
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
Bab 2
Syifa Sastrowardoyo POV:
Pagi itu, Daffa pulang dengan bau alkohol yang menyengat. Dia berjalan terhuyung, bahkan tidak menyadari keberadaan Bintang yang sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan mata berbinar.
"Papa!" panggil Bintang, berlari kecil ke arahnya.
Daffa menoleh, mengerutkan kening. "Jangan panggil aku Papa." Suaranya dingin, menusuk. "Aku sudah bilang, bukan?"
Bintang langsung terdiam, senyum di wajahnya memudar. Dia menunduk, matanya berkaca-kaca. "Maaf, Om Daffa."
Aku merasa nyeri di dadaku. Itu adalah panggilan yang kuajarkan padanya, permintaan Daffa sendiri. "Jika kau tidak bisa mendidik anakmu dengan baik, dia akan kutendang keluar dari rumah ini bersamamu," ancam Daffa padaku suatu kali, saat Bintang tidak sengaja menyebutnya 'Papa' di depan para tamunya. Aku tidak pernah melupakan kata-kata itu.
Aku hanya bisa terdiam, menatapnya seolah dia adalah orang asing. Aku tidak tahu apakah pria ini masih punya hati. Aku pergi ke dapur, menyiapkan sarapan seperti biasa. Telur orak-arik, roti panggang, dan jus jeruk segar.
Daffa duduk di meja, melirik sekilas hidangan di depannya. "Buatkan aku kopi," katanya acuh tak acuh, lalu mengambil ponselnya.
"Leni akan datang sebentar lagi," tambahnya, tanpa menoleh. "Pastikan kalian tidak terlihat. Dan jangan biarkan Bintang mendekati putri Leni."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Memastikan kami tidak terlihat. Mengapa dia harus menyembunyikan kami seperti sampah?
Aku menghela napas, menuruti kemauannya. Setelah Daffa selesai sarapan dan pergi, aku mengantar Bintang ke sekolah.
Dulu, aku adalah seorang seniman. Lulusan terbaik akademi seni, karyaku sering dipamerkan di galeri-galeri bergengsi. Tapi setelah menikah dengan Daffa-meskipun hanya di atas kertas-aku meninggalkan semua itu. Kehidupanku hanya berputar di sekelilingnya dan Bintang. Aku ingin melukis lagi.
Kadang, saat Bintang sudah tidur, aku duduk di studio kecilku di rumah ini. Melukis. Semua karyaku adalah tentang Daffa. Wajahnya yang dingin, senyumnya yang jarang, bahkan punggungnya saat dia pergi. Lukisan-lukisan itu adalah cerminan dari cinta tak berbalas yang kubawa selama ini.
Suatu hari, Daffa masuk ke studio tanpa permisi. Dia melihat salah satu lukisanku, potret dirinya yang sedang membaca buku, dengan secangkir kopi di sampingnya. Matanya yang dingin mencerminkan kesepian. Aku menganggapnya adalah ekspresi paling indah dari Daffa.
"Kau melukisku?" tanyanya, suaranya terdengar mencemooh. "Apa kau tidak ada pekerjaan lain?"
Jantungku mencelos. "Itu... itu hanya iseng saja."
Dia mendekat, menatap lukisan itu dengan pandangan jijik. "Kau tahu, aku tidak pernah mencintaimu, Syifa. Aku hanya mencintai Leni."
Kata-kata itu menghantamku lebih keras dari apapun yang pernah dia lakukan. Air mataku mengalir, tapi aku tidak bersuara. Begitu Daffa pergi, aku menatap semua lukisan di dinding. Semua yang kubuat untuknya. Rasanya jijik.
Aku mengambil korek api, satu per satu, kurobek kanvas-kanvas itu dari bingkainya. Api dengan cepat melahap setiap jejak Daffa. Asap hitam mengepul, memenuhi ruangan, tapi aku tidak peduli. Aroma cat terbakar memenuhi paru-paruku, namun aku merasa anehnya lega. Seolah-olah, setiap kepingan hatiku yang hancur ikut terbakar bersamanya.
Aku tidak akan pernah lagi melukis wajahnya. Aku tidak akan pernah lagi mencintainya. Ini adalah akhir dari segalanya. Aku merasa kosong, mati rasa.
Drrrt... drrrt...
Ponselku bergetar di atas meja. Aku melihat namanya di layar: "Sekolah Bintang".
Jantungku berdebar kencang. Ada apa ini? Bintang tidak pernah membuat masalah di sekolah.
Aku segera mengangkatnya. Suara kepala sekolah terdengar panik. "Nyonya Syifa, Bintang... Bintang berkelahi di sekolah."
Anda Mungkin Juga Suka





