Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel 15 + (Lima Belas Tahun Ke Atas)

15 + (Lima Belas Tahun Ke Atas)

Kehidupan masa SMA di sekolah 15 penuh dengan momen kocak dan tingkah konyol. Tiga orang sahabat menjalani hari-hari mereka dengan tawa serta berbagai kejadian absurd yang mewarnai dunia remaja. Menariknya, rangkaian peristiwa unik ini diangkat dari pengalaman nyata seorang pemuda bernama Vlomontleus. Pembaca akan dibawa menyelami dinamika persahabatan yang autentik, penuh kejutan, serta sangat relevan dengan realitas kehidupan anak muda masa kini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Coba ingat sekali lagi awal kalian masuk SMA. Pasti yang pertama terlintas dalam pikiran kalian adalah berapa banyak buku cetak semacam LKS yang bisa jadi alasan kamu untuk minta duit ortu. Ga.. maksud gue, cara membina hubungan pertemanan dengan orang-orang baru. Yaps! gue juga ngerasain hal yang sama. Berawal dari Robertino Daniel Saputra. Gue akhirnya nemuin seorang temen yang buat gue nyaman di sekolah.

Robby adalah nak SMA labil berdarah Tionghoa yang tingginya sedikit banyak mirip ama Dakochan dan kalau dibotakin gue yakin ni anak akan mirip banget ama tuyul. Si Doi Doyan nonton anime Jepang, lumayan baik sih orangnya (kalau disandingin ama Jengis Khan) dan juga pengertian (kalau lagi ada maunya). Namun Robby di satu sisi adalah sosok sedikit bloon (banget sih), suka banget menggembel di pojokan. Dia juga siswa sok pintar yang beberapa kali nyaris buat kita diskorsing ama guru. Seperti saat pelajaran bahasa Inggris.

“Mbel (panggilan akrab buat Robby).” Kata gue sambil nyodorin ke dia sebuah nama; William sex-sepray “emang gini ejaannya?”

Si Robby gelengin kepala sambil hela nafas malas yang panjang. “Yaeyalah! masa itu aja lo ga tau sih.” Jawabnya dengan penuh gaya.

Lo pade pasti tahu apa yang terjadi ketika guru mapel itu meriksa jawaban kita berdua.

“Bagus..” kata si guru. Trus dia kasih nilai kita 8.

Guru ama murid ternyata sama aja begonya.

Robby bukan hanya sok pinter dalam mata pelajaran. Dia juga sok tahu tentang apa saja yang lagi ngetrend. Seperti saat piala dunia lagi panas-panasnya.

“Gila ni Spanyol!” teriak si Robby.

Gue yang fans banget ama Spanyol langsung mendekat dari arah dapur. “Gol ya?” tanya gue (penasaran).

“Ga..” jawab si Robby dengan santainya. “Gue heran aja, masa Xavi cs make penyerang yang udah tua banget.”

“Udah tua? Torres maksud loh?”

Dia ngangguk.

“Ah Torres blum terlalu tua kok..” gue nyanggah.

“Belum tua apaan! Lo liat aja tu mukenye. Udah tua bediri bengong di pinggir lapangan. Ga guna sama sekali.” Dengan tegas Robby nunjuk ke arahnya Vicente Del Bosque.

Gue beku. Semenit kemudian gue jilatin tu tipi.

“Itu pelatih Roobb!!! P-E-L-A-T-I-H!!!”

“Ow...” Robby mencibir malas.

Selain Robby gue juga punya sahabat cewek yang namanya Lolindra Elizabeth atau akrab disapa Lolita. Dari namanya aja udah kelihatan betapa mengerikannya cewek yang satu ini. Gue jadi inget nama Elizabeth Bathory, pembunuh kejam yang suka makan pizza sambil minum air comberan, Lho? ...

Berbeda dengan Robby yang berdarah Tionghoa, Lolita berdarah batak-Cina (Cina sama Tionghoa itu beda kan?) Lolita orangnya cukup cantik, namun bukan cantik alami sih. Kecantikan ini karena peralatan tempur (baca:makeup) dia semuanya dibeli dari luar negeri. Bedaknya dari Zimbabwe, maskaranya dari Ethiopia, eyelinernya dari Nigeria dan alat potong bulu idungnya dari Israel. Tunggu.. tunggu.... Israel? ZIONIIISSS!!!! INI MANUSIA PASTI ANTEK-ANTEK YAHUDI!!!! BUNUH DIA—BUNUUHH!!! Sorry-sorry gue jadi sering lepas kendali kalau denger kata ‘ISRAEL’ (gara-gara keseringan nonton video konspirasi di Yusuf).

Selain itu, Lolita juga kerap menggunakan barang yang merknya aneh-aneh kalau didengar sama orang yang telinganya kurapan kayak gue.

“Lol, tas lo kok beda ama temen-temen yang lain?” tanya gue sambil ngernyit ke arah tas hitam dari kulit buaya (Oemar Bakri) itu.

“Oh ini?! (nunjuk tasnya) Ini hermes, emang ga ada di Indonesia. Gue aja belinya di London.” Jawabnya santai.

“Gilaa! bio – theknologi terbaru! sekarang penyakit aja bisa dibuat tas ya?” gue terkagum-kagum.

Lolita mandang masam ke gue. “Jangan bilang yang lo maksud herpes.”

Gue ngangguk sambil senyum kecut.

“Hermes dodol bukan herpes!” Lolita sewot sambil mandang ke arah seragam lusuh gue yang lupa disetrika ama nyokap. “Seragam lo juga kok beda ya ama yang lain?”

“Oh ini?” kata gue sambil ngangkat kerah seragam lusuh itu. “Ini seragam dari kulit kanguru merknya Kauliet kengaro. Gue beli dari pemburu liar di Australia..” kata gue dengan bangga (ga mau kalah sama tas herpesnya)

Lagi-lagi Lolita bengong dengan mata yang tidak berkedip ketika mandang ke arah wajah gue yang rupawan ini.

Selain glamour dalam urusan fashion, Lolita juga adalah tipe cewek yang paling sering ngeluh serta panuan, eeehh parnoan maksudnye. Ngeluhnya pun aneh-aneh.

“Van..” Lolita nunjukin mukanya ke gue.

Gue langsung ngernyit. “Apa? Lo mau gue cium?”

Lolita cemberut. “Bukaaaaannn!!” dia nambah nunjukin mukanya lalu ngomong. “Gimana makeup gue, centip ga?”

Gue nganga bentar sambil coba mandang seksama ke arah mukanya.. lalu gue jawab.

“Lumayan sih.” Gue jawab.

Lolita langsung lemes. Dia balik ke kursi sambil masang pose mikirin utang di sana.

“Eehh, kok lo jadi ga semangat gitu?”

Lolita hanya geleng dengan muka lemasnya.

Di saat seperti ini, hanya ada satu cara buat nyenengin dia. Gue jalan mendekat ke arah dia sambil mandang ke arah wajahnya dengan seksama dan penuh konsentrasi.

“Gilaaa!! makeup lo bagus buanget. Penyatuan dua unsur berbeda yang saling ekuivalen. Kecantikan lo ga bisa dilukiskan Lol. Menegangkan banget diliatinnya.”

Mendengar ucapan gue yang makna en artikulasinya blepotan itu, senyum Lolita langsung nongol. Sambil malu-malu ojek, hah? malu-malu ojek? Dia bilang, “Masa sih?”

“Iyaa, kalau di sandingin ama kecoak!” gue langsung kebur.

“Vaaaaannn!!!!!” Lolita uber gue pake golok.

Nah itulah salah satu ciri dua sahabat gue. Yang satu bloon dan yang satu glamour. Bloon dan glamour (over fashion) serta gue yang ...... (Lo nilai sendirilah). Kita bertiga menjadi kombinasi paling KOMPAK dalam membentuk sebuah koloni tersendiri yang sering disebut sebagai lingkaran sahabat.

Btw (bokong tepos wanita), jika di atas adalah gambaran umum tentang kedua sahabat gue, sekarang gue akan ceritain bagaimana awal mula kenapa bisa gue akrab ama keduanya.

AWAL KETEMU SI ROBBY (akibat fisika)

Hari itu adalah hari terakhir penjajahan para senior alias MOS. Ibarat negara, tepat hari itu juga kami yang anak baru menyatakan kemerdekaan dengan penuh rasa bahagia. Bahkan ada satu anak yang nangis penuh rasa haru. Pas dicek ternyata kaki anak itu keinjak tronton. Kasian banget, mana trontonnya isinya banci semua.

Semua anak kelas 1 akhirnya diperkenankan masuk ke dalam kelas untuk mendapatkan pelajaran. Namun ketika masuk kelas, gue akhirnya nyadar bukan hanya di DPR, masuk sekolah manapun di Indonesia juga ibarat membeli kursi. Ketika gue mandang ke dalam kelas, semua kursi seolah sudah ada penunggunya. Masing-masing bangku telah ditandai dengan nama siswa yang duduk di sana. Gilaaa!! Masa gue mau ngelantai??!!! Namun setelah gue mandang sekali lagi (dengan tatapan laser) ternyata masih ada satu bangku yang belum terisi dan bangku itu berada di barisan kedua dari depan. Dengan buru-buru gue langsung menuju ke sana.

Di sebelah bangku kosong itu, duduk sesosok maklhuk aneh bertubuh gempal. Namanya Mario Kurniawan. Mario adalah salah satu siswa SMA yang paling doyan makan hingga badannya ampe segede anoa Eropa, Emang di Eropa ada anoa? Ketika gue duduk di sebelah dia, gue akhirnya nyadar bahwa kita akan terlihat kecil di hadapan Tuhan. Jangankan di hadapan Tuhan di hadapan si Mario aja gue udah kelihatan kayak lambang osis yang terpajang di bawah keteknya.

Meski saat itu gue duduk di sebelah truk gandeng, namun semangat gue untuk mendapat pelajaran ga luntur sama sekali. Ibarat badan si Mario berbanding lurus dengan besarnya semangat gue. Tetapi yang buat semangat gue kemudian perlahan mengendur bahkan akhirnya menciut adalah apa yang di tulis Mario di atas catatan jadwal mapelnya.

“Apaan tu bro?” tanya gue sambil mandang seksama ke arah catatan dia.

“Oh, ini jadwal mapel (Lobster).” Jawabnya.

“Oh...” Gue ngangguk tanpa mengalihkan pandangan gue.

Mata gue semakin fokus ketika Mario nulis mata pelajaran yang masuk di hari selasa. Ketika nulis satu persatu huruf di dalam sana, waktu seolah melambat, seirama dengan detak jantung gue.

F gue mendeguk

I gue melotot

S gue melotot dan mendeguk di saat bersamaan

I gue menahan nafas (sambil moonwalk)

K gue melotot, mendeguk, moowalk serta menahan nafas bersamaan.

Baiklah saudara-saudara ini kesempatan terakhir Evan untuk bertahan hidup di dalam kelas!! ini udah kayak komentator bola versi Indonesia aja, ngawur!

A Jenjreeenggg !!! gue berharap MOS dilanjutin.

Gue ga nyangka kalo pelajaran pertama hari itu ternyata Bahasa Indonesia.. (Lho?)

Beberapa detik kemudian terdengar suara parau yang memberi salam dari luar kelas. Tampak si pemberi salam adalah seorang pria bertubuh kurus, kepalanya sedikit botak dengan kaca mata besar yang terlihat seperti bapaknya Enstein. Keluarin lidahnya dong pak, biar nambah miripnya.

“Selamat pagi anak-anak. Saya Herman Jayadi, guru fisika kalian.” Hanya itu perkenalan dari pak Herman sebelum dia menuju papan tulis untuk menggambar satu garis lurus di sana.

EROR: JARINGAN DI LUAR OTAK!!

Jujur, bukannya gue ga suka dengan pak Herman atau ga mau mendalami ilmu fisika. Tapi sangat jelas bahwa orang-orang semacam Enstein ataupun Thomas Alva Edison adalah manusia yang memang memiliki kapasitas otak yang jauh di atas manusia pada umumnya. Lagian di Indonesia fisika emang ga begitu di sukai kok, liat aja orang-orang yang ahli fisika asal Indonesia seperti Pak Habibie, semuanya diusir ke luar negeri.

Selama pak Herman ngomong di depan kelas, selama itu juga gue mandang ke sekitar untuk mencari tempat perlindungan ketika posisi bangku gue yang berada di depan seolah menjadi momok mengerikan terhadap mantra-mantra pak Herman yang bikin neuron di dalam otak gue meronta-ronta. Soalnya meski coba sekeras mungkin memahami tulisan ataupun penjelasan pak Herman, yang dihasilkan oleh otak gue malah x=y x 32 = TARZAN X.. eeeehhh??? Kok bisa?

Hingga satu tempat kosong di barisan paling belakang memberi gue harapan. Dengan perlahan gue bergerak menuju ke sana ketika pandangan pak Herman lagi fokus-fokusnya ke arah papan tulis.

“Boleh gue duduk di sini bro?” tanya gue kepada salah seorang siswa yang duduk di sebelah bangku kosong itu.

“Sure...”

“Hah? cucur?” gue melongo.

30 menit sudah pak Herman menjelaskan teori dasar ilmu fisika, tetapi tidak satupun yang mampu di pahami oleh otak gue yang jenius ini (jelek dan beringus). Tapi berbeda dengan siswa cowok di sebelah gue yang kayaknya bener-bener memahami pelajaran itu. Cowok itu ngangguk-ngangguk setiap pak Herman memberi penjelasan.

“Lo kayaknya suka banget dengan mapel fisika?” kata gue.

Si doi hanya ngangguk sambil senyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis. Gue yang jadi sedikit penasaran alias kepo ini kemudian mandang ke arah segitiga sama sisi yang dibuat pak Herman di papan tulis tersebut.

“Tuh apa maksudnya bro?” tanya gue.

“Itu?” si Doi nunjuk ke arah papan tulis. “keknya pak Herman itu anggota illuminati deh. Segitiga itu sangat jelas lambang iluminati.” Jawabnya dengan penuh keyakinan yang mantap.

Gue hanya bisa nganga.

“Ni kampret kebanyakan nonton video konspirasi di Youtube kali ya?” ketus gue dalam hati.

Jam istrahat akhirnya datang juga. Bel yang berdering keras seolah menyelamatkan gue dari situasi yang mengerikan itu. Pelajaran fisika itu sejajar ama film horor Thailand, men. Gue yang daritadi ga tahu siapa nama siswa sok tahu di sebelah segera nyodorin tangan. Bro bagi duit dong....

“Nama gue Evan..”

“Robby.” sahutnya sambil menyambut tangan gue.

Ketika tangan kami bertemu, kita langsung saling jatuh cinta. Enggalah.. Entah chemistry apa yang membuat gue merasa bahwa sebentar lagi kita berdua akan menjadi teman baik. Dan ternyata benar saja pemirsa. Ketika lapar dan haus itu datang, gue segera ngerogoh saku celana gue.

“Hah?” gue ngernyit dengan tangan masih berada di dalam saku celana. Dengan seksama jari gue meraba-raba, menari-menari sampe memelintir di dalam sana. “Kok yang ada cuman biji kelereng??” gue geli.

Entah mengapa ketika uang dalam saku gue ilang, pikiran gue segera tertuju kepada kamar mandi di rumah gue. “Mampus!! tuh uang gue lupa di kamar mandi !!”

Robby yang lagi berdiri di sebelah gue keliatan banget mandang dalem seolah tahu kalau gue lagi ada masalah. “Ada apa, Van?” tanyanya.

Tiiinngg! otak gue segera memberi ide yang sama sekali jauh dari kesan edukasi. Tapi ide itu segera gue buang jauh-jauh.

“Ga kok, .... cumaaannn – “

“Cuman apa?”

Sumpah! tadinya gue ga ada niat buat minjem uang ke orang yang baru gue kenal tapi situasi lapar dan haus bener-bener di luar kuasa gue.

“Cuman anuu... aduh gimana ngomongnya ya,” gue ekting pusing.

“Lo ada masalah?”

“Ga juga sih, cuman .... aduuhh.” Ekting gue semakin dramatis. Tangan di kepala dengan bibir bergeser 2 cm ke arah selatan.

Robby langsung gelengin palanya sambil nepuk pundak gue. “Udah...udah. Gini aja.. Kita ngomonginnya di kantin, biar gue yang traktir.”

Gue membeku seketika, semudah itukah?

Ketika berada di kantin gue merasa perlu tau diri dengan apa yang akan gue pesan, soalnya gue ga enak ma si Robby ini kalo harus mesen yang mahal. Jadi ketika Mba Evi (pelayan kantin) nyamperin kita berdua buat nanya menu apa yang akan kita pesen. Gue segera berkata: “Nasi goreng spesial porsi jumbo! ayamnya, nasinya, sayur ama kuahnya (emang nasi goreng pake kuah ya?) dibanyakin yah mba,”

Kenapa? namanya juga ditraktir.

Sesaat setelah pesenan itu datang, gue langsung nyerang tu nasi goreng spesial secara membabibuta tanpa pikir panjang soal kolesterol, darah tinggi, sakit jantung dan lain sebagainya. Peduli setan! masih muda ini. Namanya juga lapar.

“Oh ya, tadi lo mau ngomong apa sih?” tanya si Robby.

Gue hampir aja keselek tulang ayam. “Oh itu.... ga apa-apa lah, biar gue selesain sendiri masalah itu, gue ga mau repotin lo.” Iya, selesain masalah lapar gue maksudnya.. hihihihihi.

Ketika selesai dengan masalah lapar, gue ma Robby buru-buru masuk kelas. Soalnya sisa-sisa kejahilan anak kelas dua dan tiga masih terasa di luar sana dan kita ga mau kembali di bully. Terlebih ketika di kantin gue dah liat tu para senior mandang kita sambil ketawa-ketawa ga jelas. Dikira kita badut kali.

AWAL KETEMU LOLITA

Kelas tampak sunyi senyap ketika gue ma Robby tiba di sana. Hanya ada satu cewek yang duduk di salah satu kursi sambil terisak lirih. Gue awalnya kira cewek itu penunggu kursi kosong kelas gue, karena gue yakin satu hal pasti tentang hal ghaib di dunia ini. SETIAP KURSI DI SEKOLAH, PASTI ADA MEJANYA. Kok jadi ga nyambung ya?

Suara tangis tu cewek semakin nyaring, ga membahana sih tapi kesan kesedihannya kerasa banget kek ayam lalapan. Sampe-sampe gue yang berhati malaikat ini berpikir untuk samperin tuh cewek buat nanya apa yang buat nangis. Tapi tiba-tiba gue ingat pada tabiat masyarakat modern yang akan nganggap kita kepo ketika ingin menunjukan rasa peduli itu. Hingga akhirnya gue milih diam aja, biarin tuh cewek nangis-nangis ga jelas.

Sampai pada titik nadir rasa toleransi itu, gue segera mandang ke arah Robby yang lagi make headset (kepala ngatur) untuk lindungin telinganya dari suara tangisan si cewek.

“Bener-bener nih! Ga punya rasa toleransi banget!” kata gue dalem hati lalu kemudian negur si Doi. “Rob!”

“Apa?” tanyanya.

“Pinjem headset lo dong.”

Gue juga dah ga tahan denger suara cempreng tu cewek.

Suara cempreng si cewek semakin menjadi-jadi, bahkan sampe membuat kaca sebelahnya pecah berserakan. Ternyata pecahnya jendela itu perbuatan anak sekolah lain waktu tawuran. Hingga akhirnya gue narik nafas dalam sambil bangkit dari duduk gue untuk berjalan mendekat ke arah tuh cewek.

“Napa lo nangis?” tanya gue, sedikit ragu-ragu.

Si cewek segera noleh ke arah gue. Matanya bengkak kayak abis diemutin tawon. “Kepo loh!” juteknya. Makasih rambo! gue gelengin kepala sambil balik badan berjalan kembali ke meja gue.

“Maaf ... maafin gue,” kata tuh cewek lagi.

Gue hanya ngangguk tanpa ngomong apa-apa.

“Gue abis diputusin cowok gue,” katanya lagi.

Emang gue ripikin...

Entah mengapa sejak pertama masuk kelas dan liat tu cewek nangis, gue dah tahu kalau yang kemungkinan besar buat dia nangis hanya tiga hal. Pertama: Diputusin cowoknya, kedua: maskaranya ilang dan ketiga: maskaranya ternyata ketelen.

“Selama pacar lo tuh bukan Brad pitt, Jhonny Depp atau Le min Ho, lo ga usah pusingin.” Gue nyahut santai.

Berkat ucapan gue tangis si cewek semakin menjadi-jadi. Isakan cemprengnya terdengar ampe monas.

“E e ehh .. lo kok nangisnya makin ganas??” gue panik.

Si cewek kemudian ngotak-ngatik hpnya beberapa saat sebelum tunjukin ke gue salah satu gambar cowok yang terpampang di layar hp itu.

Gue ngernyit. “Lo fans ama brad pit ya?”

Si cewek menggeleng sedih. “Itu bukan Brad pitt! itu cowok gue, namanya Andre!”

Oh iam God! Astagfirullah #ralat .. oh my God!!! Tu manusia mirip banget ama Brad Pitt. tuh manusia kloning kali ya?

“Pantes aja lo nangis-nangis kayak abis kena tilang.”

Si cewek kembali nangis. Kali ini masalah jadi runyam ketika beberapa siswa lain yang lewat depan kelas pada ngintip ke arah si cewek dengan gue yang sedang berada di dekatnya. Bisa-bisa terjadi fitnah; gue yang dikira buat dia nangis.

“Gini ... gini,” gue coba nenangin si cewek sambil nepuk belakang kepala dia dengan pelan. Rencana awal bikin dia pingsan supaya nangisnya ilang.

“ Nama lo siapa?”

Si cewek ngomong tersedu-sedu. “Lo ... Lo ......”

“Lo?”

“Lo ... Lii,”

Gue ngernyit. “Lo apa? Lolipop? Nama lo udah kayak permen aja,”

“Lolita, kampret!” ketusnya.

“Oh Lolita..” gue ngangguk sambil berpindah ke bangku yang saling berhadapan dengan bangku dia. “Gini Lol, lo tau apa yang orang-orang dewasa di luar sana nyebut generasi kita saat ini?”

“Labil,” jawab si Lolita.

“Cakep!” gue jempolin ke lubang idungnya. “Lo tau ga kalau sebenarnya apa yang kita jalani saat ini adalah proses pendewasaan? Lo tau ga kalau nangis hanya karena diputusin cowok adalah hal terbodoh yang pernah dilakukan cewek? Lo harusnya nunjukin kebesaran hati lo supaya orang-orang di luar ga remehin lo!” Gue ngomong seenak jidat.

Namun entah mengapa berkat ocehan ga jelas, mengada-ada dan sok dramatis gue itu senyum di bibir Lolita segera merekah lebar kek lapangan bola. “Makasih ya. Lo emang bener, harusnya gue ga perlu nangis hanya karena tuh cowok brengsek..” ujarnya.

Kalau mau jujur tangisan Lolita sebenarnya wajar-wajar aja sih, apalagi cowok yang mutusin dia secakep itu. Kok gue jadi kayak homo gini ya?

“Eh btw nama lo siapa?” tanya Lolita.

“Gue – “ belum selesai nyebutin nama tiba-tiba dari arah belakang tangan si Robby nyelonong aja kayak copet. “ Gue Robby,”

Gue dan Lolita nganga sambil mandang satu sama lain.

“Ini nih yang namanya kepo!” kalimat itu terdengar serempak yang diikuti tawa hangat yang menandai awal persahabatan kami bertiga.

Itulah awal mula pertemanan kami. Dan ketika gue ingat kembali masa-masa bersama kedua orang itu. Gue akhirnya nyadar kalau persahabatan dapat bermula dari hal-hal sederhana namun tidak jarang menciptakan suasana yang luar biasa di dalam kenangan. Gue selalu ingat cerita-cerita hebat tentang persahabatan banyak orang di luar sana. Namun gue selalu bangga dengan cerita persahabatan gue sendiri bersama dua orang yang selalu bersama gue dalam keadaan apapun dan yang selalu menerima kekurangan gue dengan tersenyum.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CODE: FAUST
7.9
Bumi menjadi neraka sejak 2028 akibat virus misterius yang mengubah makhluk hidup menjadi mutan mengerikan. Di tengah reruntuhan peradaban tahun 2036, faksi-faksi seperti The Government dan Black Beast saling berebut kuasa. Di dunia yang kejam ini, Dr. Plague, seorang profesor dengan masa lalu kelam, berjuang mengembalikan kedamaian demi menebus dosanya. Namun, ia harus menghadapi perang saudara dan radiasi sambil mengungkap misteri besar di balik wabah yang menghancurkan dunia.
Sampul Novel Di Balik Topeng Bodyguard
9.1
Alice hamil anak Leo, bodyguard yang dianggap rendah oleh ayahnya. Meski ditentang, mereka menikah hingga Alice menyadari sifat asli Leo yang keji. Di tengah penderitaan, Alice mencurigai ibu tirinya, Deborah, sebagai pembunuh ibunya. Dibantu bodyguard lain bernama Deny, Alice berjuang mengungkap kebenaran kelam ini. Di balik misi tersebut, identitas asli Deny dan rahasia cinta masa lalu mulai terkuak. Akankah Alice berhasil membongkar topeng mereka?
Sampul Novel Diawali Dengan Penceraian
8.2
Setelah diusir dari Keluarga Wilton, Gerald harus menjalani hidup penuh kemiskinan selama lima belas tahun. Nasibnya kian terpuruk saat ia dicap sebagai menantu tidak berguna dan diceraikan oleh Clarisa setelah dua tahun mereka membina rumah tangga. Namun, siapa sangka bahwa perpisahan pahit tersebut justru menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Inilah awal dari babak baru perjalanan Gerald yang penuh kejutan setelah statusnya sebagai suami berakhir.
Sampul Novel Keturunan Terakhir!
9.5
Zha, ketua mafia Legion Of Death yang dijuluki Gadis Pecinta Asap, berambisi memburu keturunan terakhir Klan Jangkar Perak demi membalas dendam kematian ayahnya. Pencariannya hanya berbekal petunjuk tato jangkar misterius. Namun, sebuah insiden peluru mengungkap keberadaan chip manipulasi yang tertanam di tubuhnya sejak bayi. Saat chip itu diangkat, tato jangkar justru muncul di kulit Zha sendiri. Siapakah pewaris sejati yang ia cari? Zha kini harus menghadapi kenyataan pahit.
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Stenly Sebastian Miller hancur saat Kimberly memutuskan hubungan dua tahun mereka akibat isu kebangkrutan. Bertekad bangkit, Stenly bersumpah mencari pengganti yang lebih baik. Di tengah luka, ia menyelamatkan Seruni dari serangan Dante yang obsesif. Meski berakhir babak belur demi melindungi Seruni, insiden ini justru memicu ketertarikan Stenly padanya. Kini ia harus memilih: terus meratapi masa lalu atau memulai lembaran baru yang bahagia bersama Seruni.
Sampul Novel Mafia in The Morning
9.3
Pasca kontrak kerja berakhir, Mayumi menjadi relawan di acara Jepang demi bertemu idolanya, Mamoru V. Keberuntungan berpihak padanya saat ia terpilih menjadi LO sang cosplayer. Namun, perjalanan menuju studio foto berubah mencekam ketika sekelompok orang bersenjata menyerang mereka. Saat terjebak di gedung tua dalam aksi kejar-kejaran maut, Mayumi terkejut melihat Mamoru mengeluarkan pistol asli. Ternyata, sosok sang idola menyimpan rahasia gelap yang berbahaya.