Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel After Of You

After Of You

Tiga tahun mendampingi Alvin dari nol hingga sukses rupanya tak menjamin kesetiaan. Saat kariernya memuncak, Alvin justru berselingkuh dengan sekretarisnya, memaksa Laura pergi dengan hati hancur. Terpuruk dalam depresi, Laura nyaris mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, di ambang kematian, seorang pria misterius datang menyelamatkannya. Sebelum kehilangan kesadaran, Laura hanya sempat mendengar suara dingin yang menyebutnya wanita bodoh.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari-hari Laura kini jauh lebih bahagia pasca pernyataan sang kekasih yang melamar dirinya tempo lalu. Hubungannya pun juga semakin harmonis dan semakin romantis, terlihat Alvin yang selalu memberi kabar tentang apapun kesibukan dengan jabatan barunya sekarang. Begitupun Laura sesibuk apapun pekerjaannya ia selalu menyempatkan untuk mengirim pesan singkat kepada kekasihnya.

"Bahagia banget nih besti, kapan rencana mau sebar undangan?" tanya sahabat Laura yang juga satu devisi ikut senang melihat raut bahagia sejak cincin cantik bertengger di jari manisnya.

     "Hehe, doain ya, Alvin masih sibuk dengan pekerjaannya! Dia kan juga baru naik jabatan," jawab Laura dengan senyum yang mengembang. 

     "Gue doain semoga hubungan lo langgeng terus, Ra, jadi iri gue, hiks!" ungkap Reysa dengan pura-pura memasang ekspresi sedih.

   "Mangkanya, jangan kelamaan ngejomblo dong, biar ada penyemangat," ceplos Laura sambil nyengir kuda.

     "Hmmh, maunya sih gitu, belum nemu yang cocok," ujar Reysa sambari menghembuskan nafas.

     "Itu, Bastian mepet lo mulu tapi gak lo gubris," ledek Laura.

     "Apaan sih, laki gak jelas gitu, ogah gue mah," sewot Reysa.

     "Gak jelas gimana? jabatan juga udah oke, cakep juga iya, kurang apalagi cobak?" puji Laura berkata jujur.

     "Iya, playboy juga iya," imbuh Reysa dengan nada kesal.

    "Tapi kayaknya sama lo serius deh, Sa! soalnya dia pernah nanya-nanya tentang lo sama gue," kata Laura.

     Sambil mengerutkan kening dan penasaran Reysa bertanya. "Tanya apa emangnya?"

     "Tuh, penasaran juga kan lo!" Ejek Laura sambil menertawakan sahabatnya tersebut.

     "Ya, elonya mancing-mancing, sialan lo," Ketus Reysa.

     Sambil tertawa, Laurapun memberi tahukan apa yang pernah Bastian tanyakan tentang Reysa. "Ya dia cuma tanya lo udah punya pacar apa belum, soalnya dia tertarik sama lo, tapi lonya cuek banget sama dia," ucap Laura memberi tahu ungkapan Bastian.

     "Lah dia ceweknya aja segudang, lo percaya aja sama mulut tuh buaya, yang ada ntar gue cuma di jadiin koleksi lagi sama dia," Reysa berkata dengan nada kesalnya.

   "Sabar buk, mana tau sama lo, dia bisa berubah."

     "Berubah jadi bunglon," sahut Reysa yang hanya di jawab gelengan kepala dan tertawa Laura.

     Reysa adalah rekan kerja satu devisi dengan Laura, perkenalan mereka yang cukup lama membuat pertemanan mereka semakin dekat. Laura juga sering curhat dengan Reysa begitupun sebaliknya. Tidak jarang juga Reysa terkadang menginap di Apartement Laura, begitu juga Laura yang terkadang menginap di rumah Reysa. Dan orang tua Reysa pun mengenal Laura sangat baik.

      ***

      Di perusahaan lain Alvin semakin disibukkan dengan segudang pekerjaan dan tanggung jawab lebih karena jabatannya kini sudah naik pangkat menjadi seorang Manager. Berkat kerja kerasnya lah Alvin bisa naik jabatan, tidak jarang juga ia selalu dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan dengan klien di luar.

      Tok… Tok… Tok…

     Pintu terbuka membuat Alvin mendongak menatap ke arah pintu ruangannya yang terbuka. Terlihat sekretarisnya masuk dengan membawa beberapa berkas yang di sodorkan di atas meja kerjanya. Tidak bisa di pungkiri sekretaris Alvin  memang cantik dengan body yang sangat sexy, terkadang Alvin sampai salah tingkah saat melihat sekretarisnya yang berusaha mendekatinya.

     "Maaf, Pak, saya mau menyerahkan berkas yang harus di tanda tangani," sang sekretaris menyodorkan map di depan meja kerja Alvin.

Setelah menandatangani berkas tersebut, Alvin menyodorkan kembali kepada sekretarisnya.

   "Apa ada yang, Bapak, butuhkan?" tanya sekretarisnya lagi sembari mendekat.

 "Tidak, terimakasih, silahkan lanjutkan pekerjaan kamu kembali," jawab Alvin, kemudian sekretaris tersebut keluar dari ruangannya.

     ***

     Jam dua belas Alvin keluar dengan sekretarisnya untuk bertemu dengan klien. Alvin dan sekretarisnya masuk satu mobil, dengan Alvin mengemudikan mobilnya sendiri. pertemuan diadakan di kafe tidak jauh dari kantor perusahaannya. Hening, tak banyak obrolan di antara keduanya saat dalam perjalanan.

    "Maaf," ucap Alvin saat tak sengaja memegang tangan Siska yang sedang mengambil tisu di sampingnya.

     "Gak pa-pa, Pak," Siska tersenyum sembari melihat Bosnya yang salah tingkah.

     "Emm… Nanti malam kamu ada acara?" tanya Alvin dengan sedikit ragu.

     "Gak ada, Pak, memangnya ada apa ya, Pak?" Siska balik bertanya.

     "Nanti malam aku ajak keluar, mau?"

  "Ke-keluar? Boleh, Pak," jawab Siska sedikit gugup.

     "Ok, nanti malam aku jemput,"

     Alvin memang sudah tau rumah Siska karena pernah mengantarnya pulang saat lembur hingga malam hari. Mobil mereka kini sampai, kemudian mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kafe untuk bertemu kliennya.

     Hari berganti sore, Kantor sudah sunyi karena jam pulang kantor sudah tiba, ada beberapa karyawan yang masih menyelesaikan pekerjaannya. Alvin pun mengemasi berkasnya untuk segera pulang, ia sudah ingin mengistirahatkann badannya yang sedikit lelah setelah beraktivitas.

     "Mau, pulang?" tanya Alvin pada sekretarisnya saat melihat Siska menenteng tas kerjanya.

     "Iya, Pak, pekerjaan saya sudah selesai."

     "Mau barengan sama saya sekalian? kita kan searah," tawar Alvin pada Siska.

     "Gak ngerepotin, Bapak?" 

   "Gak, ayo," ajak Alvin yang di angguki oleh Siska, lalu keduanya berjalan beriringan.

     Perjalanan ke rumah Siska hanya menempuh beberapa menit karena jarak dari kantornya memang tak begitu jauh. Setelah sampai di depan rumah Siska, Alvin menepikan mobilnya.

     "Terimakasih ya, Pak, buat tumpangannya," ucap Siska mengucapkan terimakasihnya sembari tersenyum manis pada Alvin.

     "Sama-sama, nanti malam jangan lupa ya?" Siska tersenyum kemudian mengangguk sebagai jawaban.

     ***

     Pada malamnya Alvin sudah siap dengan setelan kemeja dan celana levis. Alvin terlihat lebih tampan saat menggunakan pakaian casual. Saat sudah berada di depan rumah Siska Alvin mengeluarkan Handphonenya untuk menelpon.

     "Sudah siap, aku sudah di depan rumah kamu," ucap Alvin saat sambungan telpon terhubung.

      "....."

   "Ok, aku tunggu!" Setelahnya panggilan berakhir.

     Selang beberapa menit setelah telpon berakhir, seorang wanita cantik menggunakan dress selutut keluar dari rumahnya. Alvin sedikit terpesona dengan Siska karena terlihat cantik saat mengenakan pakaian biasa yang biasanya selalu melihat memakai pakaian formal. Begitupun Siska yang terpesona melihat ketampanan Bosnya yang terlihat lebih tampan saat menggunakan pakaian casual. Sejujurnya memang Siska menaruh ketertarikan kepada Bosnya saat menjadi sekretaris barunya. Ketampanan dan kewibawaan seorang Alvin memang tidak di ragukan lagi, banyak yang menaksir Alvin tetapi Alvin terlihat biasa saja dan cuek membuat Siska penasaran dengan sosok Alvin.

     Namun dengan ajakan Alvin pada dirinya, Siska yakin jika Alvin pun juga tertarik dengan dirinya. Siska juga senang seandainya perasaanya terbalas.

     "Sudah sampai," bisik Alvin di dekat telinga Siska, saat mobil sudah terparkir di depan restoran mewah.

     Siska yang sedikit terkejut karena melamun, seketika menoleh. "Eh, Iya, Pak, maaf!" jawab Siska sedikit kikuk.

     "Lagi ngelamunin apa?" tanya Alvin sembari tersenyum melihat tingkah lucu Siska yang terkejut.

     "Hehe, gak ada, Pak,"

     "Ayo, turun," ajak Alvin, kemudian keduanya turun dan berjalan beriringan.

     Alvin kemudian masuk dan duduk berdekatan dengan Siska. Sambil menunggu pesanan datang Alvin mengobrol, keduanya terlihat sangat romantis, jika orang tidak tahu mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

      Siska memang sering menemani Alvin di berbagai pertemuan, terkadang juga saat jam istirahat, namun entah kenapa malam ini terasa berbeda. Di tengah-tengah obrolannya, Alvin tiba-tiba saja memegang tangan Siska, membuat Siska terdiam dan memperhatikan Bosnya tersebut.

      "Sis, apa kamu sudah mempunyai kekasih?" tanya Alvin gugup, sembari memegang tangan Siska.

     "Be-belum, Pak, memangnya kenapa?" jawab Siska yang juga gugup, detak jantungnya pun berdegup sedikit kencang.

     "Jujur, saya tertarik sama kamu! Kamu mau jadi pacar saya?" Alvin menyatakan perasaannya tanpa memikir sedikitpun Laura yang jauh darinya.

     "Bapak, serius," Siska memastikan kembali pernyataan Alvin.

     "Sangat serius," ucap Alvin sembari mengelus tangan yang di pegang Alvin.

   Dengan malu-malu Siska mengangguk sebagai jawaban dari pernyataan alvin. "Ii-iiya, saya terima, karena jujur dari awal saya juga tertarik sama, Bapak," Siska tersenyum saat mengatakan perasaannya.

  Alvin mencium tangan Jeslyn mesra, "terimakasih, mulai sekarang jangan panggil, Bapak, saat kita sedang di luar."

     Tidak jauh dari tempat Alvin, seseorang memotret kedua pasang laki-laki dan wanita yang sedang duduk bermesraan tersebut. Dia adalah Reysa yang merupakan sahabat sekaligus rekan kerja Laura. Sedikit banyak Reysa tau tentang hubungan temannya dengan Alvin yang sudah terjalin cukup lama, entah apa yang ada dalam pikiran Alvin sampai tega mengkhianati kekasih yang sudah menemaninya dari nol. Laura memang beberapa hari ini sedang keluar kota karena ditugaskan atasan untuk pekerjaannya. 

     "Dasar cowok brengsek," gumam Reysa setelah mengambil gambar yang ia lihat. 

     Jujur ia juga tak sampai hati jika harus menunjukkan gambar yang ia lihat, terlebih ia juga mendengar pernyataan Alvin yang menembak perempuan tersebut. Namun ia juga tidak bisa diam saja melihat sahabatnya di khianati. Reysa akan memberitahu Laura setelah Laura kembali ke perusahaan, entah Laura akan percaya atau tidak dengan apa yang ia lihat. akan tetapi lebih baik jika Laura mengetahui daripada dia akan di bodohi oleh lelaki tersebut.

     ***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel GAIRAH TERLARANG KAKAK IPAR
8.4
Renata Adinda terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Adi Sanjaya. Meski berstatus suami istri, Adi bersikap dingin dan mengabaikan kewajibannya, bahkan enggan berbagi ranjang. Di tengah kesepian itu, Ryota Anggara hadir. Kakak kandung Adi tersebut menyadari keretakan rumah tangga adiknya dan mulai mendekati Renata. Ketertarikan Rio memicu hubungan terlarang yang penuh gairah di antara mereka. Akankah cinta rahasia ini bertahan atau berakhir kehancuran?
Sampul Novel Jangan Lari Sayangku
9.1
Sanny Chandra mengira pernikahannya dengan Jordan Wijaya hanyalah kontrak sementara yang berakhir dengan perceraian. Namun, setelah menikah, Jordan yang semula dingin berubah menjadi suami yang sangat posesif dan memanjakan istrinya. Sanny terjebak saat Jordan melanggar janji dengan menuntut kewajiban batin hingga ia hamil. Saat Sanny menagih janji cerai dan surat kontrak yang dirobek, Jordan dengan tegas menolak melepaskan istri yang telah ia dapatkan.
Sampul Novel Luka Yang Tak Termaafkan
8.5
Tujuh tahun Celeste Marvina mengabdi sebagai istri Darian Elwood sebelum fitnah keji Ivana Greer menghancurkan segalanya. Dituduh selingkuh dan diusir tanpa harta oleh mertuanya, Celeste kehilangan segalanya. Namun, dua tahun kemudian ia bangkit sebagai direktur teknologi yang berkuasa. Celeste kembali bukan untuk mencari cinta, melainkan menuntut balas dan harga diri. Kini, kendali ada di tangannya untuk menghancurkan mereka yang pernah mengkhianatinya.
Sampul Novel Merebut Cinta Suami Dari Kekasihnya
8.9
Abimanyu Raharja terpaksa menikahi Hazna Safitri, seorang guru TK sederhana, demi menuruti keinginan ibunya. Meski Hazna adalah istri setia yang menjaga kehormatan rumah tangga, Abimanyu tetap tidak bisa mencintainya. Hatinya telah tertambat pada Angela Kana, aktris populer yang menjadi kekasih gelapnya. Kehadiran Angela bagai mawar indah bagi Abimanyu, namun durinya terus melukai perasaan Hazna. Kini kesabaran Hazna menjadi satu-satunya kekuatan untuk bertahan.
Sampul Novel Penantian seorang istri
8.9
Dalam sebuah pernikahan modern yang penuh dengan kedinginan, seorang istri berjuang tanpa lelah demi mencairkan hati suaminya yang kaku dan tak tersentuh. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berupaya menghadirkan benih-benih cinta di tengah rumah tangga mereka yang hampa. Namun, tantangan batin terus menguji keteguhannya. Apakah kegigihannya akan membuahkan hasil manis, ataukah ia justru akan memilih untuk menyerah karena rasa lelah yang mendalam?
Sampul Novel Penghianat Itu Sahabatku
8.3
Persahabatan erat Sabila dan Amara hancur seketika saat Amara tega merebut Jordi, kekasih Sabila. Pengkhianatan ini diperparah fitnah keji yang membuat mental Sabila terguncang hebat. Meski sempat terpuruk, dukungan keluarga berhasil membangkitkannya kembali. Kini, Sabila memilih menutup diri dan menjadi pendiam demi melindungi hatinya. Namun, situasi berbalik saat Amara mulai menuai karma pahit. Bagaimana sikap Sabila melihat kehancuran mantan sahabatnya itu?