
Aku Dianggap Pembunuh Cinta Sejati Suamiku
Bab 3
Dari sikap Hengky tadi, aku sudah tahu. Jonathan mungkin juga telah mengalami kelahiran kembali.
Karena itu, aku tidak menghubunginya.
Namun, aku tidak menyangka dia akan sekejam ini, sampai-sampai memberi instruksi kepada semua orang untuk tidak memberikan pengobatan kepadaku. Jonathan adalah seorang dokter genius dan murid kesayangan kepala bagian UGD.
Seandainya saja dia tidak membela Charlene waktu itu, dia adalah kandidat paling mungkin untuk menjadi kepala bagian UGD berikutnya. Jadi, para dokter di sini sangat mendengarkan perkataannya.
Rasa sakitku semakin menjadi-jadi. Aku membungkukkan tubuhku, mencoba menyeret langkah menuju pintu untuk mencoba peruntungan.
Namun, baru beberapa langkah, aku mendengar suara tawa dari dua perawat. "Jadi ini selingkuhan dokter Jonathan, ya? Penampilannya biasa saja."
"Memang nggak cantik. Katanya dia sampai ngasih obat bius ke dokter Jonathan supaya mereka menikah."
"Aktingnya hebat banget, benar-benar terlihat seperti pasien pankreatitis."
Mereka tidak berusaha menutupi obrolan itu. Setiap ucapan mereka terdengar jelas ke telingaku.
Saat itulah aku menyadari betapa buruknya reputasiku di rumah sakit ini.
Aku dan Jonathan memang bertemu di rumah sakit ini. Awalnya, aku seorang detailer farmasi, sementara dia adalah dokter. Memang benar, pada awalnya aku ingin memanfaatkan dia untuk membuka pasar di rumah sakit ini.
Namun, kebijakan negara berubah dan aku akhirnya kehilangan pekerjaan karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan pasar. Setelah itu, baru aku dan Jonathan mulai berhubungan.
Saat aku dan Jonathan saling mengenal, dia sudah putus dengan Charlene. Aku tidak mengerti kenapa semua orang mengatakan aku adalah perusak hubungan mereka.
Namun, saat ini aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Penyakit ini berkembang sangat cepat, dan jika terus tidak diobati, aku benar-benar bisa mati.
Aku memaksa tubuhku untuk duduk di kursi, tetapi rasa sakit membuat tubuhku gemetar hebat. Aku membungkuk karena sudah benar-benar tidak bisa berdiri lagi. Seluruh punggungku terasa mati rasa sekaligus nyeri.
Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas di benakku. Jika terus seperti ini, apakah aku akan mati?
Saat itu, seorang ibu-ibu memperhatikan keadaanku yang aneh. Dia menyenggolku sedikit. "Nak, kamu baik-baik saja?"
Aku mengangkat kepala, wajahku yang pucat pasi membuatnya mundur dua langkah dengan ketakutan. Tubuhku yang lemas membuatku tergelincir dari kursi dan terkapar di lantai.
"Astaga!" Ibu itu berteriak dengan suara nyaring, "Dokter! Dokter! Cepat ke sini! Ada yang pingsan di sini!"
Teriakan ibu itu menarik perhatian Jonathan dan Charlene yang baru saja masuk dengan membawa beberapa barang. Mereka berlari ke arah kerumunan, mengira ada situasi darurat. Namun, begitu melihat wajahku, Jonathan berhenti.
Dia mengusir orang-orang yang berkumpul, lalu menunduk dan berkata kepadaku, "Kiana, kamu belum cukup puas buat keributan?"
Aku mendongak, melihat senyumnya yang penuh kelegaan seperti habis melewati krisis besar.
Sepertinya benar, Jonathan baru saja menyelamatkan Charlene.
Charlene berdiri di sampingnya, wajahnya tampak malu-malu. Keakraban di antara mereka terasa jelas, bahkan membuat udara di sekitar menjadi hangat.
Tentu saja, Charlene memang tidak pernah bisa melupakan Jonathan. Pada saat-saat genting, Jonathan muncul sebagai penyelamatnya. Hubungan mereka pasti semakin erat.
Aku ingin membalas mereka dengan kata-kata pedas. Namun, rasa sakit dan keinginan untuk bertahan hidup membuatku harus menyingkirkan semua harga diriku.
Aku meraih sudut jas putih Jonathan dengan tanganku yang gemetar. "Jonathan, perut bagian atasku sakit sekali, punggungku juga sakit, dan aku merasa mual. Kumohon, bantu aku untuk rawat inap."
Aku pikir Jonathan akan setuju. Bagaimanapun, dia tahu penyakitku ini nyata. Namun, dia hanya tertawa dingin, "Kiana, kamu hafal buku teks sampai segitunya, ya? Sayangnya, nggak ada orang di dunia ini yang sakitnya sama persis sama buku teks."
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. "Kamu pikir aku pura-pura?"
"Meski bukan pura-pura, kamu sengaja buat dirimu begini dengan minum alkohol sebanyak itu. Kamu bukan benaran sakit. Kiana, kami para dokter paling benci sama orang yang merusak tubuhnya sendiri. Kali ini aku mau beri kamu pelajaran, supaya kamu tahu betapa parahnya akibat dari nggak menghargai kesehatanmu sendiri. Tapi jangan khawatir, aku nggak akan membiarkanmu mati."
Kata-katanya membuatku tenggelam dalam keputusasaan.
Jonathan, penyakitku benar-benar serius.
Aku ingin bangkit dan mencari cara untuk bertahan hidup. Tapi rasa sakit itu membuatku sama sekali tidak memiliki tenaga. Tubuhku terkapar di lantai. Rasa sakit itu menjalar dari perutku ke jantung, lalu ke saraf-sarafku, akhirnya mencabik-cabik seluruh tubuhku.
Jonathan sebenarnya sudah hendak pergi dengan Charlene. Namun, caraku yang berusaha keras untuk bertahan di lantai menarik perhatiannya. Dia berbalik dan terlihat hendak mendekat.
Namun saat itu, Charlene tiba-tiba terhuyung dan jatuh ke pelukannya. "Charlene, kamu kenapa?" Jonathan langsung panik, sebuah ekspresi yang tak pernah dia tunjukkan padaku.
"Aku agak pusing, Jonathan. Bisa tolong antar aku pulang?" ujar Charlene dengan suara lembut.
Tentu saja Jonathan langsung setuju. Dia memapah Charlene dengan hati-hati, tubuhnya hampir sepenuhnya bersandar pada Jonathan.
Tak lama kemudian, mereka berganti pakaian biasa. Di depanku, mereka bergandengan tangan dan berjalan pergi. Aku hanya bisa menatap jari-jari mereka yang saling bertaut. Rasa sakit di dadaku jauh lebih tajam dibandingkan rasa sakit di perutku.
Charlene menoleh ke belakang dan memberikan senyuman penuh kemenangan padaku.
Perlahan, aku merasa kesadaranku seperti meninggalkan tubuhku. Penglihatanku mulai kabur.
Hengky berjalan mendekat, memandangku dengan sinis. "Masih akting, ya? Orang-orang sudah pergi."
Aku bahkan tidak punya tenaga untuk menatapnya. Aku kelelahan. Di bawah tatapan Hengky, aku merasakan bau anyir di mulutku. Detik berikutnya, aku memuntahkan darah segar dalam jumlah besar.
Anda Mungkin Juga Suka





