Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU

AKU DAN TEMAN SUAMIKU

Kehidupan Tara berubah drastis saat ia terjebak dalam posisi yang tak pernah dibayangkan: menjadi istri kedua dari sahabat mendiang suaminya sendiri. Kini, ia terperangkap di tengah dinamika rumah tangga yang penuh komplikasi dan tekanan batin. Di tengah konflik emosional yang terus menguji kesabarannya, Tara harus menentukan pilihan sulit. Akankah ia bertahan demi komitmen tersebut, atau justru memilih untuk menyerah karena beban yang terlalu berat?
Bab
Bagikan

Bab 2

Siang hari setelah mengajar murid lesnya Bimo calistung, Tara melanjutkan dunianya sebagai ibu rumah tangga. Tara menyuapi Fia dan juga merapikan rumah. Kondisi Fia sudah lebih sehat, hanya saja dokter tidak membolehkan Fia minum es, chiki dan coklat. Fia tengah asik bermain bersama boneka barbie, hadiah dari Mei saat Fia diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Tara masih memikirkan perkataan Zaka beberapa hari lalu, Zaka memberikan waktu kepada Tara untuk memikirkan hal tersebut selama dua pekan. Baru tiga hari saja rasanya otak Tara sedikit lemot, banyak bengong dan melamun.

"Mama....asap." ujar Fia sambil menarik arah pandangnya ke bawah.

"Astaghfirulloh..." pekik Tara saat tersadar mukena terbagus pemberian almarhum suaminya gosong, karena Tara menyetrika sambil melamunkan perkataan Zaka. Cepat Tara menyingkirkan setrikaan dan menatap sedih mukenanya yang bolong bagian dadanya.

"Fia!" Tara menarik Fia ke pangkuannya. Fia menatap wajah Tara sambil tersenyum manis.

"Kalau Fia punya papa mau ga?"

"Maaauu...." Fia mengangguk cepat.

"Ayo tita beli setalang ma!" ajak Fia menarik tangan Tara.

"Hehehe..papa tidak ada di warung nak, papa adanya di rumah." terang Tara sambil mencium gemas pipi Fia.

"Dua ya ma, papanya." ucap Fia sambil mengangkat dua jarinya. Papa bukan permen nak.

"Kok dua?" tanya Tara heran.

"Bial dantian?"

"Gantian?" Hahahaha." Tara tertawa keras mendengar ucapan polos Fia. Baju kali nak ada gantinya. Batin Tara. Mengusap pucuk kepala Fia yang masih asik memainkan rambut barbie di pangkuan Tara.

"Belbi yaya tantik...milip mama!" Fia menatap boneka dan ibunya bergantian dengan penuh takjub. Tara nyengir kuda. Taukan barbie yang kulitnya hitam, naahh..itu dia kata Fia mirip mamanya.

Begitulah keseharian Tara dan Fia, selalu penuh senyuman dan keceriaan, meskipun kehidupan ekonomi mereka sangat terbatas sejak suami Tara meninggal setahun yang lalu. Tara tengah merapikan kamarnya saat suara pintu rumahnya diketuk.

"Assalamualaikum." suara di balik pintu. Kening Tara berkerut, suaranya seperti tak asing. Tara mengintip dari jendela.

"Eh...Wa'alaykumussalam Mba-Mas." sahut Tara lalu membukakan pintu rumahnya. Mempersilahkan Mei dan Zaka masuk.

"Mana Fia, Mba?" tanya Mei saat tak melihat Fia di rumah.

"Oh..sedang main ke tetangga sebelah, Mba. Baru saja. Nanti saya panggilkan. Sebentar saya ke dapur dulu." Tara sedikit canggung karena Zaka terus memperhatikan dirinya. Tara kembali dengan dua cangkir teh manis hangat.

"Silahkan Mba-Mas diminum tehnya." ucap Tara lalu duduk di kursi tamu, tepat di seberang Mei.

"Begini Mba Tara, maksud kedatangan saya kemari adalah....."

Setelah cukup pusing memikirkan perkataan Zaka beberapa hari lalu, sekarang dia dipusingkan dengan perkataan Mei. Kayaknya di dunia ini bisa dihitung dengan jari wanita yang rela suaminya melakukan poligami. Kebanyakan para istri hanya menginginkan cinta dan perhatian suaminya hanya tercurah untuk dirinya saja, bukan berbagi dengan wanita lainnya.

Kata ikhlas sebenarnya sangat sulit untuk dijabarkan bentuknya dalam perbuatan, karena namanya manusia, pasti ada sifat iri dan dengkinya walaupun setitik. Anehnya lagi, Mei rela berbagi suaminya dengan Tara asal suaminya tetap tinggal bersamanya, tidak boleh menggunakan perasaan saat berdekatan dengan Tara dan tidak boleh memiliki anak dari Tara. Jadi pernikahan ini hanya sebatas status saja, untuk menghindari prasangka orang jika Zaka berkunjung menjenguk dirinya dan untuk membantu kesulitan ekonomi Tara juga puterinya.

Pernikahan bukanlah suatu hal yang bisa dianggap main-main, lelaki yang menikahi seorang wanita wajib memberikan mafkah lahir dan batin serta bertanggung jawab atas diri sang istri. Istri wajib patuh pada suami, mengikutinya perintahnya dan menjadi penyejuk hati dan hiasan pandangan suami. Tapi aturan yang disebutkan Mei tadi sangatlah tidak masuk akal buat Tara. Tapi ya sudahlah, Tara kembali meluruskan pemikirannya, bahwa Zaka melakukan ini atas dasar kemanusiaan, menolong janda sahabatnya.

****

"Saya terima nikah dan kawinnya Tara Zakia binti Danu Zaki Suherman dengan mas kawin cincin emas lima gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

SAH...SAH...

Dengan balutan hijab dan gamis putih boleh seragam dari pengajian ibu-ibu, Tara terlihat begitu manis. Kulitnya yang sawo matang dengan make up natural membuatnya sangat enak dipandang mata. Bapak dan pamannya datang dari Solo untuk menikahkan Tara dengan Zaka. Bapaknya malah bersuka cita dengan peristiwa ini karena bapak Tara cukup mengenal Zaka dari Rahman menantunya. Tara mencium punggung tangan Zaka dengan sedikit kikuk, karena Tara tidak pernah bersentuhan langsung dengan lelaki selain suaminya dan keluarganya. Meskipun ini pernikahan siri, tapi tampak hadir juga beberapa tetangga dan aparat lingkungan sekitar perumahan tempat tinggal Tara. Mei ikut hadir disana, memberikan restunya, senyumnya terbit walau tak lama akhirnya air matanya jatuh juga. Tara yang memperhatikan merasa sungguh tak enak.

"Mama tantik deh." puji Fia kini tengah duduk di pangkuan Tara.

"Masa sih? cantikkan Fia dong." puji Tara balik kepada Fia yang kini tengah memainkan payet kerudung yang dipakai Tara.

"Fia...sini sama papa!" Zaka menghampiri Tara dan Fia, diikuti oleh Mei.

"Fia..mulai sekarang panggil om Zaka, papa ya." lanjut Zaka lagi sambil duduk di sebelah Tara yang tersenyum. Fia menatap wajah ibunya, seakan meminta persetujuan ibunya. Tara mengangguk, lagi-lagi dengan senyuman.

Acara pun selesai para tamu pamit satu persatu setelah memberikan doa restu.

"Saya antar Mei pulang dulu, Pak." ucap Zaka pada bapak Tara.

"Oh..iya..hati-hati. nanti balik lagi tho?" tanyanya. Zaka mengangguk.

Tara memperhatikan sampai mobil Zaka menghilang dari pandangan.

"Nduk..sini!" titah bapak Tara pada puterinya, menuntun Tara agar duduk disebelahnya.

"Ya Pak."

"Kamu kan jadi istri kedua, jadi harus banyak sabar dan ikhlas, Zaka sekarang adalah suamimu juga suami Mei. Namun kamu tetap harus patuh dan tunduk pada Zaka. Melayaninya dengan sabar saat ia berkunjung. Berikan selalu senyuman padanya, jangan pernah sekalipun kamu berwajah masam pada suamimu. Ingat, kamu sudah ditolong oleh Zaka dan Mei, jadi tidak boleh egois apalagi serakah." petuah bapak Tara mampu membuat air matanya meleleh.

"Iya, Pak." pesan bapak akan Tara ingat.

Tara menatap wajah pulas Fia yang tengah tertidur. Malam sudah semakin larut, dan Tara tahu bahwa Zaka pasti tidak akan kembali ke rumahnya, sebelum berpamitan tadi Zaka sudah memberitahukan hal ini pada Tara. Zaka akan pergi ke Malaysia, tempat orangtuanya Mei yang menetap disana. Tara tidak masalah, meskipun sedikit ada rasa sedih, tapi ya sudahlah, namanya juga yang kedua. Tara mengambil bingkai foto almarhum suaminya dari dalam laci lemari.

"Sekarang saya sudah menikah dengan mas Zaka, Mas. tapi ya jadi istri kedua, ga papa kan Mas?" Tara mengajak bicara foto suaminya, hal ini sudah sering dia lakukan semenjak suaminya meninggal. Hal sekecil apapun selalu dia sampaikan pada foto suaminya, seakan foto itu hidup dan mampu mendengarkan keluh kesahnya.

"Doakan saya bisa menjadi istri yang baik dan patuh ya, Mas. Mas tidak perlu cemburu, karena Mas Zaka dan saya menikah hanya karena dasar kemanusiaan, menolong saya dan Fia, semoga Mas Rahman mengerti. Cinta Tara sudah bulat dan tak terbagi hanya untuk Mas Rahman." ucapnya lagi sambil memeluk hangat foto almarhum suaminya. Hingga matanya terlelap masih dengan memeluk figura tersebut, rindu semakin membuncah, namun hanya bisa ia sampaikan lewat ayat-ayat suci. Semoga Allah memberikan surga bagi suaminya.

Keesokan paginya, bapak dan pamannya pamit, setelah menunggu sampai siang hari Zaka belum juga kembali. Bapak memeluk Tara dengan hangat. "Kuat ya nduk." bapak Tara merasa ada yang aneh dengan pernikahan yang dilakukan anaknya. Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri sebagai orangtua yang kehidupan ekonominya sangat pas-pasan, tidak sanggup jika harus menanggung biaya hidup Tara dan Fia.

Raut ceria Tara tunjukkan kepada bapaknya, tak ada keluhan. Tara mencoba mensyukuri segala pemberian Allah pada dirinya.

"Pak..ini ongkos dan uang pegangan selama di jalan." Tara memberikan titipan uang dari Zaka untuk bapaknya.

"Makasih nduk, kamu ndak minta tho sama suamimu?" tanya bapak sedikit khawatir.

"Ndak, Pak. Justru, ini uang Mas Zaka yang titipin."

"Ya udah jaga diri ya nduk, bapak dan pamanmu balik dulu." pamit bapak dan pamannya. Tara pun mencium punggung tangan keduanya.

Setelah bapak dan pamannya berangkat dengan ojek, Tara menutup pintu rumahnya, bersiap mengajar Salma, murid les membacanya. Fia sedang menonton televisi baru yang dibelikan Zaka. Sekilas Tara melihat ponselnya, ponsel yang diberikan oleh Mei, ponsel lama tapi masih bagus dan bisa dipakai untuk berfoto juga berkirim pesan dengan WA.

"Taraaa...Taraa...bukan cuma suaminya aja bekas Mei, bahkan ponselnya juga bekas Mei." gumam Tara sambil menatap ponselnya. Tak ada pesan apapun dari Zaka ataupun Mei.

*****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BIDADARI SURGAKU
8.3
Lima tahun menikah, Zaira Khazanah belum juga dikaruniai buah hati meski sangat mendambakannya. Di tengah tekanan sosial, ia beruntung memiliki Zafran yang selalu mencintainya tanpa syarat. Namun, rasa bersalah mendorong Zaira meminta suaminya berpoligami. Zafran awalnya menolak keras, hingga Arumi yang memendam rasa padanya hadir sebagai calon madu. Akankah pernikahan mereka bertahan saat cinta harus terbagi demi kehadiran seorang keturunan?
Sampul Novel GODAAN BIRAHI
9.0
Alex Spencer hanyalah pria pengangguran yang menggantungkan hidup pada istrinya, Tracy. Namun, ia justru terobsesi pada Tessa, istri dari seorang kapten pasukan elit bernama Leo Willborwn. Meski Leo unggul dalam segala hal, kesibukannya bertugas membuat Tessa sering merasa kesepian. Celah inilah yang dimanfaatkan Alex untuk menjerat Tessa dalam pusaran nafsu yang berbahaya. Akankah Tessa mampu bertahan dari godaan birahi yang terus menghimpit kesetiaannya?
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, putri konglomerat, diam-diam terlibat dalam geng motor yang menentang shadow economy. Ia jatuh hati pada Rafka, pemuda genius korban perundungan, dan bertekad memenangkan hatinya. Namun, Rafka ternyata menyimpan rahasia serupa sebagai anggota geng motor. Keduanya pun dipertemukan kembali dalam misi besar untuk menjatuhkan organisasi R Black yang sangat kuat. Di tengah tumpukan rahasia ini, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengancam misi?
Sampul Novel PERAWAN RASA JANDA
9.0
Mala sering dianggap janda karena mengasuh keponakan kembarnya, Ghana dan Ghara, demi amanah mendiang kakaknya. Di balik stigma tersebut, hidupnya berubah saat bertemu Gamal, bos arogan yang kerap berselisih paham dengannya. Namun, kedekatan mereka diuji oleh kehadiran Jason, teman lama berdarah Jerman yang terus mengejar cintanya. Mala terjebak dalam dilema hati antara sang atasan atau masa lalunya, sambil terus memikul beban status sosial yang keliru.
Sampul Novel Saat Cinta Terkikis Habis
8.3
Setelah kehilangan bayinya akibat keguguran, seorang istri mencari suaminya, Axel Gunt, di rumah sakit. Namun, ia justru mendapati kenyataan yang menghancurkan hatinya. Axel meminta dokter untuk mengangkat rahim istrinya sendiri, sementara ia mati-matian melindungi kehamilan Annie, sekretarisnya selama tiga tahun yang mengandung darah dagingnya. Pengkhianatan kejam dari pria yang paling dicintainya ini seketika meruntuhkan seluruh kepercayaannya, memaksanya untuk melepaskan hubungan mereka yang telah terkikis habis.
Sampul Novel Sayap-sayap Patah
8.6
Inara Subrata pindah ke New York demi menyembuhkan luka masa lalu dan mencari lembaran baru. Namun, pertemuannya dengan Fabio, CEO sukses di Brooklyn, justru mengungkit trauma lama yang hampir sirna. Kini Ara terjepit dilema hebat: terjebak dalam hubungan tanpa status yang menyakitkan atau membiarkan bisnis kakaknya hancur total. Di tengah perjuangan pahit ini, mampukah Ara menemukan ketulusan dan kebahagiaan sejati yang selama ini ia impikan di tanah asing?