
Aktor Idola Dan Author Barbar
Bab 2
"Halo, Sayang." Ternyata wanita itu telah berpakaian rapi dan sedang mengaduk-aduk kopi di meja makan. Rambutnya yang panjang bergelombang tengah tergerai indah melewati bahu. Dengan dagu runcing dan wajah yang cantik, ia tersenyum pada Erick.
"Kau mau pergi?" Pria itu menggaruk-garuk rambut hitam bergelombangnya yang berantakan.
Wanita tinggi semampai itu kemudian duduk di kursi terdekat dengan menyilangkan kaki. Terlihat kakinya yang jenjang terbalut celana jeans ketat yang dipakainya. "Aku 'kan sudah bilang, hari ini aku akan berangkat ke Paris. Aku sudah tekan kontrak dengan sebuah agensi model di sana. Ada beberapa proyek yang sudah dijadwalkan untukku, jadi aku tak boleh datang terlambat. Mungkin, aku akan keliling dunia, jadi aku tak bisa pulang dalam jangka waktu dua tahun."
"Tapi, kenapa kau memaksaku untuk tidur denganmu tadi malam? Bagaimana kalau kau tiba-tiba hamil?"
Wanita itu hanya tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih. Ia tampak terlihat tenang. Sang wanita meniup pelan cangkir kopi di tangan, sebelum meneguknya sedikit. "Bukankah semalam kita pakai pengaman?"
"Eufh ...." Erick menghela napas.
Wanita itu beranjak berdiri dan meninggalkannya. "Bye, Erick ...." Ia mengangkat tangannya tanpa melihat.
"Tarra ...."
Terdengar bunyi sepatu hak tinggi wanita itu yang mulai menjauh. Tarra adalah pacar Erick selama 2 tahun. Wanita ini kini tengah mengejar cita-citanya sebagai foto model kelas dunia di Paris mulai hari ini. Kini tinggal pria indo itu sendirian di apartemen.
****
"Bagaimana?" Erick baru saja masuk ke ruangan manajernya. Ia menarik kursi yang berada di depan sehingga mereka duduk berhadapan dengan hanya dipisahkan oleh sebuah meja kerja.
"Sudah datang, Mas, tapi aku belum bilang siapa artisnya. Mas, bicara aja langsung dengannya ya?" Pria muda bertubuh kurus itu mulai berdiri. Ia merapikan berkas di meja dan memasukkannya pada rak buku di belakangnya.
"Maksudmu, kamu bilang keperluannya?" tanya pria bule itu sedikit bingung.
"'Kan Mas mau ubah image playboy-nya jadi artis yang lebih religi, nih. Penulis ini juga menulis cerita yang bagus-bagus, cuma novelnya belum terkenal. Dia author online yang masih baru."
"Jadi ceritanya sesuai dengan yang aku minta?"
"Iya. Aku sudah baca salah satu novelnya kok. Pas banget dengan yang Mas mau."
"Ya, udah. Biar aku yang bicara." Pria bule itu berdiri dengan bersemangat. Ia yakin bisa mendapatkan peran itu, apalagi penulisnya belum terkenal dan ditawari novelnya akan difilmkan. Author mana yang akan menolak?
Ditambah lagi, ia yang akan memainkannya. Tak ada yang akan menyangsikan ketampanan dan kepiawaiannya memainkan peran, karena film-film yang dimainkan selalu laris seperti kacang goreng. Karena itu kekayaannya terus bertambah.
Erick mengikuti sang manajer pindah ruangan. Ia memasuki sebuah ruangan lain di mana ada meja besar buat meeting, di tengah ruangan. Seorang wanita berjilbab sedikit panjang duduk menyamping sambil memainkan ponselnya. Walaupun begitu, Erick segera mengenali wanita ini. Wanita itu pun terkejut ketika menatap ke arah pintu.
Sang manajer segera memperkenalkan wanita itu pada Erick. "Ini nama penanya, Dara Jamilah." Ia menoleh pada Dara. "Mbak kenal aktor film romantis ini 'kan, Mbak? Erick Adrian."
"Kamu ...."
Beda dengan Erick yang terkejut, wanita ini menekan gigi gerahamnya karena kesal. Ia tak menyangka artis macam apa yang tengah ditawarkan padanya.
"Oh, Mas kenal?" tanya manajernya terkejut.
"Eh, kami sempat ketemu di pesawat tapi tidak kenal," terang Erick pelan.
"Oh, begitu. Kalau begitu, kalian silakan bicara." Manajer Erick mempersilakan.
Aktor itu belum sempat menarik kursinya ketika Dara langsung berdiri. Tingkah wanita itu membuat kedua pria itu bingung melihatnya. Dara membuka tas tali yang disilang di tubuhnya dan memasukkan ponsel itu ke dalamnya. "Maaf, aku tak tertarik." Ia melangkah pergi.
"Hei, kamu pikir kau siapa!" Erick yang kesal dan merasa dilecehkan, kini memaki Dara dengan bertelak pinggang.
Anda Mungkin Juga Suka





