
Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)
Bab 3
Dada Maimunah terasa nyeri dan semakin sakit di saat terbatuk. Ia menunduk dalam waktu yang cukup lama, membuat Aisyah semakin takut untuk kehilangan dirinya. Ia memperhatikan tubuh pucat Maimunah.
“A ... ir,” pintanya dengan suara serak tertahan.
Aisyah mengangguk dan berlari cepat, mengambil air di kendi kemudian gegas membawanya pada simbok.
Maimunah menenggaknya hingga tandas. Aisyah menaruh asal gelas tersebut kemudian menyebut nama Maimunah. “Mbok ...,” ucap Aisyah lirih.
Maimunah mencoba untuk tersenyum. Bibirnya pucat dan napasnya naik-turun tak beraturan.
“Pegang tangan Aisyah, ya, Mbok. Kita harus segera ke kamar,” ucap Aisyah yang diiringi anggukan oleh Maimunah.
Perempuan renta dan gadis yang baru menginjak usia remaja itu pun berjalan dengan begitu hati-hati. Aisyah terus menggandeng Maimunah. Tubuh kecilnya sigap menjadi penopang tatkala neneknya terhuyung. Mereka saling berpegangan tangan, tertatih, meraba gedek, berjalan perlahan naik ke undakan.
Mereka pun akhirnya sampai di dapur dan kehadiran mereka begitu terasa bagi Ridwan.
“Aisyah?” Panggil Ridwan, menilik keberadaan mereka.
“Mbah tidak tidur?”
“Tidak bisa. Mboknya di mana? Dari tadi aku ndak dengar suaranya.”
Meski usia Ridwan sudah hampir seabad dan usia Maimunah sudah berjalan di angka delapan puluh lima, ikatan batin antara keduanya masih begitu terasa. Cinta mereka tetap saling menguatkan sehingga ketika salah satu di antara mereka merasakan luka, maka yang lainnya pun seakan turut merasakan hal yang sama.
Itu yang membuat Aisyah begitu kagum pada Simbok dan Mbah Kakung. Perangai keduanya sangat lembut dan santun. Bahkan, dalam kondisi seperti ini pun tetap saling peduli antara satu sama lain.
“Apa? Aku di sini,” sahut Maimunah memenuhi panggilan suaminya.
“Apa kau baik-baik saja? Kata Aisyah kamu batuk’an?” tanya Ridwan cemas.
“Tidak apa. Aisyah akan membawaku ke kamar untuk beristirahat dan setelah itu aku pasti akan segera sembuh. Aisyah juga memijitku,” timpal Maimunah berpura-pura sehat.
“Kalau memang sakit, periksa saja ke bidan. Panggil Pak Ramli dan kita jual saja pohon kelapa yang di dekat bukit,” ucap Ridwan memberi saran.
“Tidak. Itu pohon kelapa sudah tinggal satu. Kita masih bisa memanen buahnya untuk kebutuhan Aisyah. Kalau itu dijual, apa yang mau kita andalkan ke depannya.”
Pilu Aisyah mendengar semua itu. Maimunah melihat wajah Aisyah yang kini menunduk dengan mata berembun.
“Syah?” panggil Maimunah.
“I-iya, Mbok?”
“Ayo lanjutkan perjalanan. Bawa Mbok ke kamar.”
Aisyah mengangguk dan kembali menuntun wanita yang sudah bertahun-tahun merawatnya itu. Hingga sampailah mereka di kamar berukuran tidak terlalu lebar. Hanya ada sebuah lincak dengan kasur lapuk dan seprei lusuh, serta satu lemari berukuran sedang yang dibuat khusus oleh Ridwan.
“Ambilkan Mbok jaket, Syah. Mbok kayak yang dingin,” pinta Maimunah.
Aisyah tidak langsung memenuhi permintaan neneknya. Ia terlebih dahulu naik ke atas lincak, kemudian berusaha membantu Simbok untuk duduk dengan baik. Takut masih pusing atau merasakan sakit, Aisyah meminta simbok untuk berpegangan pada beton lincak untuk sementara waktu dan segera ia menuju lemari mengambil jaket biru bunga-bunga.
Tidak terlalu hangat, jaket itu sudah tipis dan lusuh. Ada pula beberapa tambalan di setiap sisinya. Hanya saja, ketika Maimunah sudah memakainya, ia pun juga diselimuti dengan kain jarit dan diapit oleh dua bantal oleh Aisyah.
Maimunah berusaha memejamkan mata, sedangkan Aisyah memijit-mijit lembut kaki neneknya hingga wanita itu memejamkan mata. Tidak bisa tidur sebab batuk masih terus menyerang Maimunah dan Aisyah sangat prihatin dengan semua itu. Ia berhenti memijit dan memeluk Maimunah erat. Air matanya berurai deras.
“Tidak apa-apa, Syah. Tidak usah terlalu khawatir. Mbok mau tidur dulu. Setelah ini pasti sudah sembuh,” ucap Maimunah dengan mata yang terus dicoba terpejam.
Aisyah mengangguk dengan hati teriris perih.
‘Ya Allah. Apa pun penyakit Simbok, sembuhkanlah Ya Allah ....’
***
Waktu menunjukkan pukul satu siang. Batuk Maimunah sudah tidak lagi sesering sebelumnya. Matanya pun terpejam dengan Aisyah yang terus berjaga di sampingnya, khawatir kalau-kalau neneknya itu butuh sesuatu atau mungkin kambuh secara tiba-tiba.
“Nah?” panggil Ridwan.
Pria dengan rambut yang didominasi warna putih itu rupanya belum juga bisa terlelap. Meski mencoba memejamkan mata, sama sekali tidak bisa. Wajah sang istri tercinta dengan suara batuk yang didengarnya terus saja membuat pikirannya tak tenang.
“Syah?” panggilnya lagi terus berusaha mencari jawaban. Tak sabar, Ridwan pun akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan dengan meraba gedek.
Aisyah merasakan bunyi gedek itu. Ia memang sengaja tak menyahut sebab takut simboknya bangun. Terpaksa ia melepaskan pelukan dari simbok, merapikan kain jarit yang digunakan sebagai selimut itu, kemudian bergegas turun secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi dari lincak yang mulai reot.
“Kamu masak apa hari ini, Nah?” Ridwan masih tidak berputus asa untuk menarik perhatian. Ia yang tak bisa melihat itu merasakan kesunyian karena sang istri sudah tak lagi terbatuk.
“Mbah lapar?” tanya Aisyah seraya menuntun Ridwan.
Ridwan tidak menjawab. Ia justru menanyakan keberadaan istrinya. “Di mana Mbokmu? Apakah dia sudah bisa tidur.”
Aisyah mengangguk. “Ya, Mbah. Sebaiknya Mbah tidak usah ke kamar, biarkan simbok beristirahat. Apakah Mbah lapar? Biar Aisyah yang ambilkan, ya?” tawar Aisyah sembari menuntun Simbah menuju ke tempatnya semula.
Ridwan menunggu dengan tertib, layaknya bayi yang menunggu sang ibu untuk mengambilkan makanan untuknya.
Aisyah sama sekali tidak keberatan dengan semua itu. Manusia ketika usianya sudah tua, ia memang sering kembali ke masa kanak-kanak kembali. Ingatannya yang sering lupa, emosinya yang sering tidak stabil, bahkan kemauannya yang kadang aneh-aneh dengan tingkat kesensitifan perasaan yang mudah tersinggung.
Itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Aisyah. Namun, hidup dengan mereka membuat Aisyah merasakan kasih sayang yang selama ini tidak pernah diberikan oleh siapa pun, termasuk abahnya. Aisyah rindu Abah. Aisyah rindu Ummi. Aisyah ingin seperti anak lain, tapi ia sadar semua itu tak mungkin.
Ia mengambil piring di rak dengan perasaan yang bercampur aduk, sedih, ingin, penuh harap, bahkan merasa sangat kasihan pada Simbah dan Simbok dan terus berusaha menguatkan dirinya.
‘Aku harus bisa membahagiakan mereka!’ tekat Aisyah dalam hati.
Setelah selesai mengambil piring dan sendok di rak, ia berjalan menuju bhernyik, tempat penyimpanan nasi yang digantung di atas ettok.
Ettok merupakan tempat penyimpanan barang yang mirip dengan kotak persegi, tapi ada tutupnya. Dari luar terlihat seperti brangkas. Ukurannya cukup besar dan itu biasa digunakan untuk menyimpan lauk ataupun makanan lainnya.
Aroma tanah dari gubuk sederhana itu tercium. Rumah yang ditempati Aisyah dan Mbah Kakung serta Simboknya itu memang jauh dari kesan rumah modern. Peralatannya pun bahkan juga masih menggunakan peralatan jaman dulu.
Gilis, untuk menggiling padi. Jubheng untuk menyimpan beras. Ettok untuk menyimpan makanan. Kendi dari tanah untuk menyimpan air. Tungku untuk memasak dan Sobluk dari tanah liat sebagai ngeliwet nasinya, serta banyak lagi peralatan kuno lainnya.
Setelah nasi dengan lauk tahu isi berhasil Aisyah ambil, bergegas gadis itu mebuju ke rak yang di atasnya ditaruh kendi berukuran mini. Sayur labu siam yang tadi pagi Maimunah petik Aisyah petik di pekarangan rupanya sudah tersaji bersama daun kelor. Aromanya begitu sedap. Membuat Aisyah pun turut merasakan lapar tatkala menyendoknya.
“Syah?” panggil Ridwan. Menunggu ternyata membuatnya sedikit bosan. Ia pun penasaran dan tidak tahan untuk tidak memanggil cucunya.
“Iya, Mbah. Aisyah segera datang!”
Gadis itu pun segera berjalan menuju lincak tempat Mbah Kakung duduk menunggu.
“Sudah baca doa, Mbah?” tanya Aisyah lembut.
“Sudah dari tadi.”
Pria berwajah keriput itu tersenyum, kemudian menganga. Aisyah memperhatikan kerutan-kerutan di wajahnya dengan rasa penuh cinta. Ia julurkan tangannya, sendok berisi nasi dan lauk kini sudah sampai di mulut Ridwan. Ridwan mengunyahnya dengan begitu lahap.
“Enak, Syah,” pujinya dan Aisyah tersenyum sembari terus menyuapi sang kakek tercinta.
Saat acara makan sudah usai, Aisyah menyuguhkan minuman. Ketika itu pula, Ridwan merasakan sesuatu yang membuat dadanya sesak kembali.
“Andai Mbah masih bisa melihat, Mbah pasti tidak akan merepotkanmu, Nduk,” sesal Ridwan.
Entah sudah kali ke berapa hari ini Ridwan meratapi nasibnya. Yang jelas Aisyah sangat tidak ingin mendengar pernyataan miris itu.
“Mbah!” ia pun mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Hm?” sahut Ridwan cepat.
“Aisyah ingin mendengar bagaimana ceritanya Mbah bertemu dengan Simbok dulu. Usia kalian, kan, sudah tidak lagi muda, tapi cinta kalian seperti tetap kuat dan begitu luar biasa.”
Mendengar pujian dari sang cucu, Ridwan menjadi tersenyum. Angannya terbang ke masa mudanya. Sesosok wanita cantik kini terbayang dalam angan.
“Kami dulu bertemu sewaktu Mbokmu membeli cobek. Kebetulan, Mbah memang sudah jadi pengrajin sejak muda.”
“Wah? Jadi Mbah memang ahli di bidang seni, ya? Kaligrafi Allah dan Muhammad itu, apa Mbah juga yang buat?”
Ridwan mengangguk penuh semangat. “Termasuk lemari, ettok, rak, dan semua perlatan di sini Mbah buat dengan tangan Mbah sendiri.”
“Terampil sekali. Bagus!” puji Aisyah tulus.
Mata Ridwan tampak berbinar, tapi hanya putihnya yang terlihat sebab hitamnya sudah terkikis karena katarak.
Aisyah menyentuh pelan punggung tangan sang kakek yang begitu kasar dan keriput itu.
“Apa ada yang ingin kau katakan?” tanya Ridwan seolah mengerti dengan sikap cucunya hanya dengan bahasa sentuhan.
Aisyah tak sanggup berbicara. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan saja. Ia menarik napas dalam, lalu membayangkan sesosok rupa ayahnya yang seakan lepas dari tanggung jawab.
Ingin sekali ia bertanya bagaimana kisah percintaan Abah dan Uminya dulu. Apakah mereka benar-benar saling mencintai? Apakah kehadiran dirinya memang diinginkan? Atau mungkin, apakah pria yang bernama Mustafa itu sudah hilang ingatan sehingga membiarkan dirinya hidup begitu saja tanpa nafkah?
Padahal, bukan keinginan dirinya untuk tidak memiliki ibu.
'Ummi ... Aisyah rindu ....'
Anda Mungkin Juga Suka





