, dan Keisha menemukan bahwa ia bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial Dion. Mereka bahkan tertawa bersama beberapa kali, tawa yang terasa lebih nyata dari sebelumnya.
Saat pesta usai dan mereka kembali ke rumah, ada keheningan yang berbeda di dalam mobil. Bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang nyaman.
"Pestanya menyenangkan," kata Keisha memecah keheningan.
"Ya," jawab Dion. "Kau bersenang-senang?"
"Lumayan. Kau sangat pandai berakting, Dion."
Dion terkekeh pelan. "Kau juga tidak kalah hebatnya, Nyonya Prakasa."
Sebuah sensasi aneh menjalar di hati Keisha saat Dion menyebutnya "Nyonya Prakasa." Itu adalah gelar yang seharusnya ia sandang dengan Rafael, namun kini ia menyandangnya dengan Dion. Anehnya, rasa sakit yang biasa muncul saat mengingat Rafael kini sedikit mereda.
Ketika mereka sampai di rumah, Keisha langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Saat ia keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama sutra, ia melihat Dion berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Kau mau kopi atau teh?" tanya Dion, suaranya pelan.
Keisha menatapnya, sedikit terkejut. Dion tidak pernah menawarkan hal seperti itu sebelumnya, apalagi di malam hari, di depan pintu kamarnya.
"Teh chamomile," jawab Keisha, mencoba menutupi kegugupannya.
Dion mengangguk, lalu berbalik menuju dapur. Keisha mengikuti langkahnya, bertanya-tanya ada apa ini.
Mereka duduk di ruang keluarga, di sofa yang berbeda. Dion menyerahkan secangkir teh panas pada Keisha. Keheningan kembali menyelimuti, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada semacam antisipasi.
"Aku tahu ini aneh," kata Dion akhirnya, menatap cangkir tehnya. "Tapi... aku ingin berterima kasih padamu, Keisha."
Keisha mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Untuk ini semua," Dion mengangkat pandangannya, menatap Keisha. "Untuk mau menjalani sandiwara ini bersamaku. Untuk mau menanggung semua ini. Tanpamu, aku tidak tahu bagaimana keluarga kami akan menghadapi skandal Rafael."
Ada ketulusan mendalam di mata Dion. Keisha merasakan hatinya sedikit menghangat. "Aku juga berterima kasih padamu, Dion. Kau sudah melindungiku. Kau sudah membuatku merasa... tidak sendirian."
Dion tersenyum tipis, senyum yang kali ini lebih hangat dan lebih nyata dari apapun yang pernah ia lihat. "Kita memang tidak sendirian."
Malam itu, mereka tidak banyak bicara lagi. Mereka hanya duduk di sana, menyesap teh dan kopi mereka, dalam keheningan yang nyaman. Dinding yang memisahkan mereka kini terasa lebih tipis, hampir transparan. Ada pengakuan yang tak terucap, sebuah pengertian baru yang muncul di antara mereka.
Keisha tidak tahu apakah ini adalah awal dari sesuatu yang lebih, atau hanya momen singkat kebersamaan di tengah badai. Namun, ia tahu satu hal: Dion Prakasa, pria yang ia nikahi karena keadaan, kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Ia adalah bagian dari hidupnya, bagian dari takdir yang aneh ini. Dan entah mengapa, di tengah semua rasa sakit dan kebingungan, ada secercah harapan kecil yang mulai bersemi di hatinya, harapan akan masa depan yang, mungkin saja, tidak seburuk yang ia bayangkan. Mungkin, dari retakan-retakan kecil ini, sesuatu yang nyata bisa tumbuh.
Anda Mungkin Juga Suka





